Balairungpress
  • REDAKSI
    • KILAS
    • ALMAMATER
    • LAPORAN UTAMA
    • APRESIASI
    • INSAN WAWASAN
  • NALAR
    • WAWASAN
    • KAJIAN
  • REHAT
    • ARSIP
    • BUKU
    • FILM
    • OPINI
    • SASTRA
  • BINGKAI
    • ANALEKTA
    • INFOGRAFIS
    • KOMIK
    • PERISTIWA
    • SKETSA
  • PIPMI
    • Direktori
    • Suplemen
    • PUBLIKASI
  • ENEN
  • IDID
Newest post
Diskusi Buku “Pembangunan Untuk Siapa? Kisah Perempuan di...
LPM Himmah UII Ungkap Ketimpangan Pendidikan Dasar di...
Diskusi Perempuan Adat Kritik Jerat Paksaan Industri Ekstraktif
Muat Candaan Seksis, Buku Gadjah Mada Bercanda Karya...
Tilik Relasi Kolonial di Papua dalam Diskusi Papua...
Diskusi Pendidikan dan Demokrasi, Ungkap Gagalnya Pendidikan dalam...
Kota Batik yang Tenggelam
Titah AW: Jurnalisme Bisa Jadi Kanal Pengetahuan Lokal
Membumikan Ilmu Bumi
Kuasa Kolonial Atas Pangan Lokal

Balairungpress

  • REDAKSI
    • KILAS
    • ALMAMATER
    • LAPORAN UTAMA
    • APRESIASI
    • INSAN WAWASAN
  • NALAR
    • WAWASAN
    • KAJIAN
  • REHAT
    • ARSIP
    • BUKU
    • FILM
    • OPINI
    • SASTRA
  • BINGKAI
    • ANALEKTA
    • INFOGRAFIS
    • KOMIK
    • PERISTIWA
    • SKETSA
  • PIPMI
    • Direktori
    • Suplemen
    • PUBLIKASI
  • ENEN
  • IDID
KABARKILASREDAKSI

Solusi Atas Permasalahan Sistem Kandang Baterai

Januari 30, 2021

©Aris/Bal

Mayoritas peternakan ayam di Indonesia masih menggunakan sistem kandang baterai. Secara langsung, hal tersebut berpengaruh terhadap kesehatan konsumen. Menanggapi hal tersebut, Animal Friends Jogja (AFJ) menyelenggarakan webinar bertajuk “Kekejaman terhadap Satwa: Apa dan Bagaimana Kita Menghentikannya?” pada Kamis (27-1). Webinar ini mengangkat topik mengenai sistem peternakan ayam yang selaras dengan kesejahteraan ayam. Dalam webinar tersebut, hadir tiga pembicara, yaitu Among Prakoso, Aktivis Hak Asasi Manusia dan Hewan; Angelina Pane, Manajer Program AFJ; dan Elly Mangusong, Koordinator Corporate Outreach AFJ. 

Among mengatakan bahwa kandang baterai mengharuskan ayam untuk hidup selama dua tahun dalam jeruji besi sebesar kertas A4. Ayam tidak diberi kebebasan alamiah untuk bertengger, mandi debu, mengais makanan, dan mengepakkan sayapnya. Akibatnya, kondisi ayam yang dibesarkan dalam kandang baterai cenderung tidak sehat. 

Sebagaimana diungkapkan oleh Among, ayam yang hidup di dalam kandang baterai lebih mudah mengalami stres. Intensitas stres di dalam kandang baterai cukup tinggi, terlebih jika tercipta dominansi ayam berupa mematuk ayam lain karena ayam yang sebagai korban tidak bisa menyelamatkan diri. “Stres yang dialami ayam juga terjadi karena ayam tidak dapat melakukan tingkah laku alamiahnya dengan bebas,” terang Among.

Menurut Among, kondisi stres yang dialami oleh ayam dapat menyebabkan menurunnya imun tubuh ayam. Akibatnya, peternak ayam yang menggunakan kandang baterai sering kali memberikan antibiotik pada ayam untuk mencegah ayam terserang penyakit. “Antibiotik yang diberikan kepada ayam dalam dosis besar akan meninggalkan residu antibiotik dalam daging dan telur ayam,” jelas Among.

Among menjelaskan bahwa residu antibiotik dalam daging dan telur ayam yang dikonsumsi manusia akan menyebabkan bakteri dalam tubuh manusia resisten terhadap antibiotik tersebut. Hal ini berdampak pada kebutuhan antibiotik yang melebihi standar apabila terserang penyakit akibat bakteri yang telah resisten. “Ini dapat menjadi sumber penyakit yang dialami manusia,” ucap Among. 

Untuk menanggapi berbagai permasalahan terkait kandang baterai, menurut Among, kandang bebas kerangkeng bisa menjadi alternatif. Menurutnya, sistem kandang bebas kerangkeng lebih baik dibandingkan kandang baterai. Sebab, sistem kandang bebas kerangkeng memungkinkan pergerakan ayam menjadi lebih bebas. Among meyakini bahwa ayam yang dipelihara menggunakan sistem kandang bebas kerangkeng akan terlihat lebih sehat. Ia juga sempat menunjukkan tayangan kondisi ayam yang dipelihara menggunakan sistem kandang bebas kerangkeng. “Ayam tersebut memiliki bulu, warna jengger, serta aktivitas fisik yang baik sehingga terlihat sangat sehat,” ujar Among.

Meskipun demikian, Among mengatakan bahwa mayoritas peternak ayam di Indonesia tidak memiliki pengetahuan yang cukup mengenai metode pemeliharaan ayam selain menggunakan kandang baterai. Hal inilah yang menyebabkan sistem kandang bebas kerangkeng masih jarang digunakan oleh peternak di Indonesia. “Perlu adanya edukasi agar peternak mau mengubah sistem mereka,” jelas Among. 

Senada dengan Among, Elly juga mengatakan perlunya edukasi dan dorongan kepada masyarakat umum, khususnya peternak mengenai kandang bebas kerangkeng. Elly kemudian menyebut beberapa bentuk edukasi dan dorongan yang bisa dilakukan. Pertama, antara lain dorongan untuk bertanya mengenai asal peternakan ayam dan telur kepada restoran yang dikunjungi. Kedua, menandatangani petisi mengenai kandang bebas kerangkeng. Ketiga, mengonsumsi daging dan telur ayam dari peternakan bebas kandang baterai. “Selain masyarakat, perusahaan waralaba yang bergerak di bidang kuliner juga harus berkomitmen untuk menggunakan daging dan telur ayam dari peternakan bebas kerangkeng,” tambah Elly.

Hal senada juga disampaikan oleh Angeline. Ia mengatakan bahwa perusahaan waralaba dapat mendorong peternak ayam untuk beralih menggunakan sistem kandang bebas kerangkeng. Angeline menyebutkan bahwa saat ini sudah ada perusahaan yang menggunakan jasa peternakan bebas kerangkeng, antara lain, Burger King, Cokelat Monggo, Kebun Roti, dan Mediterranea. Menurutnya, ketika mereka telah berkomitmen untuk tidak menggunakan lagi telur-telur dari peternakan kandang baterai, maka peternak akan mengikuti keinginan perusahaan. “Ini akan berdampak besar untuk kesejahteraan ayam terutama ayam petelur, yang tentunya dapat memengaruhi kesejahteraan konsumen pula,” jelas Angeline. 

Penulis: Endah Anifatusshalikhah dan Jacinda Nuurun Addunyaa
Penyunting: Bangkit Adhi Wiguna
Fotografer: Dian Aris Munandar

industri peternakankandang bateraikesejahteraan hewan
4
Facebook Twitter Google + Pinterest

Artikel Lainnya

Diskusi Buku “Pembangunan Untuk Siapa? Kisah Perempuan di...

LPM Himmah UII Ungkap Ketimpangan Pendidikan Dasar di...

Diskusi Perempuan Adat Kritik Jerat Paksaan Industri Ekstraktif

Muat Candaan Seksis, Buku Gadjah Mada Bercanda Karya...

Tilik Relasi Kolonial di Papua dalam Diskusi Papua...

Diskusi Pendidikan dan Demokrasi, Ungkap Gagalnya Pendidikan dalam...

Berikan Komentar Batal Membalas

Situs ini menggunakan Akismet untuk mengurangi spam. Pelajari bagaimana data komentar Anda diproses.

Pos Terbaru

  • Diskusi Buku “Pembangunan Untuk Siapa? Kisah Perempuan di Kampung Kami” Soroti Dampak Pembangunan Bagi Ruang Hidup Perempuan

    Desember 25, 2025
  • LPM Himmah UII Ungkap Ketimpangan Pendidikan Dasar di DIY melalui Pameran “Melihat Sekolahku”

    Desember 18, 2025
  • Diskusi Perempuan Adat Kritik Jerat Paksaan Industri Ekstraktif

    Desember 10, 2025
  • Muat Candaan Seksis, Buku Gadjah Mada Bercanda Karya Heri Santoso Tuai Kritik Mahasiswa

    Desember 5, 2025
  • Tilik Relasi Kolonial di Papua dalam Diskusi Papua Bukan Tanah Kosong

    November 24, 2025

Jurnal Balairung Vol. 2 No. 2 (2020)

Infografis

Moral Tanpa Tuhan

Sampah Kota Ditopang Swadaya Warga

Berebut Gunungkidul

Yu Par, Legenda Kantin bonbin

Menyambut Coming Out Age dengan Berubah Menjadi Panda

Hubungi Kami

Facebook Twitter Instagram Pinterest

Ads

Footer Logo
  • TENTANG KAMI
  • PEDOMAN MEDIA SIBER
  • AWAK
  • KONTAK
  • KONTRIBUSI

©2022 BPPM BALAIRUNG UGM