Balairungpress
  • REDAKSI
    • KILAS
    • ALMAMATER
    • LAPORAN UTAMA
    • APRESIASI
    • INSAN WAWASAN
  • NALAR
    • WAWASAN
    • KAJIAN
  • REHAT
    • ARSIP
    • BUKU
    • FILM
    • OPINI
    • SASTRA
  • BINGKAI
    • ANALEKTA
    • INFOGRAFIS
    • KOMIK
    • PERISTIWA
    • SKETSA
  • PIPMI
    • Direktori
    • Suplemen
    • PUBLIKASI
  • ENEN
  • IDID
Newest post
Diskusi Buku “Pembangunan Untuk Siapa? Kisah Perempuan di...
LPM Himmah UII Ungkap Ketimpangan Pendidikan Dasar di...
Diskusi Perempuan Adat Kritik Jerat Paksaan Industri Ekstraktif
Muat Candaan Seksis, Buku Gadjah Mada Bercanda Karya...
Tilik Relasi Kolonial di Papua dalam Diskusi Papua...
Diskusi Pendidikan dan Demokrasi, Ungkap Gagalnya Pendidikan dalam...
Kota Batik yang Tenggelam
Titah AW: Jurnalisme Bisa Jadi Kanal Pengetahuan Lokal
Membumikan Ilmu Bumi
Kuasa Kolonial Atas Pangan Lokal

Balairungpress

  • REDAKSI
    • KILAS
    • ALMAMATER
    • LAPORAN UTAMA
    • APRESIASI
    • INSAN WAWASAN
  • NALAR
    • WAWASAN
    • KAJIAN
  • REHAT
    • ARSIP
    • BUKU
    • FILM
    • OPINI
    • SASTRA
  • BINGKAI
    • ANALEKTA
    • INFOGRAFIS
    • KOMIK
    • PERISTIWA
    • SKETSA
  • PIPMI
    • Direktori
    • Suplemen
    • PUBLIKASI
  • ENEN
  • IDID
ALMAMATERKILASREDAKSI

Aliansi Rakyat Bergerak Desak Pemerintah Batalkan Kenaikan Harga BBM

September 10, 2022

©Winda/Bal

“Naik-naik, BBM naik, tinggi-tinggi sekali. Kiri-kanan, kulihat saja, banyak rakyat sengsara!”. Kalimat tersebut adalah penggalan salah satu lagu anak-anak yang diparodikan dengan kompak oleh massa aksi pada Rabu (07-09). Ratusan massa yang tergabung dalam Aliansi Rakyat Bergerak (ARB) tersebut memadati depan gerbang kantor DPRD Yogyakarta hingga menutup Jalan Malioboro. Kenaikan harga bahan pokok yang merupakan imbas kenaikan harga BBM menjadi wacana yang disuarakan dalam aksi ini.

Massa tiba di depan gerbang Kantor DPRD Yogyakarta pada pukul 15.30 WIB dan mulai melakukan orasi. Selain ARB, Komunitas Pedagang Kaki Lima dan Becak Motor Malioboro juga turut meramaikan aksi dengan ikut berorasi demi memberikan dukungan kepada massa aksi yang lain.

Aldi, humas ARB, menerangkan pentingnya pemenuhan kebutuhan pokok. Menurutnya, pemenuhan kebutuhan pokok adalah bukti kesejahteraan. Aldi menyayangkan banyaknya anggaran negara yang dialokasi untuk hal-hal yang kurang penting, seperti gaji anggota DPR dan militer. “Seharusnya pemerintah melihat bagaimana kondisi kebutuhan pokok kita ini terlebih dahulu,” ujarnya.

Pedagang asongan di sekitar lokasi aksi juga turut mengeluhkan naiknya harga bahan pokok dagangan mereka. Mereka mengaku terpaksa mengurangi keuntungan karena tidak berani menaikkan harga. “Keuntungan memang berkurang separuh dari biasanya, tapi mau gimana lagi, daripada nganggur,” ujar salah satu pedagang es cendol yang tidak berkenan disebutkan namanya.

Pedagang tersebut merasa lega bahwa suaranya terwakilkan oleh massa aksi. Selama ini, ia mengaku tak berani bersuara karena takut direpresi. Terlebih, sejak pandemi COVID-19, ia dan teman-temannya sudah mati-matian bertahan. Namun nahas, usaha demi usaha ternyata tak selalu membuahkan hasil yang baik. Teman-temannya akhirnya terpaksa pergi dari Yogyakarta karena tuntutan ekonomi. “Dulu kita di kontrakan ada 10 orang, sekarang tinggal 4 orang,” tambahnya.

Di sisi lain, Muhammad yang juga merupakan humas ARB merasakan keberatan atas adanya perusahaan sawit dan batu bara yang menduduki posisi sentral di pemerintahan. Ia mengatakan ada kepentingan oligarki di balik naiknya harga BBM. “Ada oligarki di sana, elite-elite yang ada di Senayan yang kemudian memiliki usaha sawit dan batu bara di Sumatera dan Kalimantan,” tutur Muhammad.

Jika pemerintah masih bersikukuh mempertahankan harga BBM, Muhammad mengatakan ARB akan mengadakan aksi yang lebih besar. ARB berniat mengadakan konsolidasi dalam skala nasional. “ARB akan mengoordinasi dan memobilisasi kawan-kawan nasional dan daerah lain,” jelas Muhammad.

Orasi demi orasi dilakukan hingga pada akhirnya situasi semakin panas. Pada pukul 16.51 WIB, beberapa massa aksi berusaha merobohkan gerbang gedung DPRD. Mereka lalu memaksa masuk ke dalam gedung. Melihat hal tersebut, massa aksi yang lainnya menenangkan mereka dan menghalau upaya masuk agar mencegah bentrok dengan aparat.

Reporter: Fauzi Ramadhan dan Sidney Alvionita
Penulis:
 Lindra Prastica dan Salma Shidqiyah
Penyunting: Alfredo Putrawidjoyo
Fotografer: Winda Hapsari

0
Facebook Twitter Google + Pinterest

Artikel Lainnya

Diskusi Buku “Pembangunan Untuk Siapa? Kisah Perempuan di...

LPM Himmah UII Ungkap Ketimpangan Pendidikan Dasar di...

Diskusi Perempuan Adat Kritik Jerat Paksaan Industri Ekstraktif

Muat Candaan Seksis, Buku Gadjah Mada Bercanda Karya...

Tilik Relasi Kolonial di Papua dalam Diskusi Papua...

Diskusi Pendidikan dan Demokrasi, Ungkap Gagalnya Pendidikan dalam...

Berikan Komentar Batal Membalas

Situs ini menggunakan Akismet untuk mengurangi spam. Pelajari bagaimana data komentar Anda diproses.

Pos Terbaru

  • Diskusi Buku “Pembangunan Untuk Siapa? Kisah Perempuan di Kampung Kami” Soroti Dampak Pembangunan Bagi Ruang Hidup Perempuan

    Desember 25, 2025
  • LPM Himmah UII Ungkap Ketimpangan Pendidikan Dasar di DIY melalui Pameran “Melihat Sekolahku”

    Desember 18, 2025
  • Diskusi Perempuan Adat Kritik Jerat Paksaan Industri Ekstraktif

    Desember 10, 2025
  • Muat Candaan Seksis, Buku Gadjah Mada Bercanda Karya Heri Santoso Tuai Kritik Mahasiswa

    Desember 5, 2025
  • Tilik Relasi Kolonial di Papua dalam Diskusi Papua Bukan Tanah Kosong

    November 24, 2025

Jurnal Balairung Vol. 2 No. 2 (2020)

Infografis

Moral Tanpa Tuhan

Sampah Kota Ditopang Swadaya Warga

Berebut Gunungkidul

Yu Par, Legenda Kantin bonbin

Menyambut Coming Out Age dengan Berubah Menjadi Panda

Hubungi Kami

Facebook Twitter Instagram Pinterest

Ads

Footer Logo
  • TENTANG KAMI
  • PEDOMAN MEDIA SIBER
  • AWAK
  • KONTAK
  • KONTRIBUSI

©2022 BPPM BALAIRUNG UGM