Balairungpress
  • REDAKSI
    • KILAS
    • ALMAMATER
    • LAPORAN UTAMA
    • APRESIASI
    • INSAN WAWASAN
  • NALAR
    • WAWASAN
    • KAJIAN
  • REHAT
    • ARSIP
    • BUKU
    • FILM
    • OPINI
    • SASTRA
  • BINGKAI
    • ANALEKTA
    • INFOGRAFIS
    • KOMIK
    • PERISTIWA
    • SKETSA
  • PIPMI
    • Direktori
    • Suplemen
    • PUBLIKASI
  • ENEN
  • IDID
Newest post
Diskusi Buku “Pembangunan Untuk Siapa? Kisah Perempuan di...
LPM Himmah UII Ungkap Ketimpangan Pendidikan Dasar di...
Diskusi Perempuan Adat Kritik Jerat Paksaan Industri Ekstraktif
Muat Candaan Seksis, Buku Gadjah Mada Bercanda Karya...
Tilik Relasi Kolonial di Papua dalam Diskusi Papua...
Diskusi Pendidikan dan Demokrasi, Ungkap Gagalnya Pendidikan dalam...
Kota Batik yang Tenggelam
Titah AW: Jurnalisme Bisa Jadi Kanal Pengetahuan Lokal
Membumikan Ilmu Bumi
Kuasa Kolonial Atas Pangan Lokal

Balairungpress

  • REDAKSI
    • KILAS
    • ALMAMATER
    • LAPORAN UTAMA
    • APRESIASI
    • INSAN WAWASAN
  • NALAR
    • WAWASAN
    • KAJIAN
  • REHAT
    • ARSIP
    • BUKU
    • FILM
    • OPINI
    • SASTRA
  • BINGKAI
    • ANALEKTA
    • INFOGRAFIS
    • KOMIK
    • PERISTIWA
    • SKETSA
  • PIPMI
    • Direktori
    • Suplemen
    • PUBLIKASI
  • ENEN
  • IDID
KABARKILAS

Lebih Dekat dengan Penyandang Tuna Rungu

Desember 2, 2013

Lebih Dekat dengan Penyandang Tuna Rungu

Sabtu (30/11) Fakultas Psikologi Universitas Gadjah Mada (UGM) menyelenggarakan workshop bertema “Listening by Looking”. Workshop tersebut diselenggarakan dalam rangka peringatan Dies Natalis Fakultas Psikologi ke-49 yang bertempat di gedung G100 Fakultas Psikologi UGM. Workshop ini membahas tentang cara berkomunikasi dengan bahasa isyarat.

Pada workshop “Listening by Looking” para peserta diajarkan bagaimana menggunakan bahasa isyarat. Bahasa isyarat yang diajarkan mulai dari isyarat huruf-huruf sampai dengan kosakata yang sering digunakan dalam kehidupan sehari-hari. Melalui kegiatan ini, Haidar Buldan, selaku ketua panitia berharap masyarakat awam tahu bagaimana cara berkomunikasi dengan penyandang tuna rungu. “Harapan saya, kita dapat berkomunikasi dengan penyandang tuna rungu tanpa hambatan, sehingga kita semua bisa lebih dekat dan akrab,” ungkapnya.

Untuk mencapai tujuannya, Buldan bekerjasama dengan Deaf Art Community Yogyakarta. Deaf Art Community Yogyakarta merupakan suatu komunitas yang di dalamnya terdiri dari kaum penyandang tuna rungu di Yogyakarta. Anggota Deaf Art Community langsung turun tangan untuk mengajari bahasa isyarat kepada peserta. Gerakan-gerakan yang diajarkan menggunakan satu tangan dan dua tangan. Misalnya, untuk menggambarkan seorang bapak, mereka meletakkan telunjuk dibawah hidung, yang seakan-akan menggambarkan kumis. Selain itu, salah seorang pemateri juga mengajarkan bagaimana menggunakan mimik wajah ketika ingin mengatakan sesuatu. Selama pemateri memberi contoh gerakan didepan, semua peserta menirukan gerakan-gerakan yang diajarkan.

Workshop ini berhasil menarik antusiasme masyarakat. Buktinya, sebanyak 43 peserta dari berbagai kampus di Yogyakarta dan sekitarnya hadir memenuhi ruangan workshop. “Ada juga lho peserta yang jauh-jauh datang dari Semarang untuk menghadiri workshop ini,” jelas Elvina selaku koordinator acara. Salah satu peserta mengemukakan alasannya tertarik untuk mengikuti acara ini, “Awalnya penasaran, kemudian jadi ingin tahu seperti apa workshop bahasa isyarat itu,” papar Femi seorang mahasiswa S2 Psikologi UGM.

Selain untuk mendekatkan masyarakat dengan penyandang tuna rungu, acara ini juga sebagai bekal bagi peserta lomba bahasa isyarat yang dilaksanakan Minggu (1/12). Lomba ini juga diadakan agar masyarakat bisa berinteraksi secara nyata dengan kaum difabel. Broto Wijayanto sebagai pendiri Deaf Art Community Yogyakarta berharap dengan acara seperti ini masyarakat mampu menerima penyandang tuna rungu apa adanya. “Saya berharap masyarakat bisa menganggap mereka seperti teman sendiri, seperti saya menganggap mereka sebagai teman saya.” (Hidayatmi, Erny Kurniawati, Rizky Wahyuni)

Dies Natalisdifabelfakultas psikologikomunitas
0
Facebook Twitter Google + Pinterest

Artikel Lainnya

Diskusi Buku “Pembangunan Untuk Siapa? Kisah Perempuan di...

LPM Himmah UII Ungkap Ketimpangan Pendidikan Dasar di...

Diskusi Perempuan Adat Kritik Jerat Paksaan Industri Ekstraktif

Muat Candaan Seksis, Buku Gadjah Mada Bercanda Karya...

Tilik Relasi Kolonial di Papua dalam Diskusi Papua...

Diskusi Pendidikan dan Demokrasi, Ungkap Gagalnya Pendidikan dalam...

Berikan Komentar Batal Membalas

Situs ini menggunakan Akismet untuk mengurangi spam. Pelajari bagaimana data komentar Anda diproses.

Pos Terbaru

  • Diskusi Buku “Pembangunan Untuk Siapa? Kisah Perempuan di Kampung Kami” Soroti Dampak Pembangunan Bagi Ruang Hidup Perempuan

    Desember 25, 2025
  • LPM Himmah UII Ungkap Ketimpangan Pendidikan Dasar di DIY melalui Pameran “Melihat Sekolahku”

    Desember 18, 2025
  • Diskusi Perempuan Adat Kritik Jerat Paksaan Industri Ekstraktif

    Desember 10, 2025
  • Muat Candaan Seksis, Buku Gadjah Mada Bercanda Karya Heri Santoso Tuai Kritik Mahasiswa

    Desember 5, 2025
  • Tilik Relasi Kolonial di Papua dalam Diskusi Papua Bukan Tanah Kosong

    November 24, 2025

Jurnal Balairung Vol. 2 No. 2 (2020)

Infografis

Moral Tanpa Tuhan

Sampah Kota Ditopang Swadaya Warga

Berebut Gunungkidul

Yu Par, Legenda Kantin bonbin

Menyambut Coming Out Age dengan Berubah Menjadi Panda

Hubungi Kami

Facebook Twitter Instagram Pinterest

Ads

Footer Logo
  • TENTANG KAMI
  • PEDOMAN MEDIA SIBER
  • AWAK
  • KONTAK
  • KONTRIBUSI

©2022 BPPM BALAIRUNG UGM