Balairungpress
  • REDAKSI
    • KILAS
    • ALMAMATER
    • LAPORAN UTAMA
    • APRESIASI
    • WAWANCARA
  • NALAR
    • WAWASAN
    • KAJIAN
    • INSAN WAWASAN
  • REHAT
    • ARSIP
    • BUKU
    • FILM
    • OPINI
    • SASTRA
  • BINGKAI
    • ANALEKTA
    • INFOGRAFIS
    • KOMIK
    • PERISTIWA
    • SKETSA
  • PIPMI
    • Direktori
    • Suplemen
    • PUBLIKASI
  • Tentang Kami
    • KONTAK
    • Masthead
  • ENEN
  • IDID
Latest post
Buruh Pibee Group Menangkan Tuntutan Pelunasan Upah
Ruang Redaksi Belum Aman, AJI Ungkap Kekerasan terhadap...
Aksi Solidaritas Suara Ibu Indonesia Soroti Kekerasan Negara...
Solidaritas Serikat Buruh Taru Martani Berujung Kemenangan dalam...
IWD Jogja 2026 Soroti Penindasan Perempuan Kelas Pekerja...
Napas Panjang Relokasi Imbas Ambisi Proyek Sumbu Filosofi
Diskusi LSF Ungkap Kekerasan Aparat terhadap Perempuan dalam...
Apakah ada Hari Esok untuk Aku Meminum Obat
Gaboleh Pilih-Pilih Makanan
Aksi Solidaritas untuk Arianto Tawakal Dibalas Kekerasan Ormas...

Balairungpress

  • REDAKSI
    • KILAS
    • ALMAMATER
    • LAPORAN UTAMA
    • APRESIASI
    • WAWANCARA
  • NALAR
    • WAWASAN
    • KAJIAN
    • INSAN WAWASAN
  • REHAT
    • ARSIP
    • BUKU
    • FILM
    • OPINI
    • SASTRA
  • BINGKAI
    • ANALEKTA
    • INFOGRAFIS
    • KOMIK
    • PERISTIWA
    • SKETSA
  • PIPMI
    • Direktori
    • Suplemen
    • PUBLIKASI
  • Tentang Kami
    • KONTAK
    • Masthead
  • ENEN
  • IDID
KILAS

Gabungan Serikat Pekerja Jabodetabek Tuntut Pencabutan Tapera

Juni 7, 2024

©Alfiana/Bal

“Buruh bersatu, tak bisa dikalahkan!” teriak massa aksi yang berkumpul di Patung Kuda, Jakarta Pusat, Kamis (06-06). Aksi ini dihadiri oleh perwakilan buruh di Jabodetabek, seperti Partai Buruh, Konfederasi Serikat Pekerja Indonesia (KSPI), Federasi Serikat Pekerja Metal Indonesia (FSPMI), dan 60 serikat pekerja lainnya. Aksi kali ini bertujuan menuntut pemerintah membatalkan Peraturan Pemerintah (PP) Nomor 21 Tahun 2024 mengenai Tabungan Perumahan Rakyat (Tapera) yang memeras kaum buruh. 

Pada awalnya, aksi ini direncanakan untuk dilakukan di depan Istana Negara. Namun, ketika massa akan melakukan aksi, jalan menuju Istana Negara dihadang oleh pihak kepolisian. Jalanan ditutup dengan menggunakan beton dan kawat sehingga massa tidak bisa menyampaikan tuntutan secara langsung di depan Istana Negara. 

Said Iqbal, pemimpin Partai Buruh, menyampaikan tuntutannya saat konferensi pers bersama media. “Dalam aksi hari ini, kami menuntut PP Nomor 21 Tahun 2024 mengenai Tapera harus segera dicabut oleh Presiden Jokowi,” serunya. Jika tidak segera dicabut, Said mengatakan akan mengadakan aksi lanjutan dan mengajak pelibatan komponen masyarakat yang lebih luas.

Lebih lanjut, Said menyebut ada beberapa alasan Tapera harus segera dicabut atau dibatalkan. Menurutnya, para buruh tidak memperoleh kejelasan dalam prosedur untuk mendapatkan rumah. Ditambah, iuran Tapera yang memotong 2,5 persen gaji para buruh rupanya tidak cukup untuk mendapatkan rumah ataupun uang muka. “Katakanlah 20 tahun gaji buruh dipotong untuk iuran Tapera dan terkumpul 25,2 juta rupiah. Mana ada rumah harganya segitu? Buat uang muka juga tidak cukup,” lanjutnya. 

Said pun menambahkan ketidakjelasan Tapera membuat buruh semakin bertanya-tanya fungsi program Tapera yang diwajibkan oleh pemerintah. “Tidak ada kepastian terhadap peserta Tapera termasuk buruh, PNS, dan TNI/Polri untuk mendapatkan rumah. Lantas, mengapa iuran Tapera ini dikumpulkan?” ucapnya. Menurut Said, pemerintah harus memperjelas tujuan diadakannya Tapera, bukan justru menyatakan dengan tegas tidak akan membatalkan program ini. 

Selain itu, Said mengatakan tidak ada jaminan program Tapera tidak dikorupsi. Ia mengambil contoh dari kasus iuran rakyat sebelumnya yang ternyata menjadi ladang korupsi besar-besaran. “Dulu juga ada iuran Taspen [Tabungan dan Asuransi Pegawai Negeri-red] yang dikorupsi besar-besaran oleh para menteri yang bertanggung jawab saat itu,” serunya. 

Dalam aksi kali ini, para perwakilan buruh juga menyampaikan berbagai orasi. Seperti yang dilakukan oleh Rifki Mubarok, perwakilan FSPMI. Dalam orasi yang ia lakukan, Rifki menyebut Tapera justru memeras rakyat kecil. Ia juga mengatakan pemberlakuan Tapera tidak sebanding dengan keadaan masyarakat Indonesia hari ini. “Kalau kita berbicara keadilan, dimana adilnya? Rakyat terus diinjak-injak dan diperah keringatnya!” tegasnya. 

Penulis: Alfiana Rosyidah
Penyunting: Ester Veny
Fotografer: Alfiana Rosyidah

1
Facebook Twitter Google + Pinterest

Artikel Lainnya

Buruh Pibee Group Menangkan Tuntutan Pelunasan Upah

Ruang Redaksi Belum Aman, AJI Ungkap Kekerasan terhadap...

Aksi Solidaritas Suara Ibu Indonesia Soroti Kekerasan Negara...

Solidaritas Serikat Buruh Taru Martani Berujung Kemenangan dalam...

IWD Jogja 2026 Soroti Penindasan Perempuan Kelas Pekerja...

Diskusi LSF Ungkap Kekerasan Aparat terhadap Perempuan dalam...

Berikan Komentar Batal Membalas

Situs ini menggunakan Akismet untuk mengurangi spam. Pelajari bagaimana data komentar Anda diproses

Pos Terbaru

  • Buruh Pibee Group Menangkan Tuntutan Pelunasan Upah

    April 10, 2026
  • Ruang Redaksi Belum Aman, AJI Ungkap Kekerasan terhadap Jurnalis Perempuan

    April 9, 2026
  • Aksi Solidaritas Suara Ibu Indonesia Soroti Kekerasan Negara dalam Penyiraman Air Keras terhadap Andrie Yunus

    Maret 17, 2026
  • Solidaritas Serikat Buruh Taru Martani Berujung Kemenangan dalam Aksi Mogok Kerja

    Maret 13, 2026
  • IWD Jogja 2026 Soroti Penindasan Perempuan Kelas Pekerja dan Kelompok Rentan

    Maret 11, 2026

Jurnal Balairung Vol. 2 No. 2 (2020)

Infografis

Moral Tanpa Tuhan

Sampah Kota Ditopang Swadaya Warga

Berebut Gunungkidul

Yu Par, Legenda Kantin bonbin

Menyambut Coming Out Age dengan Berubah Menjadi Panda

Hubungi Kami

Facebook Twitter Instagram Pinterest

Ads

Footer Logo
  • TENTANG KAMI
  • PEDOMAN MEDIA SIBER
  • AWAK
  • KONTAK
  • KONTRIBUSI

©2022 BPPM BALAIRUNG UGM