Balairungpress
  • REDAKSI
    • KILAS
    • ALMAMATER
    • LAPORAN UTAMA
    • APRESIASI
    • WAWANCARA
  • NALAR
    • WAWASAN
    • KAJIAN
    • INSAN WAWASAN
  • REHAT
    • ARSIP
    • BUKU
    • FILM
    • OPINI
    • SASTRA
  • BINGKAI
    • ANALEKTA
    • INFOGRAFIS
    • KOMIK
    • PERISTIWA
    • SKETSA
  • PIPMI
    • Direktori
    • Suplemen
    • PUBLIKASI
  • Tentang Kami
    • KONTAK
    • Masthead
  • ENEN
  • IDID
Latest post
Buruh Pibee Group Menangkan Tuntutan Pelunasan Upah
Ruang Redaksi Belum Aman, AJI Ungkap Kekerasan terhadap...
Aksi Solidaritas Suara Ibu Indonesia Soroti Kekerasan Negara...
Solidaritas Serikat Buruh Taru Martani Berujung Kemenangan dalam...
IWD Jogja 2026 Soroti Penindasan Perempuan Kelas Pekerja...
Napas Panjang Relokasi Imbas Ambisi Proyek Sumbu Filosofi
Diskusi LSF Ungkap Kekerasan Aparat terhadap Perempuan dalam...
Apakah ada Hari Esok untuk Aku Meminum Obat
Gaboleh Pilih-Pilih Makanan
Aksi Solidaritas untuk Arianto Tawakal Dibalas Kekerasan Ormas...

Balairungpress

  • REDAKSI
    • KILAS
    • ALMAMATER
    • LAPORAN UTAMA
    • APRESIASI
    • WAWANCARA
  • NALAR
    • WAWASAN
    • KAJIAN
    • INSAN WAWASAN
  • REHAT
    • ARSIP
    • BUKU
    • FILM
    • OPINI
    • SASTRA
  • BINGKAI
    • ANALEKTA
    • INFOGRAFIS
    • KOMIK
    • PERISTIWA
    • SKETSA
  • PIPMI
    • Direktori
    • Suplemen
    • PUBLIKASI
  • Tentang Kami
    • KONTAK
    • Masthead
  • ENEN
  • IDID
KABARKILAS

Talkshow Lingkungan: Menggugah Kesadaran Akan Perubahan Iklim

November 24, 2014
©annisa

©annisa

Puluhan peserta duduk menyimak talkshow bertajuk “Human Responses to Global Climate Change”, Jumat (21/11). Acara yang diselenggarakan oleh Sekolah Pascasarjana UGM ini adalah bagian dari rangkaian acara dalam UGM Expo. Talkshow berlangsung selama satu setengah jam di Ruang Sidang A1 Gedung Grha Sabha Pramana UGM. Prof. Stephen Dovers dari Australian National University hadir sebagai pembicara.

Acara dibuka oleh moderator, Dr. Tjut Sugandawaty Djohan, M.Sc., dosen dan Staf Laboratorium Ekologi dan Konservasi Fakultas Biologi UGM. Tidak lupa Sugandawaty membacakan latar belakang Dovers, seorang peneliti dengan 95 karya yang dipublikasikan. Dovers pun memulai diskusi dengan satu pertanyaan besar mengenai perlu-tidaknya menentukan sikap terhadap perubahan iklim dunia. Menurutnya, masih banyak masyarakat dunia seakan kurang peduli atau tidak berpikir jauh mengenai hal ini. Contohnya adalah penggunaan bahan bakar fosil yang sudah menjadi bagian dari gaya hidup masyarakat modern. Untuk mengubah hal ini, diperlukan perubahan sistemik yang tentunya tidak mudah.

Selanjutnya, ia menjelaskan bahwa sesungguhnya ada banyak tindakan yang dapat dilakukan guna beradaptasi dengan perubahan iklim. Misalnya, menghemat air, lebih sering menggunakan transportasi publik, melakukan pemantauan lingkungan jangka panjang, dan lain-lain. Tidak kalah penting, pencegahan dan persiapan yang lebih baik terhadap bencana. Kesadaran akan hubungan antara perubahan iklim dan bencana semestinya mampu mempengaruhi keputusan politik pemerintah untuk melakukan mitigasi. Faktor-faktor pemicu perubahan iklim pun harus direduksi karena dampak yang ditimbulkan amat luas dan kian hari kian memprihatinkan. “Kita harus berhenti melihat perubahan iklim sebagai isu lingkungan. Lebih dari itu, ini adalah isu mengenai efisiensi ekonomi dan produktivitas,” ujar Dovers.

Dalam talkshow ini, Dovers tidak hanya memaparkan materi. Ia pun mempersilakan peserta untuk aktif mengeluarkan pendapatnya dan saling berbagi ide. “Awalnya kami mengadakan konferensi internasional dengan Prof. Dovers, tetapi kemudian beliau bersedia tampil lagi untuk berbagi pengalamannya seputar tema ini,” tutur Siti Nur Hidayati selaku panitia.

Vita, salah seorang peserta yang juga mahasiswa Program Doktoral Geografi UGM, menyampaikan apresiasinya terhadap talkshow ini. Ia juga sepaham bahwa isu perubahan iklim adalah isu yang kompleks dan bisa pula berakar dari sisi ekonomi. Misalnya, masih banyak perusahaan yang sangat berorientasi profit, tetapi melupakan sisi kelingkungannya. “Untuk mengolah limbah kan perlu biaya juga. Kalau di ranah internasional, biasanya ada penghargaan yang bisa ‘menjual’ nama perusahaan, sehingga mereka tergerak untuk menjadi perusahaan yang ramah lingkungan,” imbuhnya. [Alya Nurbaiti, Galeh Primadani, M. Lathif Amin, Murniyati Sukowati]

0
Facebook Twitter Google + Pinterest

Artikel Lainnya

Buruh Pibee Group Menangkan Tuntutan Pelunasan Upah

Ruang Redaksi Belum Aman, AJI Ungkap Kekerasan terhadap...

Aksi Solidaritas Suara Ibu Indonesia Soroti Kekerasan Negara...

Solidaritas Serikat Buruh Taru Martani Berujung Kemenangan dalam...

IWD Jogja 2026 Soroti Penindasan Perempuan Kelas Pekerja...

Diskusi LSF Ungkap Kekerasan Aparat terhadap Perempuan dalam...

Berikan Komentar Batal Membalas

Situs ini menggunakan Akismet untuk mengurangi spam. Pelajari bagaimana data komentar Anda diproses

Pos Terbaru

  • Buruh Pibee Group Menangkan Tuntutan Pelunasan Upah

    April 10, 2026
  • Ruang Redaksi Belum Aman, AJI Ungkap Kekerasan terhadap Jurnalis Perempuan

    April 9, 2026
  • Aksi Solidaritas Suara Ibu Indonesia Soroti Kekerasan Negara dalam Penyiraman Air Keras terhadap Andrie Yunus

    Maret 17, 2026
  • Solidaritas Serikat Buruh Taru Martani Berujung Kemenangan dalam Aksi Mogok Kerja

    Maret 13, 2026
  • IWD Jogja 2026 Soroti Penindasan Perempuan Kelas Pekerja dan Kelompok Rentan

    Maret 11, 2026

Jurnal Balairung Vol. 2 No. 2 (2020)

Infografis

Moral Tanpa Tuhan

Sampah Kota Ditopang Swadaya Warga

Berebut Gunungkidul

Yu Par, Legenda Kantin bonbin

Menyambut Coming Out Age dengan Berubah Menjadi Panda

Hubungi Kami

Facebook Twitter Instagram Pinterest

Ads

Footer Logo
  • TENTANG KAMI
  • PEDOMAN MEDIA SIBER
  • AWAK
  • KONTAK
  • KONTRIBUSI

©2022 BPPM BALAIRUNG UGM