
©Pangestu/Bal
Pada Selasa (24-02), sekitar pukul 18.00, berbagai elemen masyarakat berkumpul di depan Markas Kepolisian Daerah (Mapolda) Daerah Istimewa Yogyakarta (DIY). Massa tersebut berkumpul dalam rangka aksi solidaritas terhadap Arianto Tawakal, remaja berumur 14 tahun yang dibunuh oleh aparat di Tual, Maluku. Aksi berlangsung tegang karena massa mendapat kekerasan dari sekelompok orang yang mengaku organisasi masyarakat (ormas).Â
Sebelum kekerasan muncul, aksi dimulai dengan protes massa terhadap aparat di depan gerbang Mapolda DIY. Namun, setelah demonstrasi berlangsung hingga pukul 18.45 WIB, aparat tak kunjung keluar untuk membuka ruang dialog dengan massa. Hal ini membuat massa berusaha merangsek ke dalam gedung hingga pintu gerbang utama Mapolda DIY ambruk dan suasana aksi berubah menjadi tegang. “Bagaimana bisa menyampaikan aspirasi jika polisinya saja mengunci gerbang dan juga menaruh pagar-pagar besi,” Ujar Christian (bukan nama sebenarnya), salah satu massa yang turut bergabung dalam aksi tersebut.Â
Di pertengahan aksi, sekitar pukul 19.55 WIB, muncul suara ledakan dan tebaran asap dari depan pintu gerbang Mapolda DIY. Ledakan ini disusul oleh kemunculan anggota ormas yang memukuli massa dan mengarahkan senjata tajam sambil berlari-lari dari gang samping Polda DIY. Hal ini dirasakan langsung oleh Tio (bukan nama sebenarnya), salah satu massa yang menjadi korban kekerasan. “Saya kemarin mendapatkan pukulan di bagian perut dan di beberapa lengan, pihak ormas itu hanya memukul-mukul sambil berlari-lari untuk membubarkan massa aksi,” tuturnya.
Puncaknya, pada pukul 20.10 WIB, kelompok ormas kembali merangsek maju dari jalan seberang Pakuwon Mall. Mereka mengepung dan memukul mundur massa dengan kekerasan fisik hingga massa membubarkan diri. Bahkan, menurut kesaksian Tio, ormas turut menghancurkan posko medis yang ada di sekitar Pakuwon Mall. “[Mereka-red] menghancurkan posko medis, juga melakukan tindakan kekerasan terhadap para demonstran,” tutur Tio.

©Timurangin/Bal
Dari video yang beredar, ormas mengaku tujuannya melakukan kekerasan fisik adalah menertibkan massa. Mereka mengatakan bahwa kekerasan tersebut adalah keberhasilan ormas untuk menjaga ketertiban di Yogyakarta. Namun, menurut Tio, tindakan tersebut justru menimbulkan kepanikan dan kekacauan. “Ormasnya yang membawa senjata tajam, dan itu memberikan rasa ketidakamanan kepada demonstran,” jelasnya.
Selain itu, Tio juga meragukan identitas ormas tersebut. Menurutnya, beberapa massa aksi sempat menanyakan identitas anggota ormas. Saat massa menanyakan identitas mereka, orang yang mengaku ormas tersebut mengelak. Alih-alih menjawab pertanyaan massa aksi, mereka justru melakukan ancaman dan kekerasan. “Saya tidak tahu apakah [ormas-red] itu dibayar, atau gerakan kolektif dari masyarakat untuk membubarkan demonstrasi,” ungkap Tio.
Aksi tidak diiringi dengan protes verbal semata. Sekitar pukul 19.45 WIB, sebelum ormas melakukan kekerasan terhadap massa aksi, sebagian massa beranjak ke ruas jalan Ring Road Utara untuk menggelar salat gaib dengan damai. Melalui salat ini, mereka berharap agar para korban kebrutalan polisi, seperti Rheza Sendy Pratama, bisa tenang ketika berpulang. “Kita doakan semoga para almarhum yang menjadi korban dari kejahatan para polisi itu mendapatkan ketenangan di alam sana,” ungkap Yazi.
Penulis: Aditya Fernando dan Azmi Hanief
Penyunting: Reza Faza
Fotografer: Pangestu Ibnu