Balairungpress
  • REDAKSI
    • KILAS
    • ALMAMATER
    • LAPORAN UTAMA
    • APRESIASI
    • INSAN WAWASAN
  • NALAR
    • WAWASAN
    • KAJIAN
  • REHAT
    • ARSIP
    • BUKU
    • FILM
    • OPINI
    • SASTRA
  • BINGKAI
    • ANALEKTA
    • INFOGRAFIS
    • KOMIK
    • PERISTIWA
    • SKETSA
  • PIPMI
    • Direktori
    • Suplemen
    • PUBLIKASI
  • ENEN
  • IDID
Newest post
Pesantren Bumi Cendekia Bagikan Upaya Pencegahan Kekerasan Seksual...
Diskusi Buku “Pembangunan Untuk Siapa? Kisah Perempuan di...
LPM Himmah UII Ungkap Ketimpangan Pendidikan Dasar di...
Diskusi Perempuan Adat Kritik Jerat Paksaan Industri Ekstraktif
Muat Candaan Seksis, Buku Gadjah Mada Bercanda Karya...
Tilik Relasi Kolonial di Papua dalam Diskusi Papua...
Diskusi Pendidikan dan Demokrasi, Ungkap Gagalnya Pendidikan dalam...
Kota Batik yang Tenggelam
Titah AW: Jurnalisme Bisa Jadi Kanal Pengetahuan Lokal
Membumikan Ilmu Bumi

Balairungpress

  • REDAKSI
    • KILAS
    • ALMAMATER
    • LAPORAN UTAMA
    • APRESIASI
    • INSAN WAWASAN
  • NALAR
    • WAWASAN
    • KAJIAN
  • REHAT
    • ARSIP
    • BUKU
    • FILM
    • OPINI
    • SASTRA
  • BINGKAI
    • ANALEKTA
    • INFOGRAFIS
    • KOMIK
    • PERISTIWA
    • SKETSA
  • PIPMI
    • Direktori
    • Suplemen
    • PUBLIKASI
  • ENEN
  • IDID
KILAS

Diskusi Buku “Pembangunan Untuk Siapa? Kisah Perempuan di Kampung Kami” Soroti Dampak Pembangunan Bagi Ruang Hidup Perempuan

Desember 25, 2025

©Hadrian/Bal

“Perempuan tidak pernah punya porsi yang setara dalam menyatakan pengalaman hidupnya,” ujar Inun, moderator dari Bawabuku, saat membuka diskusi buku Pembangunan Untuk Siapa? Kisah Perempuan di Kampung Kami pada Senin (22-12). Diskusi yang digelar di Bawabuku Bookshop and Library ini merupakan kolaborasi antara Marjin Kiri, Konde.co, dan Trend Asia. Dengan topik utama dampak pembangunan bagi perempuan, diskusi ini menghadirkan narasumber Luviana Ariyanti, pendiri dan pemimpin redaksi Konde.co; Miftahul Huda, kepala divisi media dan penelitian lembaga bantuan hukum (LBH) Yogyakarta; dan Nia Viviawati, warga Bong Suwung.   

Luvi menjelaskan bahwa buku Pembangunan Untuk Siapa? Kisah Perempuan di Kampung Kami memuat cerita tentang perempuan yang sering luput dalam sejarah yang ditulis oleh penguasa. Baginya, buku ini adalah alat dan taktik baru bagi perempuan untuk melawan narasi dominan dan mempertanyakan status quo. Ia juga menyebutkan perempuan yang diceritakan dalam buku ini sebagai pejuang yang mempertahankan rumahnya dari ancaman pembangunan pemerintah. “Mereka adalah orang yang gelisah dan ingin melakukan sesuatu, pemimpin yang berjuang dengan berproses,” jelas Luvi  

Luvi kemudian menambahkan bahwa cerita yang dimuat dalam buku ini adalah kumpulan peliputan tentang kerusakan lingkungan akibat pembangunan dalam perspektif perempuan. “Ini buku [tentang cerita-red] perempuan-perempuan biasa yang kemudian menghadang buldoser karena tanah-tanahnya itu diambil,” terang Luvi. Dalam penjelasannya, ia menyebutkan perjuangan perempuan tersebut justru kerap kali dipandang sebelah mata dan dianggap tidak ada. Luvi juga menyoroti perjuangan perempuan dalam melawan pembangunan tidak luput dari stigma buruk yang dilekatkan oleh pemerintah, seperti dianggap tidak sopan atau tidak bermoral. 

Relevan dengan buku ini, dampak buruk pembangunan bagi masyarakat, terkhusus perempuan, turut dirasakan oleh 75 keluarga yang tinggal di Kawasan Bong Suwung. Hal itu disampaikan oleh Nia bahwa Bong Suwung dulunya bukan sekedar tempat tinggal melainkan juga tempat mencari nafkah bagi warga sampai terjadinya penggusuran. “Kurang lebih 85 perempuan pekerja seks di Bong Suwung setiap malamnya mencari makan,” ujar Nia.

Nia juga menyoroti nasib perempuan pekerja seks Bong Suwung selepas penggusuran yang minim perhatian dari pemerintah. “Perempuan harus diperhatikan, [termasuk-red] yang status sosialnya seperti kami, pekerja seks,” jelas Nia. Baginya, para pekerja seks memerlukan dukungan dari berbagai pihak untuk bangkit dan melanjutkan hidupnya.

Huda melanjutkan bahwa marginalisasi perempuan akibat pembangunan juga terjadi di berbagai tempat. Misalnya di Demak, Jawa Tengah, pembangunan yang berujung bencana rob, menurut Huda, memaksa perempuan menjadi pihak yang paling terdampak. Menurutnya, di sebagian daerah Demak, perempuan hamil terpaksa melahirkan di kota dengan menaiki perahu menerobos rob. “Tidak ada layanan kesehatan yang mampu menangani perempuan hamil, bisa dikatakan negara tidak hadir,” lanjut Huda. 

Huda menambahkan, marginalisasi perempuan itu terjadi imbas minimnya pembahasan mengenai dampak terhadap perempuan dalam analisis kebijakan dan konsultasi publik. “Misalnya, kesehatan reproduksi dan seksual yang vital bagi perempuan itu tidak disebutkan,” imbuh Huda. Padahal, menurut Huda, perempuan di negara dunia ketiga menjadi pihak yang paling terdampak oleh krisis tanah dan air imbas gencarnya pembangunan. Baginya, hal itu terjadi sebab negara dunia ketiga masih mengadopsi cara pandang tradisional yang hanya menempatkan perempuan dalam pekerjaan domestik.

Penulis: Falinkha Varally dan Reza Faza
Penyunting: Muhammad Athallah Adinata
Fotografer: Hadrian Galang

4
Facebook Twitter Google + Pinterest

Artikel Lainnya

Pesantren Bumi Cendekia Bagikan Upaya Pencegahan Kekerasan Seksual...

LPM Himmah UII Ungkap Ketimpangan Pendidikan Dasar di...

Diskusi Perempuan Adat Kritik Jerat Paksaan Industri Ekstraktif

Muat Candaan Seksis, Buku Gadjah Mada Bercanda Karya...

Tilik Relasi Kolonial di Papua dalam Diskusi Papua...

Diskusi Pendidikan dan Demokrasi, Ungkap Gagalnya Pendidikan dalam...

Berikan Komentar Batal Membalas

Situs ini menggunakan Akismet untuk mengurangi spam. Pelajari bagaimana data komentar Anda diproses.

Pos Terbaru

  • Pesantren Bumi Cendekia Bagikan Upaya Pencegahan Kekerasan Seksual di Pesantren Lewat Diskusi “Memutus Mata Rantai Kekerasan Seksual di Pesantren”

    Januari 28, 2026
  • Diskusi Buku “Pembangunan Untuk Siapa? Kisah Perempuan di Kampung Kami” Soroti Dampak Pembangunan Bagi Ruang Hidup Perempuan

    Desember 25, 2025
  • LPM Himmah UII Ungkap Ketimpangan Pendidikan Dasar di DIY melalui Pameran “Melihat Sekolahku”

    Desember 18, 2025
  • Diskusi Perempuan Adat Kritik Jerat Paksaan Industri Ekstraktif

    Desember 10, 2025
  • Muat Candaan Seksis, Buku Gadjah Mada Bercanda Karya Heri Santoso Tuai Kritik Mahasiswa

    Desember 5, 2025

Jurnal Balairung Vol. 2 No. 2 (2020)

Infografis

Moral Tanpa Tuhan

Sampah Kota Ditopang Swadaya Warga

Berebut Gunungkidul

Yu Par, Legenda Kantin bonbin

Menyambut Coming Out Age dengan Berubah Menjadi Panda

Hubungi Kami

Facebook Twitter Instagram Pinterest

Ads

Footer Logo
  • TENTANG KAMI
  • PEDOMAN MEDIA SIBER
  • AWAK
  • KONTAK
  • KONTRIBUSI

©2022 BPPM BALAIRUNG UGM