Balairungpress
  • REDAKSI
    • KILAS
    • ALMAMATER
    • LAPORAN UTAMA
    • APRESIASI
    • INSAN WAWASAN
  • NALAR
    • WAWASAN
    • KAJIAN
  • REHAT
    • ARSIP
    • BUKU
    • FILM
    • OPINI
    • SASTRA
  • BINGKAI
    • ANALEKTA
    • INFOGRAFIS
    • KOMIK
    • PERISTIWA
    • SKETSA
  • PIPMI
    • Direktori
    • Suplemen
    • PUBLIKASI
  • ENEN
  • IDID
Newest post
Diskusi Buku “Pembangunan Untuk Siapa? Kisah Perempuan di...
LPM Himmah UII Ungkap Ketimpangan Pendidikan Dasar di...
Diskusi Perempuan Adat Kritik Jerat Paksaan Industri Ekstraktif
Muat Candaan Seksis, Buku Gadjah Mada Bercanda Karya...
Tilik Relasi Kolonial di Papua dalam Diskusi Papua...
Diskusi Pendidikan dan Demokrasi, Ungkap Gagalnya Pendidikan dalam...
Kota Batik yang Tenggelam
Titah AW: Jurnalisme Bisa Jadi Kanal Pengetahuan Lokal
Membumikan Ilmu Bumi
Kuasa Kolonial Atas Pangan Lokal

Balairungpress

  • REDAKSI
    • KILAS
    • ALMAMATER
    • LAPORAN UTAMA
    • APRESIASI
    • INSAN WAWASAN
  • NALAR
    • WAWASAN
    • KAJIAN
  • REHAT
    • ARSIP
    • BUKU
    • FILM
    • OPINI
    • SASTRA
  • BINGKAI
    • ANALEKTA
    • INFOGRAFIS
    • KOMIK
    • PERISTIWA
    • SKETSA
  • PIPMI
    • Direktori
    • Suplemen
    • PUBLIKASI
  • ENEN
  • IDID
ALMAMATERKABARKILAS

Tolak UU Cipta Kerja, Aliansi Rakyat Bergerak Serukan Bangun Dewan Rakyat

Oktober 21, 2020

©Thalia/Bal

Selasa (20-10), ratusan massa aksi berkumpul di Bundaran UGM. Mereka datang dari empat titik, yaitu UNY, UTY, UMY, dan UIN. Massa aksi yang tergabung dalam Aliansi Rakyat Bergerak (ARB) ini berasal dari berbagai elemen masyarakat sipil seperti buruh, Aliansi Mahasiswa Papua, Lingkar Studi Sosialis, Front Mahasiswa Nasional, pelajar, dan mahasiswa dari berbagai kampus di Yogyakarta. Aksi bertajuk “Ruang Rakyat: Semua adalah Warga” ini dilakukan untuk menolak UU Cipta kerja (Ciptaker) sekaligus menyebarkan wacana soal pembentukan Dewan Rakyat.

Lusi, humas ARB, mengatakan bahwa terdapat beberapa hal konseptual yang mendasari Dewan Rakyat. Pertama, ketimpangan yang begitu besar di Indonesia. Hal tersebut berangkat dari data Credit Suisse yang menyatakan bahwa satu persen orang terkaya di Indonesia menguasai 46,6% kekayaan nasional. “Sehingga satu persen orang menguasai kekayaan dari ratusan juta masyarakat Indonesia,” jelasnya. Lusi kemudian mengaitkan kondisi tersebut dengan pengesahan UU Ciptaker. Menurutnya, UU Ciptaker hanya akan semakin meningkatkan ketimpangan di Indonesia. 

Kedua, kerusakan ekologis di Indonesia. Ia menuturkan hal tersebut diperparah oleh UU Ciptaker yang menghilangkan kewajiban bagi perusahaan untuk membuat Analisis Mengenai Dampak Lingkungan (Amdal). “Apabila Amdal dihilangkan, yang terjadi bukan hanya kerusakan ekonomi, namun juga kerusakan alam semesta,” ujarnya. 

Ketiga, demokrasi Indonesia yang saat ini semakin bermasalah. Lusi mengatakan hal tersebut berangkat dari maraknya kriminalisasi terhadap aktivis serta represi dan intimidasi terhadap peserta demonstrasi. “Banyak kampus dan sekolah yang melarang mahasiswa dan pelajarnya ikut demonstrasi, seolah-olah mereka tidak mempunyai akal dan budi,” ungkap Lusi. Menurut dia, pembentukan Dewan Rakyat menjadi penting untuk mewadahi aspirasi tiap individu di Indonesia.

Meskipun demikian, Lusi mengakui bahwa konsep Dewan Rakyat masih dalam proses perumusan. “Selain menolak UU Ciptaker, aksi kali ini juga upaya kita membuka partisipasi seluas-luasnya bagi masyarakat untuk mendiskusikan Dewan Rakyat bersama-sama,” jelasnya. Lusi juga menuturkan bahwa upaya membuka partisipasi tersebut diwujudkan melalui keterbukaan panggung aksi bagi siapapun yang ingin menyuarakan pendapatnya. 

Sekitar pukul 16.00 WIB, simulasi sidang Dewan Rakyat dimulai. Panggung kecil di selatan Bundaran UGM yang semula difungsikan untuk penampilan musik dan orasi, kini beralih sebagai tempat berlangsungnya simulasi sidang Dewan Rakyat. Beberapa perwakilan massa aksi naik ke atas panggung kecil dan duduk menghadap massa aksi. Dipandu oleh seorang moderator, masing-masing dari mereka mulai menceritakan permasalahan yang mereka alami saat ini. 

Yance, perwakilan aliansi mahasiswa Papua, mengatakan urgensi Dewan Rakyat dari sudut pandang  masyarakat Papua. Menurutnya, kebijakan yang dihasilkan sistem pemerintahan saat ini hanya akan merugikan masyarakat Papua. Dalam bidang pendidikan, misalnya, masyarakat Papua dipaksa mengamalkan ukuran kemajuan pembangunan di Jawa. “Kami diajarkan pembangunan kereta api, infrastruktur, hingga keajaiban Candi Prambanan, namun kami tidak pernah diajari pembangunan itu manfaatnya untuk siapa,” ujar Yance. Ia menambahkan bahwa Dewan Rakyat nantinya harus mampu memberikan masyarakat Papua kesempatan untuk menentukan nasibnya sendiri. 

Kawit, seorang warga dari Parangkusumo kemudian menceritakan persoalan perampasan lahan dan penggusuran yang dia alami. Ia mengungkapkan bahwa pembangunan gumuk pasir di Parangkusumo telah menggusur ratusan perumahan warga secara paksa pada 2008. Dengan adanya Dewan Rakyat nanti, Kawit berharap aspirasi rakyat dapat lebih didengar.

Aziz, pemuda asal Desa Wadas, menceritakan penggusuran yang terjadi di desanya karena pembangunan bendungan. Ia memaparkan bahwa cara warga desa melawan penggusuran tersebut adalah dengan menolak berdiskusi bersama tokoh masyarakat Desa Wadas. Hal tersebut disebutnya sebagai keberhasilan warga Wadas menunda pembangunan bendungan. Peristiwa tersebut digunakannya menggambarkan urgensi pembentukan Dewan Rakyat. “Tidak perlu ada perwakilan, sebab suara rakyat dapat datang dari nurani sendiri,” ungkap Aziz.

Aksi ini ditutup dengan penampilan musik dari Sampar. Setelah mereka selesai tampil dan pada pukul 17.00 WIB, massa aksi mulai meninggalkan Bundaran UGM. Beberapa massa aksi pun terlihat memunguti sampah yang berserakan di jalan. Ronald, seorang massa aksi, menilai bahwa saat ini, keberpihakan Dewan Perwakilan Rakyat kepada investor hanya menguntungkan oligarki. Menurut dia, bentuk nyata dari hal tersebut adalah pengesahan UU Ciptaker. “Karena itu, Dewan Rakyat menjadi penting agar mekanisme alokasi sumber daya alam diatur dalam rangka memakmurkan masyarakat luas, bukan hanya segelintir kelompok elite,” pungkasnya. 

Reporter: Affan Asyraf, Alysia Noorma Dani, Bangkit Adhi Wiguna, dan Isabella
Penulis: Muhammad Fadhilah
Penyunting: Harits Naufal Arrazie

aliansi rakyat bergerakDewan RakyatTolak UU Cipta Kerja
1
Facebook Twitter Google + Pinterest

Artikel Lainnya

Diskusi Buku “Pembangunan Untuk Siapa? Kisah Perempuan di...

LPM Himmah UII Ungkap Ketimpangan Pendidikan Dasar di...

Diskusi Perempuan Adat Kritik Jerat Paksaan Industri Ekstraktif

Muat Candaan Seksis, Buku Gadjah Mada Bercanda Karya...

Tilik Relasi Kolonial di Papua dalam Diskusi Papua...

Diskusi Pendidikan dan Demokrasi, Ungkap Gagalnya Pendidikan dalam...

Berikan Komentar Batal Membalas

Situs ini menggunakan Akismet untuk mengurangi spam. Pelajari bagaimana data komentar Anda diproses.

Pos Terbaru

  • Diskusi Buku “Pembangunan Untuk Siapa? Kisah Perempuan di Kampung Kami” Soroti Dampak Pembangunan Bagi Ruang Hidup Perempuan

    Desember 25, 2025
  • LPM Himmah UII Ungkap Ketimpangan Pendidikan Dasar di DIY melalui Pameran “Melihat Sekolahku”

    Desember 18, 2025
  • Diskusi Perempuan Adat Kritik Jerat Paksaan Industri Ekstraktif

    Desember 10, 2025
  • Muat Candaan Seksis, Buku Gadjah Mada Bercanda Karya Heri Santoso Tuai Kritik Mahasiswa

    Desember 5, 2025
  • Tilik Relasi Kolonial di Papua dalam Diskusi Papua Bukan Tanah Kosong

    November 24, 2025

Jurnal Balairung Vol. 2 No. 2 (2020)

Infografis

Moral Tanpa Tuhan

Sampah Kota Ditopang Swadaya Warga

Berebut Gunungkidul

Yu Par, Legenda Kantin bonbin

Menyambut Coming Out Age dengan Berubah Menjadi Panda

Hubungi Kami

Facebook Twitter Instagram Pinterest

Ads

Footer Logo
  • TENTANG KAMI
  • PEDOMAN MEDIA SIBER
  • AWAK
  • KONTAK
  • KONTRIBUSI

©2022 BPPM BALAIRUNG UGM