Balairungpress
  • REDAKSI
    • KILAS
    • ALMAMATER
    • LAPORAN UTAMA
    • APRESIASI
    • INSAN WAWASAN
  • NALAR
    • WAWASAN
    • KAJIAN
  • REHAT
    • ARSIP
    • BUKU
    • FILM
    • OPINI
    • SASTRA
  • BINGKAI
    • ANALEKTA
    • INFOGRAFIS
    • KOMIK
    • PERISTIWA
    • SKETSA
  • PIPMI
    • Direktori
    • Suplemen
    • PUBLIKASI
  • ENEN
  • IDID
Newest post
Diskusi Buku “Pembangunan Untuk Siapa? Kisah Perempuan di...
LPM Himmah UII Ungkap Ketimpangan Pendidikan Dasar di...
Diskusi Perempuan Adat Kritik Jerat Paksaan Industri Ekstraktif
Muat Candaan Seksis, Buku Gadjah Mada Bercanda Karya...
Tilik Relasi Kolonial di Papua dalam Diskusi Papua...
Diskusi Pendidikan dan Demokrasi, Ungkap Gagalnya Pendidikan dalam...
Kota Batik yang Tenggelam
Titah AW: Jurnalisme Bisa Jadi Kanal Pengetahuan Lokal
Membumikan Ilmu Bumi
Kuasa Kolonial Atas Pangan Lokal

Balairungpress

  • REDAKSI
    • KILAS
    • ALMAMATER
    • LAPORAN UTAMA
    • APRESIASI
    • INSAN WAWASAN
  • NALAR
    • WAWASAN
    • KAJIAN
  • REHAT
    • ARSIP
    • BUKU
    • FILM
    • OPINI
    • SASTRA
  • BINGKAI
    • ANALEKTA
    • INFOGRAFIS
    • KOMIK
    • PERISTIWA
    • SKETSA
  • PIPMI
    • Direktori
    • Suplemen
    • PUBLIKASI
  • ENEN
  • IDID
KILAS

Peringati Kemerdekaan RI, Mahasiswa Pertanian UGM Gelar Gaspol

Agustus 17, 2016
©fazrin.bal

©Fazrin.bal

Pagi (17/8) pukul 10.00 WIB, di sebelah barat jalan terlihat puluhan mahasiswa mengenakan jas almamater sembari membawa spanduk berjalan menuju Bunderan UGM. Mereka merupakan mahasiswa Fakultas Pertanian UGM yang mengadakan aksi Gerakan Sehari Pangan Lokal (Gaspol). “Aksi tersebut dilakukan dalam rangka memperingati hari kemerdekaan Indonesia yang jatuh pada hari ini,” sebut Endariyatna M.Aziz Masahid, Agribisnis ’16 selaku Koordinator Lapangan.

Aziz mengatakan, di usia kemerdekaan yang memasuki 71 tahun, kondisi pangan lokal Indonesia masih sangat memprihatinkan. Dari segi pertanian maupun perikanan, pangan lokal Indonesia belum mampu bersaing dengan makanan impor. “Aksi ini sebenarnya juga bertujuan untuk membangkitkan kembali pangan lokal Indonesia yang sekarang sudah mulai dilupakan,” ujarnya.

Selain itu, ia menambahkan bahwa Gaspol merupakan puncak dari serangkaian acara puasa gandum yang dilakukan oleh mahasiswa Fakultas Pertanian UGM. Selama kurang lebih sepuluh hari, mereka sengaja tidak mengonsumsi makanan yang berbahan dasar gandum. Hal ini dilakukan untuk mengurangi ketergantungan konsumsi terhadap makanan impor, salah satunya adalah gandum.

Aksi diawali dengan long march dari Fakultas Pertanian menuju Bunderan UGM. Terdapat dua pembagian kelompok mahasiswa. Kelompok pertama berjalan dari Fakultas Pertanian menuju Bunderan UGM melalui Jalan Kaliurang. Sedangkan kelompok kedua menuju Bunderan UGM melewati Sagan. Menurut Aziz pembagian dua kelompok tersebut bertujuan untuk menghindari kemacetan dan menarik lebih banyak perhatian masyarakat. “Jika hanya melewati satu jalan saja, tentunya hanya sedikit masyarakat yang mengetahui dan sadar akan pangan lokal Indonesia,” imbuhnya.

Salah seorang peserta aksi, Cindyana Ma’rifat, Perikanan ’16, berharap masyarakat dapat semakin mengetahui tentang pangan lokal. “Pangan lokal di Indonesia itu sebenarnya banyak. Kita gak harus impor.” Harapan yang sama juga dilontarkan oleh Rayhan Maulana, Perikanan ’16. Ia berharap bahwa masyarakat akan semakin tertarik untuk mengonsumsi dan mencintai produk pangan lokal Indonesia. “Makanan lokal indonesia itu gak kalah enak kok, kalau dibandingkan sama makanan-makanan impor”, tambahnya.

Selama aksi para peserta menyanyikan yel-yel dan berorasi yang diikuti dengan tabuhan alat musik perkusi. Selain itu terdapat penampilan teatrikal dan pembacaan puisi yang mengisahkan tentang perjuangan petani pangan lokal Indonesia. Mereka juga membagikan1.100 pangan lokal secara gratis kepada pengendara kendaraan bermotor. Terdapat tiga titik distribusi, yakni di Bunderan UGM, perempatan lampu merah Jakal, dan perempatan lampu merah Sagan.[Nizmi R Utami]

 

aksidemokemerdekaankilasLOKALPANGANpertanianugm
0
Facebook Twitter Google + Pinterest

Artikel Lainnya

Diskusi Buku “Pembangunan Untuk Siapa? Kisah Perempuan di...

LPM Himmah UII Ungkap Ketimpangan Pendidikan Dasar di...

Diskusi Perempuan Adat Kritik Jerat Paksaan Industri Ekstraktif

Muat Candaan Seksis, Buku Gadjah Mada Bercanda Karya...

Tilik Relasi Kolonial di Papua dalam Diskusi Papua...

Diskusi Pendidikan dan Demokrasi, Ungkap Gagalnya Pendidikan dalam...

1 komentar

tri kurniawan Agustus 17, 2016 - 21:17

Penting untuk didukung agar rakyat indonesia merdeka di bidang pangan

Reply

Berikan Komentar Batal Membalas

Situs ini menggunakan Akismet untuk mengurangi spam. Pelajari bagaimana data komentar Anda diproses.

Pos Terbaru

  • Diskusi Buku “Pembangunan Untuk Siapa? Kisah Perempuan di Kampung Kami” Soroti Dampak Pembangunan Bagi Ruang Hidup Perempuan

    Desember 25, 2025
  • LPM Himmah UII Ungkap Ketimpangan Pendidikan Dasar di DIY melalui Pameran “Melihat Sekolahku”

    Desember 18, 2025
  • Diskusi Perempuan Adat Kritik Jerat Paksaan Industri Ekstraktif

    Desember 10, 2025
  • Muat Candaan Seksis, Buku Gadjah Mada Bercanda Karya Heri Santoso Tuai Kritik Mahasiswa

    Desember 5, 2025
  • Tilik Relasi Kolonial di Papua dalam Diskusi Papua Bukan Tanah Kosong

    November 24, 2025

Jurnal Balairung Vol. 2 No. 2 (2020)

Infografis

Moral Tanpa Tuhan

Sampah Kota Ditopang Swadaya Warga

Berebut Gunungkidul

Yu Par, Legenda Kantin bonbin

Menyambut Coming Out Age dengan Berubah Menjadi Panda

Hubungi Kami

Facebook Twitter Instagram Pinterest

Ads

Footer Logo
  • TENTANG KAMI
  • PEDOMAN MEDIA SIBER
  • AWAK
  • KONTAK
  • KONTRIBUSI

©2022 BPPM BALAIRUNG UGM