Balairungpress
  • REDAKSI
    • KILAS
    • ALMAMATER
    • LAPORAN UTAMA
    • APRESIASI
    • INSAN WAWASAN
  • NALAR
    • WAWASAN
    • KAJIAN
  • REHAT
    • ARSIP
    • BUKU
    • FILM
    • OPINI
    • SASTRA
  • BINGKAI
    • ANALEKTA
    • INFOGRAFIS
    • KOMIK
    • PERISTIWA
    • SKETSA
  • PIPMI
    • Direktori
    • Suplemen
    • PUBLIKASI
  • ENEN
  • IDID
Newest post
Pesantren Bumi Cendekia Bagikan Upaya Pencegahan Kekerasan Seksual...
Diskusi Buku “Pembangunan Untuk Siapa? Kisah Perempuan di...
LPM Himmah UII Ungkap Ketimpangan Pendidikan Dasar di...
Diskusi Perempuan Adat Kritik Jerat Paksaan Industri Ekstraktif
Muat Candaan Seksis, Buku Gadjah Mada Bercanda Karya...
Tilik Relasi Kolonial di Papua dalam Diskusi Papua...
Diskusi Pendidikan dan Demokrasi, Ungkap Gagalnya Pendidikan dalam...
Kota Batik yang Tenggelam
Titah AW: Jurnalisme Bisa Jadi Kanal Pengetahuan Lokal
Membumikan Ilmu Bumi

Balairungpress

  • REDAKSI
    • KILAS
    • ALMAMATER
    • LAPORAN UTAMA
    • APRESIASI
    • INSAN WAWASAN
  • NALAR
    • WAWASAN
    • KAJIAN
  • REHAT
    • ARSIP
    • BUKU
    • FILM
    • OPINI
    • SASTRA
  • BINGKAI
    • ANALEKTA
    • INFOGRAFIS
    • KOMIK
    • PERISTIWA
    • SKETSA
  • PIPMI
    • Direktori
    • Suplemen
    • PUBLIKASI
  • ENEN
  • IDID
KABARKILAS

PSK UGM Pentaskan Monoteater Pertama

Mei 12, 2014
©Nabila.bal

©Nabila.bal

Jumat (9/4) malam, Pusat Studi Kebudayaan Universitas Gadjah Mada (PSK UGM) menggelar monoteater “Burung Pak Lurah”. Bertempat di Pusat Kebudayaan Koesnadi Hardjasoemantri (PKKH), acara ini diselenggarakan selama dua hari, 8 dan 9 Mei 2014. Menurut Habsari Banyu Jenar selaku penulis naskah, “Burung Pak Lurah” merupakan monoteater pertama di Indonesia. “Mungkin pertunjukan semacam ini pernah dilakukan, tetapi tidak memakai istilah monoteater,” terangnya. Menurut PSK UGM, monoteater merupakan bentuk modifikasi antara monolog dengan teater. Pak Lurah sebagai lakon tunggal dalam pementasan ini diceritakan sebagai orang yang gila jabatan. Untuk memperoleh jabatan lurah pada periode berikutnya, ia nekat mendatangi seorang dukun.

Selain gila jabatan, Pak Lurah juga diceritakan sebagai tulang punggung keluarga. Ia menghidupi istri, anak, dan adik laki-lakinya. Meski begitu, di balik kewibawaan sebagai kepala keluarga dan lurah, ternyata ia memiliki kehidupan lain yang tidak diketahui oleh warganya. Ia seorang homoseksual. Buktinya, ia menjalin asmara dengan anak dukun yang ia datangi. Namun hal itu hanya bisa ia ceritakan kepada tiga burung peliharaannya: John, Jim, dan Surti.

Dalam memerankan ketiga karakter tersebut, Heddy Prasetyo selaku aktor tunggal mengaku mengalami sedikit kesulitan. “Saya sudah 14 tahun tidak bermain teater, jadi napas tersengal-sengal saat pentas,” jelasnya. Dalam pentas, Heddy seolah-olah bermain dengan aktor lainnya. Untuk mendukung aktingnya, ia memanfaatkan properti dan set dekorasi panggung. Ia mengaku banyak melakukan improvisasi. Namun menurut Habsari, improvisasi-improvisasi tersebut tidak mengganggu inti cerita.

“Monoteater ini mengangkat tema politik dan kepemimpinan,” kata Dr. Aprinus Salam yang bertindak menjadi sutradara sekaligus penanggung jawab. Pementasan “Burung Pak Lurah” diselenggarakan diantara pemilu legislatif pada 9 April 2014 dan pemilihan presiden 9 Juli 2014. Hal tersebut sengaja dilakukan karena pementasan ini mengandung konten politik yang akan mengantarkan penonton untuk berpikir ulang tentang makna hak suaranya dalam Pemilu 2014.

“Saya tidak bosan menyaksikan monoteater ini,” kata Muhammad Hamdan Mukafi, penonton. Menurutnya, perpaduan monolog dan teater lebih menarik disaksikan daripada monolog atau teater secara terpisah. Sebab aktor bisa lebih ekspresif dalam monoteater. Menurut Hamdan, kekurangan monoteater ini terletak pada segi dekorasi. Hampir semua properti pentas berwarna putih sehingga kurang mencirikan latar tempat. Menanggapi kritik tersebut, Saeful Anwar selaku pimpinan produksi berkata, “kami meminimalisir dekorasi untuk menekan biaya produksi.”

Senada dengan Saeful, Aprinus menuturkan, “Konsep monoteater dipilih oleh PSK UGM untuk menekan biaya produksi dan energi panitia.” Selain itu, PSK UGM ingin menjadi pelopor bagi teater-teater khususnya teater di UGM. “Dengan adanya pementasan monoteater ini, harapan kami teater menjadi lebih berkembang,” pungkas Aprinus. [Catur Dwi Janati, Ratu Pandan Wangi]

 

kebudayanmonoteaterPSK UGM
0
Facebook Twitter Google + Pinterest

Artikel Lainnya

Pesantren Bumi Cendekia Bagikan Upaya Pencegahan Kekerasan Seksual...

Diskusi Buku “Pembangunan Untuk Siapa? Kisah Perempuan di...

LPM Himmah UII Ungkap Ketimpangan Pendidikan Dasar di...

Diskusi Perempuan Adat Kritik Jerat Paksaan Industri Ekstraktif

Muat Candaan Seksis, Buku Gadjah Mada Bercanda Karya...

Tilik Relasi Kolonial di Papua dalam Diskusi Papua...

Berikan Komentar Batal Membalas

Situs ini menggunakan Akismet untuk mengurangi spam. Pelajari bagaimana data komentar Anda diproses.

Pos Terbaru

  • Pesantren Bumi Cendekia Bagikan Upaya Pencegahan Kekerasan Seksual di Pesantren Lewat Diskusi “Memutus Mata Rantai Kekerasan Seksual di Pesantren”

    Januari 28, 2026
  • Diskusi Buku “Pembangunan Untuk Siapa? Kisah Perempuan di Kampung Kami” Soroti Dampak Pembangunan Bagi Ruang Hidup Perempuan

    Desember 25, 2025
  • LPM Himmah UII Ungkap Ketimpangan Pendidikan Dasar di DIY melalui Pameran “Melihat Sekolahku”

    Desember 18, 2025
  • Diskusi Perempuan Adat Kritik Jerat Paksaan Industri Ekstraktif

    Desember 10, 2025
  • Muat Candaan Seksis, Buku Gadjah Mada Bercanda Karya Heri Santoso Tuai Kritik Mahasiswa

    Desember 5, 2025

Jurnal Balairung Vol. 2 No. 2 (2020)

Infografis

Moral Tanpa Tuhan

Sampah Kota Ditopang Swadaya Warga

Berebut Gunungkidul

Yu Par, Legenda Kantin bonbin

Menyambut Coming Out Age dengan Berubah Menjadi Panda

Hubungi Kami

Facebook Twitter Instagram Pinterest

Ads

Footer Logo
  • TENTANG KAMI
  • PEDOMAN MEDIA SIBER
  • AWAK
  • KONTAK
  • KONTRIBUSI

©2022 BPPM BALAIRUNG UGM