
©Zidan/Bal
Sejumlah buruh dari Pibee Group, vendor yang bergerak di bidang Food & Beverages, menggelar aksi unjuk rasa di depan Kalya Hotel, Yogyakarta, pada Senin, (06-04). Dalam aksi tersebut, mereka didampingi oleh Lembaga Bantuan Hukum Merdeka Sejahtera (LBH Semesta) dan Federasi Serikat Merdeka Sejahtera (F-SEMESTA) . Aksi ini dipicu oleh keterlambatan pembayaran upah 10 buruh yang telah menuntaskan masa kerjanya di Kalya Hotel.
Seorang buruh bernama Farid (bukan nama sebenarnya) menjelaskan duduk perkara keterlambatan upah yang menyebabkan buruh Pibee Group melangsungkan aksi. Ia menerangkan bahwa hal ini berangkat dari masalah internal Kalya Hotel mengenai administrasi dan pajak yang menghalau faktur biaya operasional turun ke Pibee Group. Menurut Farid, Pibee Group sempat menambal biaya operasional Kalya Hotel hingga tak sanggup lagi dan kerja sama terhenti. Selain berimbas pada pemutusan kerja sama, kejelasan pembayaran upah buruh juga tidak terselesaikan. “Nah, pada saat kedua belah pihak [hotel dan vendor -red] tahu gaji anak-anak ini belum terbayarkan, malah mereka ini saling lempar bola,” lanjut Farid.
Permasalahan tersebut lantas memantik para buruh untuk turun ke jalan. Pukul 08.00 pagi, massa memulai aksi dengan menyampaikan tuntutan serta mengajak Manajemen Hotel, Dedi Kurniawan; Dinas Sosial Tenaga Kerja dan Transmigrasi, Bob Rinaldi; serta perwakilan dari Pibee Group, Hendi Permana Putra untuk berunding. Tak lama berselang, Dedi dan Hendi bersama Sutarto selaku Kepala Kepolisian Sektor (Kapolsek) Kotagede serta Ma’arif selaku Mantri Pamong Praja (MPP) Kotagede menemui massa untuk menyerukan persetujuan berunding. Dedi awalnya bersikeras agar perundingan hanya dihadiri oleh perwakilan massa, tetapi langsung ditolak oleh LBH Semesta dan F-SEMESTA. “Masuk ya masuk semua, diem ya diem semua,” tegas Fajar (bukan nama sebenarnya), salah satu perwakilan F-Semesta.
Massa aksi lantas masuk ke Hotel Kalya setelah melewati body check dan penyitaan atribut aksi, mulai dari poster hingga bendera F-SEMESTA. Setibanya di ruang perundingan, massa aksi bersama Sutarto, Dedi, Bob, Hendi, dan Ma’arif melangsungkan diskusi selama kurang lebih 30 menit. Dalam diskusi itu, para buruh mendesak manajerial hotel untuk segera melunasi tanggungan upah yang telah menunggak selama 2 bulan. Namun, Dedi hanya melontarkan jawaban diplomatis tanpa memberi kejelasan terkait waktu pembayaran upah. “Kalian itu anak-anak saya, teman-teman saya, rekan kerja saya. Susah senangnya kalian itu saya dampingi terus,” ungkap Dedi.
Meski demikian, para buruh tetap gigih menyampaikan tuntutan mereka. Secara bergantian, buruh mengungkapkan masalah lain selain keterlambatan pembayaran upah, seperti metode pembayaran upah yang dicicil pada bulan-bulan sebelumnya. “Kalau semisal hari ini gaji belum masuk ke rekening kita, kita tetap di sini,” desak Rima (bukan nama sebenarnya), salah satu buruh yang ikut terlibat aksi. Setelahnya, pihak manajerial hotel pun menjanjikan pembayaran upah dengan tenggat pengiriman pukul 14.00 WIB. Janji tersebut berakhir dengan kemenangan para buruh setelah upah dibayarkan secara lunas.
Penulis: Aurelia Josephina dan Azizah Bilqis
Penyunting: Anggun Ravisti
Fotografer: Zidan Ahkam
Kurator: Adhitia Sutanto