Balairungpress
  • REDAKSI
    • KILAS
    • ALMAMATER
    • LAPORAN UTAMA
    • APRESIASI
    • WAWANCARA
  • NALAR
    • WAWASAN
    • KAJIAN
    • INSAN WAWASAN
  • REHAT
    • ARSIP
    • BUKU
    • FILM
    • OPINI
    • SASTRA
  • BINGKAI
    • ANALEKTA
    • INFOGRAFIS
    • KOMIK
    • PERISTIWA
    • SKETSA
  • PIPMI
    • Direktori
    • Suplemen
    • PUBLIKASI
  • ENEN
  • IDID
  • Menu Item
Newest post
IWD Jogja 2026 Soroti Penindasan Perempuan Kelas Pekerja...
Napas Panjang Relokasi Imbas Ambisi Proyek Sumbu Filosofi
Diskusi LSF Ungkap Kekerasan Aparat terhadap Perempuan dalam...
Apakah ada Hari Esok untuk Aku Meminum Obat
Gaboleh Pilih-Pilih Makanan
Aksi Solidaritas untuk Arianto Tawakal Dibalas Kekerasan Ormas...
Forum Kamisan Daring Perluas Jejaring Perlawanan Terhadap Pertambangan...
Pesantren Bumi Cendekia Bagikan Upaya Pencegahan Kekerasan Seksual...
Diskusi Buku “Pembangunan Untuk Siapa? Kisah Perempuan di...
LPM Himmah UII Ungkap Ketimpangan Pendidikan Dasar di...

Balairungpress

  • REDAKSI
    • KILAS
    • ALMAMATER
    • LAPORAN UTAMA
    • APRESIASI
    • WAWANCARA
  • NALAR
    • WAWASAN
    • KAJIAN
    • INSAN WAWASAN
  • REHAT
    • ARSIP
    • BUKU
    • FILM
    • OPINI
    • SASTRA
  • BINGKAI
    • ANALEKTA
    • INFOGRAFIS
    • KOMIK
    • PERISTIWA
    • SKETSA
  • PIPMI
    • Direktori
    • Suplemen
    • PUBLIKASI
  • ENEN
  • IDID
  • Menu Item
KILAS

IWD Jogja 2026 Soroti Penindasan Perempuan Kelas Pekerja dan Kelompok Rentan

Maret 11, 2026

“Jika perempuan belum sepenuhnya bebas, masyarakat pun belum bebas,” gaung salah satu orator di tengah massa aksi International Women’s Day (IWD) di Titik Nol Kilometer Yogyakarta pada Minggu, (08-03). Aksi tersebut diselenggarakan oleh sejumlah organisasi dan komunitas perempuan dalam rangka memperingati Hari Perempuan Internasional. Dalam aksi itu, massa aksi menyoroti penindasan terhadap perempuan kelas pekerja dan kelompok rentan. Hal ini mereka suarakan lewat berbagai poin tuntutan, seperti jaminan upah layak, pemenuhan hak kesehatan reproduksi, hingga penghentian perampasan ruang hidup dan genosida.

Rini, salah satu moderator aksi, menyebutkan bahwa peringatan Hari Perempuan Internasional tahun ini mengusung tema “Perempuan* Hempaskan Penindasan” dengan landasan feminisme interseksional. Adapun feminisme interseksional yang dimaksud adalah kerangka berpikir yang mengakui identitas sosial yang tidak tunggal dari perempuan, seperti ras, kelas sosial, hingga orientasi seksual. Rini menjelaskan bahwa penggunaan tanda bintang pada kata perempuan* dalam tema IWD merupakan simbol upaya merangkul     keberagaman identitas tersebut. “Kan perempuan nggak cuma satu identitas, ya, ada perempuan pekerja. Bekerjanya pun macam-macam, ada yang di kantor, ada yang bekerja sebagai pendidik, ada buruh,” tutur Nana.

Rini juga menambahkan bahwa Komite IWD Yogyakarta menggunakan kacamata interseksional untuk menekankan kondisi perempuan kelas pekerja. Ia menjelaskan bahwa saat ini terdapat banyak perempuan yang bekerja di sektor informal, seperti pekerja rumah tangga (PRT). Padahal, Rancangan Undang-Undang Perlindungan Pekerja Rumah Tangga (RUU PPRT) tak kunjung disahkan. “Tanggal 8 Maret ini menjadi sebuah pengingat dan pendorong lagi kayak, ‘woy, cepetan! Kita harus sahkan RUU PPRT!’ gitu,” terang Rini.

Oleh sebab itu, Eni Lestari selaku Ketua International Migrants Alliance (IMA) menilai bahwa Hari Perempuan Internasional merupakan hari penting bagi gerakan perlawanan perempuan kelas pekerja terhadap sistem kapitalisme. Ia menyoroti perlawanan yang terjadi semasa revolusi industri saat kapitalisme mengeksploitasi buruh. “Karena perempuan yang ketika [revolusi industri-red] banyak menjadi buruh pabrik yang dieksploitasi sistem kapitalisme, banyak melakukan pengorganisasian dan pemberontakan,” tegas Eni.

Eni menyebutkan asal muasal lain dalam penindasan terhadap perempuan kelas pekerja dan kelompok rentan. Ia menyoroti kondisi geopolitik yang kian agresif akibat ambisi imperialisme global yang menyeret banyak negara ke dalam skema perang. Akibatnya, banyak perempuan terpaksa mencari kerja ke luar negeri dan terjebak dalam sistem perbudakan modern, penipuan, hingga perdagangan manusia. “Hormati kedaulatan, berikan hak pangan dan pekerjaan layak kepada seluruh rakyat, khususnya perempuan dan anak-anak,” sebutnya.

Di sela-sela aksi, Nana dan Rini menyoroti sikap yang perlu dilakukan untuk menyikapi persoalan tidak diakuinya keberagaman identitas perempuan. “Sebagai perempuan itu [harus paham bahwa-red] ada teman-teman perempuan lain yang punya identitas yang berbeda,” ujar Nana. Bagi Nana dan Rini, IWD menjadi wadah bagi perempuan dengan beragam latar belakang untuk saling menguatkan. Ragam identitas tersebut, menurut Nana, harus diakui dan diterima oleh negara agar kebutuhan mereka dapat terakomodasi.

Nana dan Rini juga berharap agar perempuan Indonesia tetap terhubung dalam jejaring komunitas demi menjaga solidaritas antarperempuan. Keduanya bersepakat bahwa perjuangan kesetaraan tidak akan pernah usai selama masih ada perempuan yang tertindas. “Kita semua tuh harus menghempaskan segala bentuk penindasan. Jadi, kalau misalnya satu belum merdeka, ya semuanya nggak merdeka,” tutur Rini.

Penulis: Adhiyaksa Wahyu N.I dan Anisa Cahya
Penyunting: Rifky Wildhani
Fotografer: Alima Tasnim
Kurator: Aiken Gimnastiar

2
Facebook Twitter Google + Pinterest

Artikel Lainnya

Diskusi LSF Ungkap Kekerasan Aparat terhadap Perempuan dalam...

Aksi Solidaritas untuk Arianto Tawakal Dibalas Kekerasan Ormas...

Forum Kamisan Daring Perluas Jejaring Perlawanan Terhadap Pertambangan...

Pesantren Bumi Cendekia Bagikan Upaya Pencegahan Kekerasan Seksual...

Diskusi Buku “Pembangunan Untuk Siapa? Kisah Perempuan di...

LPM Himmah UII Ungkap Ketimpangan Pendidikan Dasar di...

Berikan Komentar Batal Membalas

Situs ini menggunakan Akismet untuk mengurangi spam. Pelajari bagaimana data komentar Anda diproses

Pos Terbaru

  • IWD Jogja 2026 Soroti Penindasan Perempuan Kelas Pekerja dan Kelompok Rentan

    Maret 11, 2026
  • Napas Panjang Relokasi Imbas Ambisi Proyek Sumbu Filosofi

    Maret 11, 2026
  • Diskusi LSF Ungkap Kekerasan Aparat terhadap Perempuan dalam Konflik Agraria PSN Banten

    Maret 7, 2026
  • Apakah ada Hari Esok untuk Aku Meminum Obat

    Maret 1, 2026
  • Gaboleh Pilih-Pilih Makanan

    Maret 1, 2026

Jurnal Balairung Vol. 2 No. 2 (2020)

Infografis

Moral Tanpa Tuhan

Sampah Kota Ditopang Swadaya Warga

Berebut Gunungkidul

Yu Par, Legenda Kantin bonbin

Menyambut Coming Out Age dengan Berubah Menjadi Panda

Hubungi Kami

Facebook Twitter Instagram Pinterest

Ads

Footer Logo
  • TENTANG KAMI
  • PEDOMAN MEDIA SIBER
  • AWAK
  • KONTAK
  • KONTRIBUSI

©2022 BPPM BALAIRUNG UGM