Balairungpress
  • REDAKSI
    • KILAS
    • ALMAMATER
    • LAPORAN UTAMA
    • APRESIASI
    • INSAN WAWASAN
  • NALAR
    • WAWASAN
    • KAJIAN
  • REHAT
    • ARSIP
    • BUKU
    • FILM
    • OPINI
    • SASTRA
  • BINGKAI
    • ANALEKTA
    • INFOGRAFIS
    • KOMIK
    • PERISTIWA
    • SKETSA
  • PIPMI
    • Direktori
    • Suplemen
    • PUBLIKASI
  • ENEN
  • IDID
Newest post
Forum Kamisan Daring Perluas Jejaring Perlawanan Terhadap Pertambangan...
Pesantren Bumi Cendekia Bagikan Upaya Pencegahan Kekerasan Seksual...
Diskusi Buku “Pembangunan Untuk Siapa? Kisah Perempuan di...
LPM Himmah UII Ungkap Ketimpangan Pendidikan Dasar di...
Diskusi Perempuan Adat Kritik Jerat Paksaan Industri Ekstraktif
Muat Candaan Seksis, Buku Gadjah Mada Bercanda Karya...
Tilik Relasi Kolonial di Papua dalam Diskusi Papua...
Diskusi Pendidikan dan Demokrasi, Ungkap Gagalnya Pendidikan dalam...
Kota Batik yang Tenggelam
Titah AW: Jurnalisme Bisa Jadi Kanal Pengetahuan Lokal

Balairungpress

  • REDAKSI
    • KILAS
    • ALMAMATER
    • LAPORAN UTAMA
    • APRESIASI
    • INSAN WAWASAN
  • NALAR
    • WAWASAN
    • KAJIAN
  • REHAT
    • ARSIP
    • BUKU
    • FILM
    • OPINI
    • SASTRA
  • BINGKAI
    • ANALEKTA
    • INFOGRAFIS
    • KOMIK
    • PERISTIWA
    • SKETSA
  • PIPMI
    • Direktori
    • Suplemen
    • PUBLIKASI
  • ENEN
  • IDID
KILAS

Bukan Simulasi, Massa Aksi Inginkan Mediasi Secara Terbuka

Mei 2, 2016
©Arsip Lembaga

©Arsip Lembaga

“Yang bilang aksi ini cuma simulasi, dia tidak punya hati,” sorak ribuan mahasiswa di depan Gedung Pusat UGM, Senin (02/05). Massa yang diinisiasi oleh aliansi mahasiswa UGM, menamakan aksi tersebut Pesta Rakyat. Aksi tersebut mengangkat tiga masalah utama, Kejelasan Uang Kuliah Tunggal (UKT), Tunjangan Kinerja (Tukin) tenaga kependidikan (tendik) dan relokasi kantin Sosio-Humaniora (Bonbin).

Menurut Umar Abdul Aziz, mahasiswa Departemen Ilmu Politik dan Pemerintahan ’12 (DPP) mengatakan bahwa, UGM  akan mewacanakan uang pangkal bagi mahasiswa Ujian Mandiri. Selain itu, massa aksi juga  mempertanyakan transparansi dana UKT serta perbaikan mekanisme penyesuaian UKT. “Tahun 2015 beasiswa PPA-BBP dihapus, padahal beasiswa tersebut sebagai alternatif meringankan UKT,” ucap Umar.

Selain itu, tendik UGM juga belum memeroleh kejelasan pencairan dana Tukin selama 18 bulan. “Tanggal pencairan masih tidak jelas dan yang dicairkan hanyalah bulan Juli sampai Agustus 2014,” terang Budi Hardjono, Pegawai Dewan Guru Besar. Ia pun mengaku bahwa dirinya dimutasi tanpa ada Surat Peringatan (SP) terlebih dahulu ke tempat yang bukan keahliannya.

Selain itu, Massa aksi juga menuntut pencabutan SP dua yang telah dilayangkan oleh pihak Rektorat kepada pedagang kantin  Bonbin. “Relokasi bukan solusi, yang kami inginkan adalah renovasi,” seru massa aksi tersebut. Namun, menurut Prof. Ir. Dwikorita Karnawati, M.Sc., Ph.D., Rektor UGM bahwa, kantin Bonbin telah melewati batas kontrak dari satu tahun yang lalu.

Selain ketiga masalah tersebut, massa aksi juga meminta klarifikasi atas pernyataan Rektor UGM di Swaragama FM, pada Minggu (01/05) malam. Dwikorita menyatakan bahwa, aksi tersebut merupakan simulasi dari pihak rektorat UGM untuk praktikum lapangan bagi mahasiswa berlatih mengemukakan pendapatnya. Namun, menurut Umar, bahwa aksi tersebut murni dari mahasiswa dan tanpa campur tangan pihak Rektorat UGM. Selaras dengan Umar, Tauchid Komara Yuda, mahasiswa Departemen Pembangunan Sosial dan Kesejahteraan’13 menyatakan bahwa, ada tidaknya pernyataan Dwikorita di Swaragama FM, aksi tetap akan berlanjut. Massa aksi pun menginginkan hearing terbuka di depan halaman Gedung Pusat UGM mengenai kejelasan ketiga masalah tersebut.

Menanggapi hal tersebut, ketika Dwikorita bernegosiasi dengan perwakilan mahasiswa di Aula Gedung Pusat, ia tetap bersikukuh bahwa aksi tersebut dikoordinasikan oleh pihak Rektorat UGM. “Mereka tidak sadar kalau ini adalah simulasi yang kami rencanakan dan kami lah yang menjadi Pembina aksi tersebut. Selain itu, akan ada juga evaluasi aksi,” Terang Dwikorita. Selain itu, ia juga menginginkan hanya beberapa perwakilan mahasiswa saja yang berdialog mengenai permasalahan tersebut. Menurutnya, perwakilan mahasiswa lebih efektif daripada hearing terbuka.

Mendengar penjelasan Dwikorita, Ali Zaenal Abidin, Ketua BEM KM UGM menyayangkan pernyataan tersebut. “Yang kami inginkan hanyalah bertemu dengan ibu, dan dialog terbuka,” terang Ali. Selaras dengan Ali, Ainun Mardliyah selaku massa aksi mengatakan bahwa, harus ada mediasi yang terbuka dan demokratis.

Pada pukul 14.48 WIB, akhirnya Dwikorita beserta jajarannya setuju untuk melakukan hearing terbuka. Dwikorita pun mengeluarkan tanggapannya terkait ketiga masalah tersebut. Terkait masalah UKT, tidak akan ada kenaikan nominal dan sama dengan tahun ajaran sebelumnya. Selain itu, Tukin tetap akan diperjuangkan oleh semua Perguruan Tinggi yang menyandang status PTN-BH. Selanjutnya, karena Bonbin sudah melewati batas kontrak, relokasi tetap berjalan. Namun, karena Bonbin tetap direlokasi dan beberapa mahasiswa menyuarakan ketidak setujuannya dengan pihak Rektorat, Dwikorita pun meninggalkan hearing dan memasuki ruangannya. [Luthfian Haekal]

Hingga tulisan ini diterbitkan, mahasiswa masih menduduki Gedung Pusat UGM

#PestaRakyatBonbintukinukt
0
Facebook Twitter Google + Pinterest

Artikel Lainnya

Forum Kamisan Daring Perluas Jejaring Perlawanan Terhadap Pertambangan...

Pesantren Bumi Cendekia Bagikan Upaya Pencegahan Kekerasan Seksual...

Diskusi Buku “Pembangunan Untuk Siapa? Kisah Perempuan di...

LPM Himmah UII Ungkap Ketimpangan Pendidikan Dasar di...

Diskusi Perempuan Adat Kritik Jerat Paksaan Industri Ekstraktif

Muat Candaan Seksis, Buku Gadjah Mada Bercanda Karya...

Berikan Komentar Batal Membalas

Situs ini menggunakan Akismet untuk mengurangi spam. Pelajari bagaimana data komentar Anda diproses.

Pos Terbaru

  • Forum Kamisan Daring Perluas Jejaring Perlawanan Terhadap Pertambangan Energi Hijau Panas Bumi

    Februari 16, 2026
  • Pesantren Bumi Cendekia Bagikan Upaya Pencegahan Kekerasan Seksual di Pesantren Lewat Diskusi “Memutus Mata Rantai Kekerasan Seksual di Pesantren”

    Januari 28, 2026
  • Diskusi Buku “Pembangunan Untuk Siapa? Kisah Perempuan di Kampung Kami” Soroti Dampak Pembangunan Bagi Ruang Hidup Perempuan

    Desember 25, 2025
  • LPM Himmah UII Ungkap Ketimpangan Pendidikan Dasar di DIY melalui Pameran “Melihat Sekolahku”

    Desember 18, 2025
  • Diskusi Perempuan Adat Kritik Jerat Paksaan Industri Ekstraktif

    Desember 10, 2025

Jurnal Balairung Vol. 2 No. 2 (2020)

Infografis

Moral Tanpa Tuhan

Sampah Kota Ditopang Swadaya Warga

Berebut Gunungkidul

Yu Par, Legenda Kantin bonbin

Menyambut Coming Out Age dengan Berubah Menjadi Panda

Hubungi Kami

Facebook Twitter Instagram Pinterest

Ads

Footer Logo
  • TENTANG KAMI
  • PEDOMAN MEDIA SIBER
  • AWAK
  • KONTAK
  • KONTRIBUSI

©2022 BPPM BALAIRUNG UGM