Balairungpress
  • REDAKSI
    • KILAS
    • ALMAMATER
    • LAPORAN UTAMA
    • APRESIASI
    • INSAN WAWASAN
  • NALAR
    • WAWASAN
    • KAJIAN
  • REHAT
    • ARSIP
    • BUKU
    • FILM
    • OPINI
    • SASTRA
  • BINGKAI
    • ANALEKTA
    • INFOGRAFIS
    • KOMIK
    • PERISTIWA
    • SKETSA
  • PIPMI
    • Direktori
    • Suplemen
    • PUBLIKASI
  • ENEN
  • IDID
Newest post
Diskusi Buku “Pembangunan Untuk Siapa? Kisah Perempuan di...
LPM Himmah UII Ungkap Ketimpangan Pendidikan Dasar di...
Diskusi Perempuan Adat Kritik Jerat Paksaan Industri Ekstraktif
Muat Candaan Seksis, Buku Gadjah Mada Bercanda Karya...
Tilik Relasi Kolonial di Papua dalam Diskusi Papua...
Diskusi Pendidikan dan Demokrasi, Ungkap Gagalnya Pendidikan dalam...
Kota Batik yang Tenggelam
Titah AW: Jurnalisme Bisa Jadi Kanal Pengetahuan Lokal
Membumikan Ilmu Bumi
Kuasa Kolonial Atas Pangan Lokal

Balairungpress

  • REDAKSI
    • KILAS
    • ALMAMATER
    • LAPORAN UTAMA
    • APRESIASI
    • INSAN WAWASAN
  • NALAR
    • WAWASAN
    • KAJIAN
  • REHAT
    • ARSIP
    • BUKU
    • FILM
    • OPINI
    • SASTRA
  • BINGKAI
    • ANALEKTA
    • INFOGRAFIS
    • KOMIK
    • PERISTIWA
    • SKETSA
  • PIPMI
    • Direktori
    • Suplemen
    • PUBLIKASI
  • ENEN
  • IDID
ALMAMATERKILAS

Mengulas Fungsi Komik Melalui Diskusi

Februari 23, 2016
©Avivah.bal

©Avivah.bal

Puluhan pecinta komik memenuhi Woocky Cooky Comic Cafe yang terletak di Jalan Arumdulu pada Sabtu, (20/2). Ditempat itu sedang berlangsung acara diskusi bertajuk Introgasi Komikus Kontroversial. Acara tersebut mengundang dua komikus kontroversial yaitu Aji Prasetyo dan Kharsima Jati. Acara ini diselenggarakan oleh Forum Komik Jogja (FKJ). “Diskusi seperti ini memang kami lakukan setiap satu bulan sekali,” tutur Tamam, anggota FKJ sekaligus moderator acara.
Acara ini dibuka oleh moderator diskusi. Pada kesempatan ini, moderator memperkenalkan kedua narasumber secara singkat. Keduanya terkenal karena karyanya banyak membahas tentang isu-isu sosial yang tak pernah diangkat oleh komikus pada umumnya. Aji Prasetyo terkenal dengan komiknya yang berjudul Terorist Visual. Sedangkan Kharisma Jati, lebih dikenal dengan 17+nya.
Setelah pembukaan, tibalah pada inti acara yaitu sesi tanya jawab. Setiap bagian berisi tiga pertanyaan yang diajukan dari pihak peserta di malam hari itu. Peluang ini dimanfaatkan peserta untuk menyodorkan berbagai pertanyaan pada kedua narasumber. Mulai dari karya mereka sampai kehidupan pribadi, tak luput ditanyakan oleh peserta diskusi. Salah seorang peserta bertanya bagaimana cara seniman menghadapi orang yang berbeda pandangan. Mendapati pertanyaan tersebut, Aji menjawabnya dengan tegas. “Ketika sebuah argumen sudah didasari data yang kuat, kita harus yakin. Terkadang, saya membiarkan penggemar komik saya untuk menghadapi orang yang berbeda pandangan dengan saya,” pungkasnya.
Diskusi ini berlangsung selama kurang lebih dua jam. Selama diskusi berlangsung, Kharisma dan Aji menjawab pertanyaan dengan perspektifnya masing-masing. Bagi Fatir Oloy seorang mahasiswa UNY, diskusi ini memiliki makna tersendiri. Menurutnya, acara ini menampilkan dua sosok komikus yang sangat berpengaruh. “Kedua narasumber yang dihadirkan bisa dibilang kontroversial, karya-karyanya tidak sembarangan dibuat karena menggunakan data pendukung,” ungkapnya.
Hadirnya kedua komikus tersebut di Yogyakarta, tak lebih karena sebuah kebetulan. Aji sendiri berasal dari Malang dan sedang singgah ke Jogja selama dua hari. Setelah mengetahui kabar tersebut, FKJ berinisiatif untuk mengundang Aji mengisi acara ngobrol santai. Melalui diskusi ini, diharapkan para peserta dapat melihat komik sebagai kesenian yang berbobot. “Saya berharap pemuda Jogjakarta tidak awam komik dan sadar bahwa komik tidak hanya menghibur, tapi juga mencerahkan,” kata Tamam.
Hal senada juga diucapkan oleh Kharisma Jati. Baginya kualitas komik di Indonesia perlu diperbaiki dari segi konten. Karena itu, melalui diskusi tadi Kharisma berharap bisa mengubah pandangan para peserta tentang fungsi komik itu sendiri. “Komik seharusnya memiliki kualitas yang bagus dan bermutu. Melalui komik para pembaca diharapkan sadar akan berbagai wacana dan isu yang terjadi di sekitar kita,” ujarnya.
Selain untuk mengenalkan fungsi komik sebagai kesenian yang bebobot, diskusi ini juga menjadi sebuah perekat komunitas. Melalui diskusi ini para komunitas pecinta komik Jogja saling berkumpul. “Lewat acara ini diharapkan teman-teman pecinta komik Jogja bisa saling berkenalanan dan saling berbagi lmu,” kata Aisyah Puspa, Administrator FKJ.
Acara diskusi ini berlangsung dengan sukses. Terbukti, peserta memenuhi ruangan yang telah disediakan. Para panitia mengaku terkejut atas antusiasme yang ada. Bahkan, seorang peserta menginginkan diskusi bulanan ini terus dilanjutkan. “Saya ingin acara seperti ini diadakan lagi,” ujar Agung Budi, seorang peserta dari Yogyakarta. [Bernard Evan Kanigara & Farhan Isnaen]

0
Facebook Twitter Google + Pinterest

Artikel Lainnya

Diskusi Buku “Pembangunan Untuk Siapa? Kisah Perempuan di...

LPM Himmah UII Ungkap Ketimpangan Pendidikan Dasar di...

Diskusi Perempuan Adat Kritik Jerat Paksaan Industri Ekstraktif

Muat Candaan Seksis, Buku Gadjah Mada Bercanda Karya...

Tilik Relasi Kolonial di Papua dalam Diskusi Papua...

Diskusi Pendidikan dan Demokrasi, Ungkap Gagalnya Pendidikan dalam...

2 komentar

taufiq Februari 23, 2016 - 14:54

terima kasih sudah dimuat, sekedar koreksi nama jalannya adalah arumdalu, bukan arumdulu

Reply
admin Februari 28, 2016 - 15:54

Terima kasih atas koreksinya 🙂

Reply

Berikan Komentar Batal Membalas

Situs ini menggunakan Akismet untuk mengurangi spam. Pelajari bagaimana data komentar Anda diproses.

Pos Terbaru

  • Diskusi Buku “Pembangunan Untuk Siapa? Kisah Perempuan di Kampung Kami” Soroti Dampak Pembangunan Bagi Ruang Hidup Perempuan

    Desember 25, 2025
  • LPM Himmah UII Ungkap Ketimpangan Pendidikan Dasar di DIY melalui Pameran “Melihat Sekolahku”

    Desember 18, 2025
  • Diskusi Perempuan Adat Kritik Jerat Paksaan Industri Ekstraktif

    Desember 10, 2025
  • Muat Candaan Seksis, Buku Gadjah Mada Bercanda Karya Heri Santoso Tuai Kritik Mahasiswa

    Desember 5, 2025
  • Tilik Relasi Kolonial di Papua dalam Diskusi Papua Bukan Tanah Kosong

    November 24, 2025

Jurnal Balairung Vol. 2 No. 2 (2020)

Infografis

Moral Tanpa Tuhan

Sampah Kota Ditopang Swadaya Warga

Berebut Gunungkidul

Yu Par, Legenda Kantin bonbin

Menyambut Coming Out Age dengan Berubah Menjadi Panda

Hubungi Kami

Facebook Twitter Instagram Pinterest

Ads

Footer Logo
  • TENTANG KAMI
  • PEDOMAN MEDIA SIBER
  • AWAK
  • KONTAK
  • KONTRIBUSI

©2022 BPPM BALAIRUNG UGM