Balairungpress
  • REDAKSI
    • KILAS
    • ALMAMATER
    • LAPORAN UTAMA
    • APRESIASI
    • INSAN WAWASAN
  • NALAR
    • WAWASAN
    • KAJIAN
  • REHAT
    • ARSIP
    • BUKU
    • FILM
    • OPINI
    • SASTRA
  • BINGKAI
    • ANALEKTA
    • INFOGRAFIS
    • KOMIK
    • PERISTIWA
    • SKETSA
  • PIPMI
    • Direktori
    • Suplemen
    • PUBLIKASI
  • ENEN
  • IDID
Newest post
Pesantren Bumi Cendekia Bagikan Upaya Pencegahan Kekerasan Seksual...
Diskusi Buku “Pembangunan Untuk Siapa? Kisah Perempuan di...
LPM Himmah UII Ungkap Ketimpangan Pendidikan Dasar di...
Diskusi Perempuan Adat Kritik Jerat Paksaan Industri Ekstraktif
Muat Candaan Seksis, Buku Gadjah Mada Bercanda Karya...
Tilik Relasi Kolonial di Papua dalam Diskusi Papua...
Diskusi Pendidikan dan Demokrasi, Ungkap Gagalnya Pendidikan dalam...
Kota Batik yang Tenggelam
Titah AW: Jurnalisme Bisa Jadi Kanal Pengetahuan Lokal
Membumikan Ilmu Bumi

Balairungpress

  • REDAKSI
    • KILAS
    • ALMAMATER
    • LAPORAN UTAMA
    • APRESIASI
    • INSAN WAWASAN
  • NALAR
    • WAWASAN
    • KAJIAN
  • REHAT
    • ARSIP
    • BUKU
    • FILM
    • OPINI
    • SASTRA
  • BINGKAI
    • ANALEKTA
    • INFOGRAFIS
    • KOMIK
    • PERISTIWA
    • SKETSA
  • PIPMI
    • Direktori
    • Suplemen
    • PUBLIKASI
  • ENEN
  • IDID
KILAS

Konstruksi Warna Kulit Sebagai Standar Kecantikan dalam Diskusi Buku “Putih”

November 10, 2024

©Arfa/Bal

Rabu (06-11), Penerbit Marjin Kiri bersama Organisasi Perempuan Lintas Batas dan BawaBuku mengadakan diskusi buku Putih: Warna Kulit, Ras, dan Kecantikan di Indonesia Transnasional. Bertempat di Arka Coffee and Space, Yogyakarta, acara ini menghadirkan Luh Ayu Saraswati sebagai penulis buku. Selain menyajikan perspektif penulis, acara ini juga membuka ruang diskusi bebas untuk bertukar pandangan dan refleksi akan kulit putih sebagai standar kecantikan di Indonesia.

Ayu menjelaskan bahwa konsep warna putih sebagai lambang kecantikan sudah dimulai sejak sebelum masa kolonial. Namun, menurutnya, konsep tersebut semakin diperparah seiring masuknya kekuatan kolonial. “Ketika Belanda masuk, putihnya adalah putih ras kaukasia,” ujar Ayu. Ia memandang bahwa pergeseran serupa juga terjadi pada masa pendudukan Jepang di Indonesia, ketika putih yang diidamkan adalah putih seperti orang Jepang. 

Lebih lanjut, Ayu menyebutkan bahwa pergeseran definisi standar kecantikan ini dipengaruhi oleh afek, yakni perubahan sikap seseorang ketika terjadi proses penilaian terhadap suatu hal. Ia menjelaskan bahwa afek dan emosi secara tidak sadar mampu membentuk kuasa yang menanamkan sentimen atau ideologi tertentu dalam diri individu. “Artinya adalah kita kadang-kadang dikuasai oleh masyarakat, orang tua, dan negara, melalui bagaimana kita merasakan sesuatu terhadap diri kita sendiri, juga terhadap orang lain,” jelas Ayu. 

Ditambah, Ayu memandang bahwa konsep ini tercermin dalam masyarakat melalui standar kecantikan yang turut dipromosikan oleh industri. Salah satu yang dicontohkannya, adalah maraknya produk kecantikan yang mengklaim mampu memutihkan kulit. “Mereka menggunakan kata-kata white detox. Berarti kulit kita ini perlu didetoks?” ujar Ayu. 

Ayik, salah satu peserta dalam diskusi, menyadari bahwa pengaruh tersebut pun ada pada dirinya.. “Kedatangan saya kesini diawali dari candaan saya untuk suntik vitamin C dalam rangka memutihkan kulit,” tutur Ayik. Melalui kesadaran tersebut, Ayik menyadari perlunya penerimaan atas jati diri agar tidak mudah dikuasai oleh wacana-wacana standar kecantikan.

Di sisi lain, Ana, peserta diskusi lainnya, mengungkapkan keinginan mengubah warna kulit karena alasan yang jauh berbeda. Ia merasa kerap mendapatkan perlakuan berbeda sebab warna kulit putih yang melekat dengan etnisitas Indonesia-Tionghoanya.“Menjadi putih, menjadi lebih mudah untuk ditandai karena berbeda dari yang lain,” tuturnya. 

Turut menanggapi, Ayu menyatakan bahwa pengalaman Ana sepenuhnya mencerminkan realitas standar kulit putih yang masih kental pada masyarakat Indonesia. Ia menyebutkan bahwa terdapat perbedaan atas definisi putih yang diidamkan. “Hal ini menunjukkan bahwa semua putih tidak sama. Ketika putihnya diartikan sebagai putih Cina, menjadi tidak diinginkan lagi,” ujar Ayu. 

Melihat masalah ini, Ayu menyayangkan kurangnya kesadaran masyarakat akan permasalahan diskriminasi rasial yang berakar dari perbedaan warna kulit. “Bahkan ada akademisi sendiri yang bilang bahwa di Indonesia itu tidak ada masalah rasisme,” tambahnya. Menurut Ayu, nilai yang perlu difokuskan bukanlah pada pengabaian perbedaan yang ada, tetapi penerimaan keberagaman untuk mematikan diskriminasi yang terjadi.

Penulis: Salma Rahma, Satya Fadhlan Azhima, Levina R (Magang)
Penyunting: Winema Aleshanee Rasti Azzayna
Fotografer: Arfa Zhafif Hironaza (Magang)

1
Facebook Twitter Google + Pinterest

Artikel Lainnya

Pesantren Bumi Cendekia Bagikan Upaya Pencegahan Kekerasan Seksual...

Diskusi Buku “Pembangunan Untuk Siapa? Kisah Perempuan di...

LPM Himmah UII Ungkap Ketimpangan Pendidikan Dasar di...

Diskusi Perempuan Adat Kritik Jerat Paksaan Industri Ekstraktif

Muat Candaan Seksis, Buku Gadjah Mada Bercanda Karya...

Tilik Relasi Kolonial di Papua dalam Diskusi Papua...

Berikan Komentar Batal Membalas

Situs ini menggunakan Akismet untuk mengurangi spam. Pelajari bagaimana data komentar Anda diproses.

Pos Terbaru

  • Pesantren Bumi Cendekia Bagikan Upaya Pencegahan Kekerasan Seksual di Pesantren Lewat Diskusi “Memutus Mata Rantai Kekerasan Seksual di Pesantren”

    Januari 28, 2026
  • Diskusi Buku “Pembangunan Untuk Siapa? Kisah Perempuan di Kampung Kami” Soroti Dampak Pembangunan Bagi Ruang Hidup Perempuan

    Desember 25, 2025
  • LPM Himmah UII Ungkap Ketimpangan Pendidikan Dasar di DIY melalui Pameran “Melihat Sekolahku”

    Desember 18, 2025
  • Diskusi Perempuan Adat Kritik Jerat Paksaan Industri Ekstraktif

    Desember 10, 2025
  • Muat Candaan Seksis, Buku Gadjah Mada Bercanda Karya Heri Santoso Tuai Kritik Mahasiswa

    Desember 5, 2025

Jurnal Balairung Vol. 2 No. 2 (2020)

Infografis

Moral Tanpa Tuhan

Sampah Kota Ditopang Swadaya Warga

Berebut Gunungkidul

Yu Par, Legenda Kantin bonbin

Menyambut Coming Out Age dengan Berubah Menjadi Panda

Hubungi Kami

Facebook Twitter Instagram Pinterest

Ads

Footer Logo
  • TENTANG KAMI
  • PEDOMAN MEDIA SIBER
  • AWAK
  • KONTAK
  • KONTRIBUSI

©2022 BPPM BALAIRUNG UGM