Balairungpress
  • REDAKSI
    • KILAS
    • ALMAMATER
    • LAPORAN UTAMA
    • APRESIASI
    • INSAN WAWASAN
  • NALAR
    • WAWASAN
    • KAJIAN
  • REHAT
    • ARSIP
    • BUKU
    • FILM
    • OPINI
    • SASTRA
  • BINGKAI
    • ANALEKTA
    • INFOGRAFIS
    • KOMIK
    • PERISTIWA
    • SKETSA
  • PIPMI
    • Direktori
    • Suplemen
    • PUBLIKASI
  • ENEN
  • IDID
Newest post
Diskusi Buku “Pembangunan Untuk Siapa? Kisah Perempuan di...
LPM Himmah UII Ungkap Ketimpangan Pendidikan Dasar di...
Diskusi Perempuan Adat Kritik Jerat Paksaan Industri Ekstraktif
Muat Candaan Seksis, Buku Gadjah Mada Bercanda Karya...
Tilik Relasi Kolonial di Papua dalam Diskusi Papua...
Diskusi Pendidikan dan Demokrasi, Ungkap Gagalnya Pendidikan dalam...
Kota Batik yang Tenggelam
Titah AW: Jurnalisme Bisa Jadi Kanal Pengetahuan Lokal
Membumikan Ilmu Bumi
Kuasa Kolonial Atas Pangan Lokal

Balairungpress

  • REDAKSI
    • KILAS
    • ALMAMATER
    • LAPORAN UTAMA
    • APRESIASI
    • INSAN WAWASAN
  • NALAR
    • WAWASAN
    • KAJIAN
  • REHAT
    • ARSIP
    • BUKU
    • FILM
    • OPINI
    • SASTRA
  • BINGKAI
    • ANALEKTA
    • INFOGRAFIS
    • KOMIK
    • PERISTIWA
    • SKETSA
  • PIPMI
    • Direktori
    • Suplemen
    • PUBLIKASI
  • ENEN
  • IDID
KABARKILAS

Membedah Ihwal Pers Mahasiswa

Mei 13, 2013
jojo.bal

jojo.bal

“Setelah tahun 1998, hampir tidak ada  terbitan yang membahas perkembangan pers mahasiswa,” ujar Wisnu Prasetya Utomo membuka diskusi bedah bukunya yang berjudul “Pers Mahasiswa Melawan Komersialisasi Pendidikan” yang diterbitkan Maret 2013 lalu. Diskusi yang diadakan BPPM Balairung pada Jumat, (10/5)  di Ruang Sidang III, Gelanggang Mahasiswa UGM itu juga menghadirkan Pimpinan Redaksi (Pimred) Majalah Kagama, Syaifa Auliya Achidsti dan Pimred BPPM Balairung, Ibnu Hajjar.

Lewat bukunya, Wisnu berusaha menyoroti fenomena tenggelamnya pengaruh pers mahasiswa (persma). Dia menjelaskan, setelah runtuhnya rezim Orde Baru, persma mengalami titik balik. Kemampuannya menjadi substitusi media profesional terkalahkan akibat keterbukaan reformasi. Persma lantas melakukan re-orientasi melalui gagasan kembali ke kampus. Berita yang disajikan persma menjadi tidak semenarik dulu karena lebih banyak membahas mengenai dunia mahasiswa. Masalah seperti penataan infrastruktur atau biaya kuliah yang meninggi  menjadi tema favorit. “Ini sebabnya topik mengenai persma seakan menjadi isu pinggiran dan literaturnya kurang sekali,” tandasnya.

Dalam bukunya, Wisnu meneliti tiga persma yang menurutnya memiliki karakter berbeda. Pertama adalah BPPM Balairung UGM, dimana ia sempat menjadi pimred tahun 2009-2010. Kedua adalah Suara USU, persma tertua di Medan. Terakhir adalah Catatan Kaki Unhas, yang terkenal dengan jurnalisme meledak-ledaknya. “Bagi mereka, Sebuah berita harus menunjukkan keberpihakannya. Cover both sides is dead,” ujar Wisnu menjelaskan. “Mereka juga lebih sering turun ke jalan melakukan aksi protes daripada membuat tulisan,” tambahnya.

Di Yogyakarta, pola yang terlihat adalah lebih mengutamakan kekuatan tulisan sebagai penunjang gerakan advokasi. Hal ini terlihat dari penggunaan judul ataupun bentuk tulisan yang menekankan urgensi masalah yang harus dilawan. Sedangkan di Suara USU, yang terjadi adalah munculnya jurnalisme mulut sebagai sikap netral. Seperti pada masalah perubahan status perguruan tinggi ke BHMN. “Akibat kurangnya akses informasi, mereka kebingungan mengambil sikap atas masalah itu. Jurnalisme mulut lantas digunakan sebagai cara untuk membentuk opini masyarakat,” ungkap Wisnu.

Berbeda dengan Wisnu, Syaifa lebih mengkritisi natur persma yang tidak akan bisa independen. “Bagaimana mau independen kalau sumber dana masih berasal dari rektorat. Pemberitaan akan rentan terpengaruh kepentingan-kepentingan,” jelasnya. Banyak persma terpaksa mengubah bentuk beritanya demi menjaga aliran dana rektorat.

Ia juga menyoroti radikalisme persma yang menurun setelah reformasi. Hal itu tidak semata disebabkan perubahan orientasi. Menurutnya, hal itu juga diakibatkan dominasi mahasiswa berkarakter intelektual. “Orang-orang tersebut kemudian mengubah bentuk berita persma menjadi jurnalisme wacana,” tegas Syaifa.

Syaifa juga menuturkan keadaan persma di Indonesia sebenarnya tidak jauh berbeda dengan negara lain seperti Amerika, Italia, dan Jerman. “Di sana, persma menjadi bagian dari gerakan mahasiswa yang sangat mempengaruhi kehidupan sosial-politik negaranya,” ujarnya. Persma menjadi corong bagi gerakan-gerakan mahasiswa.

Pembicara terakhir, Ibnu, menyoroti ketidakcocokan logika pers profesional jika diterapkan dalam persma. Kewajiban ganda yang dimiliki pegiat persma adalah penghalang terbesar. Awak-awak persma yang seluruhnya mahasiswa membuat konsentrasi terbagi-bagi. Menurutnya,“Pers profesional dapat berjalan ya karena jual berita. Beda dengan persma yang tidak berorientasi komersil.”

Karena keterbatasan itu, persma menjadi lebih menyoroti masalah seputar kampusnya. Menurut Ibnu, ada tiga wacana utama yang sering disorot. “Yang pertama adalah mengenai centang perenang perkuliahan, kedua adalah masalah politik pergerakan mahasiswa, dan  terakhir mengenai infrastruktur kampus,” tutup Ibnu. [Yoga Darmawan]

mahasiswamahasiswa UGMOrde Baruperspers mahasiswareformasiugm
0
Facebook Twitter Google + Pinterest

Artikel Lainnya

Diskusi Buku “Pembangunan Untuk Siapa? Kisah Perempuan di...

LPM Himmah UII Ungkap Ketimpangan Pendidikan Dasar di...

Diskusi Perempuan Adat Kritik Jerat Paksaan Industri Ekstraktif

Muat Candaan Seksis, Buku Gadjah Mada Bercanda Karya...

Tilik Relasi Kolonial di Papua dalam Diskusi Papua...

Diskusi Pendidikan dan Demokrasi, Ungkap Gagalnya Pendidikan dalam...

Berikan Komentar Batal Membalas

Situs ini menggunakan Akismet untuk mengurangi spam. Pelajari bagaimana data komentar Anda diproses.

Pos Terbaru

  • Diskusi Buku “Pembangunan Untuk Siapa? Kisah Perempuan di Kampung Kami” Soroti Dampak Pembangunan Bagi Ruang Hidup Perempuan

    Desember 25, 2025
  • LPM Himmah UII Ungkap Ketimpangan Pendidikan Dasar di DIY melalui Pameran “Melihat Sekolahku”

    Desember 18, 2025
  • Diskusi Perempuan Adat Kritik Jerat Paksaan Industri Ekstraktif

    Desember 10, 2025
  • Muat Candaan Seksis, Buku Gadjah Mada Bercanda Karya Heri Santoso Tuai Kritik Mahasiswa

    Desember 5, 2025
  • Tilik Relasi Kolonial di Papua dalam Diskusi Papua Bukan Tanah Kosong

    November 24, 2025

Jurnal Balairung Vol. 2 No. 2 (2020)

Infografis

Moral Tanpa Tuhan

Sampah Kota Ditopang Swadaya Warga

Berebut Gunungkidul

Yu Par, Legenda Kantin bonbin

Menyambut Coming Out Age dengan Berubah Menjadi Panda

Hubungi Kami

Facebook Twitter Instagram Pinterest

Ads

Footer Logo
  • TENTANG KAMI
  • PEDOMAN MEDIA SIBER
  • AWAK
  • KONTAK
  • KONTRIBUSI

©2022 BPPM BALAIRUNG UGM