
©Chuzaima/Bal
Pada Senin (15-12), Lembaga Pers Mahasiswa (LPM) Himmah melangsungkan pembukaan pameran fotografi jurnalistik bertajuk “Melihat Sekolahku”. Digelar di Universitas Islam Indonesia (UII), Yogyakarta, pameran ini berlangsung pada 15–19 Desember 2025. Pameran ini dibuka dengan penampilan teater yang mempertanyakan kesetaraan pendidikan di Daerah Istimewa Yogyakarta (DIY) dan predikat “Kota Pendidikan” yang disandangnya. Sementara itu, foto yang dipamerkan menampilkan ketimpangan pendidikan di Yogyakarta, khususnya Sekolah Dasar (SD) yang kerap luput dari sorotan publik.
Menurut Abraham Kindi, ketua panitia pameran, objek pendidikan dasar dipilih karena termasuk fase krusial bagi perkembangan anak. Ia menambahkan bahwa pada jenjang ini anak bisa membaca, menghitung, dan membaca dunia untuk pertama kalinya. Di samping itu, bagi Agil Hafiz, penanggung jawab acara, predikat DIY sebagai “Kota Pendidikan” justru lebih sering dilekatkan pada perguruan tinggi dan geliat kehidupan mahasiswa. Padahal menurutnya, pendidikan tidak hanya soal kampus-kampus besar yang berdiri di pusat kota. “Kita mencoba [memberikan-red] sudut pandang lain dari kota pendidikan,” ujarnya.
Kindi mengatakan tim pameran LPM Himmah mendokumentasikan lima sekolah dasar yang tersebar di DIY beserta pesan yang ingin ditonjolkan di setiap fotonya. Kindi menjelaskan terdapat foto SDN Gunung Agung yang memuat kendala akses akibat jalan di tengah hutan yang sulit dilalui, terutama saat turun hujan. Selain itu, terdapat foto SDN Ngenep yang memperlihatkan interaksi intens antara murid dengan lingkungan pasar sekitar. Berlawanan dengan SDN Gunung Agung dan SDN Ngenep, ada pula foto SDN Sosrowijayan yang memperlihatkan potret pendidikan di pusat kota dengan fasilitas lengkap dan memadai. “Beginilah realita di Yogyakarta. Ada kesenjangan yang terjadi di sini,” imbuh Kindi.
Kindi turut memaparkan temuan di lapangan mengenai penggusuran SDN Nglarang. Lewat foto poster demonstrasi penggusuran, ia menjelaskan warga sekolah kini terjebak birokrasi yang mempersulit pembangunan ulang SDN Nglarang. Ia menambahkan, praktik ini menggantungkan nasib murid-murid SDN Nglarang yang seharusnya mendapatkan fasilitas pendidikan pasti. Selain foto penggusuran SDN Nglarang, terdapat pula foto SDN Jatimulyo yang memperlihatkan kondisi fasilitas pendidikan yang tidak layak. “Di SDN Jatimulyo itu sekolahnya terbengkalai dan banyak langit bolong, total dari seluruh sekolah itu ada lima siswa dan ada dua guru,” terangnya.
Meski begitu, Agil mengungkapkan bahwa kondisi sekolah yang serba terbatas tersebut mau tidak mau menjadi bagian dari keseharian yang tak diambil pusing. Hal serupa juga dijelaskan oleh Kindi dengan menyoroti adanya harapan polos yang masih terpancar dari para siswa. Realita ini turut diamini salah satu pengunjung pameran, Angga, yang mengaku tidak terlalu terkejut karena memiliki pengalaman serupa saat bersekolah dasar di desanya. “Memang seperti itulah di desa, akses mau ngapa-ngapain juga susah,” ujarnya.
Selain foto-foto mengenai ketimpangan akses dan fasilitas, pameran ini turut memuat foto distribusi Makan Bergizi Gratis (MBG) yang masih timpang. Tim liputan LPM Himmah mengungkapkan bahwa dari lima sekolah yang didokumentasikan, hanya dua yang telah mendapatkan MBG, yakni SDN Sosrowijayan dan SDN Nglarang. Kita tidak menyalahkan apa-apa, kita hanya menampilkan [realita pendidikan-red],” pungkas Kindi.
Penulis: Chuzaima B.
Penyunting: Falinkha Varally
Fotografer: Chuzaima B.