Balairungpress
  • REDAKSI
    • KILAS
    • ALMAMATER
    • LAPORAN UTAMA
    • APRESIASI
    • WAWANCARA
  • NALAR
    • WAWASAN
    • KAJIAN
    • INSAN WAWASAN
  • REHAT
    • ARSIP
    • BUKU
    • FILM
    • OPINI
    • SASTRA
  • BINGKAI
    • ANALEKTA
    • INFOGRAFIS
    • KOMIK
    • PERISTIWA
    • SKETSA
  • PIPMI
    • Direktori
    • Suplemen
    • PUBLIKASI
  • ENEN
  • IDID
  • Menu Item
Newest post
Apakah ada Hari Esok untuk Aku Meminum Obat
Gaboleh Pilih-Pilih Makanan
Aksi Solidaritas untuk Arianto Tawakal Dibalas Kekerasan Ormas...
Forum Kamisan Daring Perluas Jejaring Perlawanan Terhadap Pertambangan...
Pesantren Bumi Cendekia Bagikan Upaya Pencegahan Kekerasan Seksual...
Diskusi Buku “Pembangunan Untuk Siapa? Kisah Perempuan di...
LPM Himmah UII Ungkap Ketimpangan Pendidikan Dasar di...
Diskusi Perempuan Adat Kritik Jerat Paksaan Industri Ekstraktif
Muat Candaan Seksis, Buku Gadjah Mada Bercanda Karya...
Tilik Relasi Kolonial di Papua dalam Diskusi Papua...

Balairungpress

  • REDAKSI
    • KILAS
    • ALMAMATER
    • LAPORAN UTAMA
    • APRESIASI
    • WAWANCARA
  • NALAR
    • WAWASAN
    • KAJIAN
    • INSAN WAWASAN
  • REHAT
    • ARSIP
    • BUKU
    • FILM
    • OPINI
    • SASTRA
  • BINGKAI
    • ANALEKTA
    • INFOGRAFIS
    • KOMIK
    • PERISTIWA
    • SKETSA
  • PIPMI
    • Direktori
    • Suplemen
    • PUBLIKASI
  • ENEN
  • IDID
  • Menu Item
KABARKILASMagang

Konsepsi Koentjaraningrat terhadap Integrasi Nasional

November 4, 2018

©Istimewa

“Kebudayaan adalah solusi,” tutur Prof. Dr. Heddy Shri Ahimsa Putra, Guru Besar Antropologi UGM saat membuka  acara “Koentjaraningrat Memorial Lecture XV/2018” di Bentara Budaya Yogyakarta pada Rabu (31/10). Diskusi ini merupakan kegiatan tahunan dari Forum Kajian Antropologi Indonesia. Kegiatan ini ditujukan untuk mengenang jasa Koentjaraningrat, Bapak Antropologi Indonesia yang meninggal dunia pada tahun 1999.

Heddy menerangkan, negara yang multietnik seperti Indonesia ini seharusnya dapat memperkuat kesatuan bangsa tanpa menghilangkan kebudayaan suku bangsa. Sebagai contoh, pada masa Orde Baru, warga Indonesia keturunan Tionghoa dipaksa untuk menyesuaikan kebudayaan etnik suku bangsanya. Penyesuaian yang dimaksud seperti pergantian nama dan  marga keturunan, pelarangan bahasa Mandarin, serta bentuk diskriminasi lainnya. “Yang menjadi persoalannya adalah bagaimana negara multietnik bisa bersatu tanpa menghilangkan budaya etniknya,” ucap Heddy.

Dalam hal ini, Koentjaraningrat pernah melakukan penelitian terkait masalah integrasi nasional hampir selama 30 tahun di beberapa negara seperti India, Belgia, dan Yugoslavia. Menurutnya, masalah integrasi bukan hanya tugas bagi para pemimpin, tetapi juga merupakan tugas bagi ahli politik, kaum intelektual, dan masyarakat pers. Adapun masyarakat pers yang dimaksudkan seperti media televisi, radio, dan surat kabar. Jika ditilik pada situasi dan kondisi zaman sekarang, pemikiran visioner Koentjaraningrat sangatlah relevan. Mengingat, keterlibatan masyarakat pers memang membawa pengaruh sangat besar bagi terciptanya integrasi nasional guna menjaga kesatuan suatu bangsa.

Koentjaraningrat mengidentifikasi permasalahan integrasi secara tajam dan terperinci. Berdasarkan penelitiannya, terdapat dua asumsi mengenai integrasi. Pertama, suatu negara yang multietnik memerlukan suatu kebudayaan nasional untuk mengintensifkan perasaan serta solidaritas nasional. Kemudian, asumsi kedua yaitu suatu kebudayaan nasional yang kuat akan meningkatkan identitas nasional.

Di akhir sesi, Heddy menjelaskan, apabila permasalahan integrasi tidak bisa diatasi maka akan berpotensi memunculkan disintegrasi nasional. Untuk menanggulangi timbulnya ancaman tersebut, diperlukan berbagai upaya antaranya meminimalisasi perlakuan diskriminasi sesama warga. Selain itu, disintegrasi juga dapat dihindari dengan meniadakan upaya pemaksaan konsep nilai budaya pada penduduk yang dipandang terbelakang. “Pembiaran terjadinya kesenjangan antar daerah juga menimbulkan disintegrasi, maka dari itu harus dihindari,” tutup Heddy.

Penulis: Rizqika Ramadhan  (Magang)
Editor: Rahma Ayu Nabila

integrasiKoentjaraningratnasionalisme
4
Facebook Twitter Google + Pinterest

Artikel Lainnya

Aksi Solidaritas untuk Arianto Tawakal Dibalas Kekerasan Ormas...

Forum Kamisan Daring Perluas Jejaring Perlawanan Terhadap Pertambangan...

Pesantren Bumi Cendekia Bagikan Upaya Pencegahan Kekerasan Seksual...

Diskusi Buku “Pembangunan Untuk Siapa? Kisah Perempuan di...

LPM Himmah UII Ungkap Ketimpangan Pendidikan Dasar di...

Diskusi Perempuan Adat Kritik Jerat Paksaan Industri Ekstraktif

Berikan Komentar Batal Membalas

Situs ini menggunakan Akismet untuk mengurangi spam. Pelajari bagaimana data komentar Anda diproses

Pos Terbaru

  • Apakah ada Hari Esok untuk Aku Meminum Obat

    Maret 1, 2026
  • Gaboleh Pilih-Pilih Makanan

    Maret 1, 2026
  • Aksi Solidaritas untuk Arianto Tawakal Dibalas Kekerasan Ormas DIY

    Maret 1, 2026
  • Forum Kamisan Daring Perluas Jejaring Perlawanan Terhadap Pertambangan Energi Hijau Panas Bumi

    Februari 16, 2026
  • Pesantren Bumi Cendekia Bagikan Upaya Pencegahan Kekerasan Seksual di Pesantren Lewat Diskusi “Memutus Mata Rantai Kekerasan Seksual di Pesantren”

    Januari 28, 2026

Jurnal Balairung Vol. 2 No. 2 (2020)

Infografis

Moral Tanpa Tuhan

Sampah Kota Ditopang Swadaya Warga

Berebut Gunungkidul

Yu Par, Legenda Kantin bonbin

Menyambut Coming Out Age dengan Berubah Menjadi Panda

Hubungi Kami

Facebook Twitter Instagram Pinterest

Ads

Footer Logo
  • TENTANG KAMI
  • PEDOMAN MEDIA SIBER
  • AWAK
  • KONTAK
  • KONTRIBUSI

©2022 BPPM BALAIRUNG UGM