Balairungpress
  • REDAKSI
    • KILAS
    • ALMAMATER
    • LAPORAN UTAMA
    • APRESIASI
    • INSAN WAWASAN
  • NALAR
    • WAWASAN
    • KAJIAN
  • REHAT
    • ARSIP
    • BUKU
    • FILM
    • OPINI
    • SASTRA
  • BINGKAI
    • ANALEKTA
    • INFOGRAFIS
    • KOMIK
    • PERISTIWA
    • SKETSA
  • PIPMI
    • Direktori
    • Suplemen
    • PUBLIKASI
  • ENEN
  • IDID
Newest post
Tilik Relasi Kolonial di Papua dalam Diskusi Papua...
Diskusi Pendidikan dan Demokrasi, Ungkap Gagalnya Pendidikan dalam...
Kota Batik yang Tenggelam
Titah AW: Jurnalisme Bisa Jadi Kanal Pengetahuan Lokal
Membumikan Ilmu Bumi
Kuasa Kolonial Atas Pangan Lokal
Anis Farikhatin: Guru Kesehatan Reproduksi Butuh Dukungan, Bukan...
Tangan Tak Terlihat di Balik Gerakan Rakyat
Tantangan Konservasi dan Pelestarian Lingkungan dalam Diskusi Ekspedisi...
LBH Yogyakarta Ungkap Intimidasi Aparat Pasca-Aksi Agustus di...

Balairungpress

  • REDAKSI
    • KILAS
    • ALMAMATER
    • LAPORAN UTAMA
    • APRESIASI
    • INSAN WAWASAN
  • NALAR
    • WAWASAN
    • KAJIAN
  • REHAT
    • ARSIP
    • BUKU
    • FILM
    • OPINI
    • SASTRA
  • BINGKAI
    • ANALEKTA
    • INFOGRAFIS
    • KOMIK
    • PERISTIWA
    • SKETSA
  • PIPMI
    • Direktori
    • Suplemen
    • PUBLIKASI
  • ENEN
  • IDID
KABARKILAS

Aksi Penolakan Pilkada Tidak Langsung

September 22, 2014
©Dimas

©Dimas

Tolak Pilkada Tidak Langsung !!! Selamatkan Demokrasi di Indonesia !! Teriakan tersebut membuka aksi yang dikoordinir oleh Institute for Research and Empowerment (IRE) Jogjakarta. Aksi yang bertajuk Penolakan Pilkada Tidak Langsung berlangsung pada hari minggu (21/14) sore di depan Gedung Agung Jalan Malioboro Yogyakarta. Di dalam aksi penolakan, IRE sebagai koordinator aksi juga mengundang berbagai macam Komunitas, seperti Indonesian Court Monitoring (ICM), Narasita, Jaringan Gusdurian dan Masyarakat Anti Kekerasan (Makaryo). Aksi tersebut juga diramaiakan oleh penampilan akustik dari Fajar Merah. Anak Wiji Thukul, aktifis yang hilang di era orde baru.

Acara dibuka dengan orasi dari Ketua Prodi Sosiologi Universitas Gajah Mada (UGM) Arie Sujito, S.Sos, M.Si. Di dalam orasinya, ia menegaskan ada tiga hal yang dilakukan oleh Dewan Perwakilan Rakyat Republik Indonesia (DPR RI). Tiga hal tersebut yaitu, usaha untuk mengontrol pemimpin (presiden), RUU DPR RI adalah bentuk kebangkitan orde baru, dan mengubur demokrasi di Indonesia.

Setelah mendengarkan orasi dari Sujito, Fajar Merah beraksi dengan menyanyikan puisi-puisi milik bapaknya. Ditemui disela-sela aksi, Fajar merah mengatakan bahwa pemilihan pemimpin harus dipilih langsung oleh rakyat. “Jika Pilkada Tidak Langsung diterapkan sama saja membunuh hak rakyat,” tambahnya. Orasi kembali dilanjutkan, kali ini giliran Abdur Rozaki, Dosen Sosiologi Pembangunan Universitas Sunan Kalijaga (UIN). Di dalam orasinya, ia menjelaskan bahwa RUU Pilkada Tidak Langsung adalah bentuk pengembalian demokrasi ke jaman orde baru.

Direktur IRE, Krisjatmiko, menjelaskan bahwa acara ini betujuan untuk menyelamatkan demokrasi di Indonesia menuju demokrasi yang terkonsolidasi. Selain itu, IRE dan komunitas lainnya akan terus mengawal RUU yang sedang ramai diperbicarakan ini. Senada dengan Krisjatmiko, Abdur Rozak juga akan terus mengawal RUU ini. “Jika sampai RUU ini disetujui kami akan menggalang masa dari seluruh Indonesia untuk berangkat ke Jakarta dan menolak keputusan tersebut,” tegasnya.

Selain menggalang masa, ada alternatif lain yang akan dilakukan untuk menolak Pilkada Tidak Langsung. Krisjatmiko menerangkan akan ada Yudisial Review, yaitu menyandingkan Undang-Undang dan Konstitusi ke Mahkamah Agung (MA), Advokasi untuk DPRD baru, dan menyelanggarakan diskusi diberbagai daerah terkait isu tersebut.

Akhirnya, aksi  ditutup dengan pernyataan sikap dari komunitas yang ikut serta dalam aksi. Salah satu isi dari pernyataan tersebut adalah, “Pemilukada Langsung adalah wujud nyata pelaksanaan kedaulatan rakyat di daerah, karena itu harus dipertahankan dan dijaga dari nalar sesat yang rakus kekuasaan.” [Dimas Syibli Muhammad Haikal]

pilkadatolak
0
Facebook Twitter Google + Pinterest

Artikel Lainnya

Tilik Relasi Kolonial di Papua dalam Diskusi Papua...

Diskusi Pendidikan dan Demokrasi, Ungkap Gagalnya Pendidikan dalam...

Tantangan Konservasi dan Pelestarian Lingkungan dalam Diskusi Ekspedisi...

LBH Yogyakarta Ungkap Intimidasi Aparat Pasca-Aksi Agustus di...

Diskusi dan Perilisan Zine Maba Sangaji Basuara, Tilik...

Diskusi Buku dan Budaya, Soroti Peran Sastra Melawan...

Berikan Komentar Batal Membalas

Situs ini menggunakan Akismet untuk mengurangi spam. Pelajari bagaimana data komentar Anda diproses.

Pos Terbaru

  • Tilik Relasi Kolonial di Papua dalam Diskusi Papua Bukan Tanah Kosong

    November 24, 2025
  • Diskusi Pendidikan dan Demokrasi, Ungkap Gagalnya Pendidikan dalam Sikapi Diskriminasi

    November 24, 2025
  • Kota Batik yang Tenggelam

    November 21, 2025
  • Titah AW: Jurnalisme Bisa Jadi Kanal Pengetahuan Lokal

    November 21, 2025
  • Membumikan Ilmu Bumi

    November 21, 2025

Jurnal Balairung Vol. 2 No. 2 (2020)

Infografis

Moral Tanpa Tuhan

Sampah Kota Ditopang Swadaya Warga

Berebut Gunungkidul

Yu Par, Legenda Kantin bonbin

Menyambut Coming Out Age dengan Berubah Menjadi Panda

Hubungi Kami

Facebook Twitter Instagram Pinterest

Ads

Footer Logo
  • TENTANG KAMI
  • PEDOMAN MEDIA SIBER
  • AWAK
  • KONTAK
  • KONTRIBUSI

©2022 BPPM BALAIRUNG UGM