Balairungpress
  • REDAKSI
    • KILAS
    • ALMAMATER
    • LAPORAN UTAMA
    • APRESIASI
    • INSAN WAWASAN
  • NALAR
    • WAWASAN
    • KAJIAN
  • REHAT
    • ARSIP
    • BUKU
    • FILM
    • OPINI
    • SASTRA
  • BINGKAI
    • ANALEKTA
    • INFOGRAFIS
    • KOMIK
    • PERISTIWA
    • SKETSA
  • PIPMI
    • Direktori
    • Suplemen
    • PUBLIKASI
  • ENEN
  • IDID
Newest post
Diskusi Buku “Pembangunan Untuk Siapa? Kisah Perempuan di...
LPM Himmah UII Ungkap Ketimpangan Pendidikan Dasar di...
Diskusi Perempuan Adat Kritik Jerat Paksaan Industri Ekstraktif
Muat Candaan Seksis, Buku Gadjah Mada Bercanda Karya...
Tilik Relasi Kolonial di Papua dalam Diskusi Papua...
Diskusi Pendidikan dan Demokrasi, Ungkap Gagalnya Pendidikan dalam...
Kota Batik yang Tenggelam
Titah AW: Jurnalisme Bisa Jadi Kanal Pengetahuan Lokal
Membumikan Ilmu Bumi
Kuasa Kolonial Atas Pangan Lokal

Balairungpress

  • REDAKSI
    • KILAS
    • ALMAMATER
    • LAPORAN UTAMA
    • APRESIASI
    • INSAN WAWASAN
  • NALAR
    • WAWASAN
    • KAJIAN
  • REHAT
    • ARSIP
    • BUKU
    • FILM
    • OPINI
    • SASTRA
  • BINGKAI
    • ANALEKTA
    • INFOGRAFIS
    • KOMIK
    • PERISTIWA
    • SKETSA
  • PIPMI
    • Direktori
    • Suplemen
    • PUBLIKASI
  • ENEN
  • IDID
KILAS

Aksi Mahasiswa Menuntut ‘Revolusi Pendidikan’

Mei 3, 2016
©Faisal.bal

©Faisal.bal

Senin siang (2/5) ribuan mahasiswa UGM dari berbagai fakultas berkumpul di halaman gedung pusat. Sejak pukul 10.00 WIB, massa aksi menyerukan yel-yel dan menyanyikan lagu perjuangan mahasiswa. Sedangkan di saat yang sama, dalam aula sedang dilakukan negosiasi antara pihak rektorat dengan perwakilan mahasiswa.

Beberapa mahasiswa langsung naik ke beranda lantai 2 dan mencabut atribut sisa upacara Hari Pendidikan Nasional (Hardiknas) yang bertuliskan ‘Ayo Kerja, Inovatif dan Kompetitif’. Spanduk tersebut kemudian digantikan dengan buatan mahasiswa yang bertuliskan ‘Revolusi Pendidikan’ dan beberapa spanduk lain berisi tuntutan atas berbagai masalah yang sedang hangat di lingkup UGM. Serentak massa berteriak riuh. Peristiwa tersebut diiringi dengan lagu Indonesia Raya sembari menurunkan bendera merah putih hingga setengah tiang.

Syahdan Husein mahasiswa Sastra Indonesia ’15 mengatakan bahwa hal tersebut merupakan keseriusan aksi mahasiswa kali ini. Perihal ‘Revolusi Pendidikan’, ia menambahkan bahwa aksi yang bertepatan dengan Hardiknas merupakan upaya mengingatkan kembali makna pendidikan saat ini.  “Pendidikan merupakan hal vital yang harusnya dapat diakses oleh seluruh masyarakat”, kalimat revolusi pendidikan perlu digaungkan agar ke depannya akses pendidikan lancar. Karena akses pendidikan merupakan hak seluruh masyarakat yang berdasar pada pembukaan UUD 1945 tentang mencerdaskan kehidupan bangsa.

Berkaitan dengan kalimat revolusi pendidikan yang ditulis di spanduk berukuran 8mx10m, salah satu mahasiswi D3 Teknik Sipil ’15 mengatakan bahwa ‘Revolusi Pendidikan’ merupakan keharusan untuk membela seluruh masyarat yang ingin mendapatkan pendidikan dengan mudah dan murah. “Pendidikan dan ilmu baru dapat kami peroleh lebih lanjut di jenjang yang lebih tinggi setelah wajib belajar 12 tahu yang telah dicanangkan oleh pemerintah”,  ungkapnya. Selain itu ia juga menambahkan bahwa revolusi pendidikan juga berkaitan dengan penyaluran dana pendidikan yang harusnya berkeadilan. Selain itu, istilah revolusi pendidikan merupakan akumulasi dari masalah yang timbul di UGM, sehingga sistem pendidikan harus diubah menuju arah yang lebih baik. “Harusnya pendidikan bisa didapatkan dimana saja tanpa membayar terlalu mahal”, timpal Adam Adiwijaya salah satu mahasiswa Ilmu Sejarah ’12.

Hingga sekitar pukul 13.00 negosiasi masih berjalan alot. Meskipun siang yang terik, teriakan massa terus bergema. Beberapa mahasiswa hampir memenuhi beranda lantai dua gedung pusat, rektor memilih untuk mengulur waktu untuk bertemu dengan massa. [Khumairoh]

#PestaRakyatBonbinmahasiswarektortukinugmukt
0
Facebook Twitter Google + Pinterest

Artikel Lainnya

Diskusi Buku “Pembangunan Untuk Siapa? Kisah Perempuan di...

LPM Himmah UII Ungkap Ketimpangan Pendidikan Dasar di...

Diskusi Perempuan Adat Kritik Jerat Paksaan Industri Ekstraktif

Muat Candaan Seksis, Buku Gadjah Mada Bercanda Karya...

Tilik Relasi Kolonial di Papua dalam Diskusi Papua...

Diskusi Pendidikan dan Demokrasi, Ungkap Gagalnya Pendidikan dalam...

Berikan Komentar Batal Membalas

Situs ini menggunakan Akismet untuk mengurangi spam. Pelajari bagaimana data komentar Anda diproses.

Pos Terbaru

  • Diskusi Buku “Pembangunan Untuk Siapa? Kisah Perempuan di Kampung Kami” Soroti Dampak Pembangunan Bagi Ruang Hidup Perempuan

    Desember 25, 2025
  • LPM Himmah UII Ungkap Ketimpangan Pendidikan Dasar di DIY melalui Pameran “Melihat Sekolahku”

    Desember 18, 2025
  • Diskusi Perempuan Adat Kritik Jerat Paksaan Industri Ekstraktif

    Desember 10, 2025
  • Muat Candaan Seksis, Buku Gadjah Mada Bercanda Karya Heri Santoso Tuai Kritik Mahasiswa

    Desember 5, 2025
  • Tilik Relasi Kolonial di Papua dalam Diskusi Papua Bukan Tanah Kosong

    November 24, 2025

Jurnal Balairung Vol. 2 No. 2 (2020)

Infografis

Moral Tanpa Tuhan

Sampah Kota Ditopang Swadaya Warga

Berebut Gunungkidul

Yu Par, Legenda Kantin bonbin

Menyambut Coming Out Age dengan Berubah Menjadi Panda

Hubungi Kami

Facebook Twitter Instagram Pinterest

Ads

Footer Logo
  • TENTANG KAMI
  • PEDOMAN MEDIA SIBER
  • AWAK
  • KONTAK
  • KONTRIBUSI

©2022 BPPM BALAIRUNG UGM