
©Kahfi/Bal
Petang hari menjelang berbuka puasa, Suara Ibu Indonesia mengadakan aksi solidaritas dan doa bersama pada Sabtu, (14-03) di Bundaran Universitas Gadjah Mada (UGM). Aksi yang dihadiri sejumlah elemen masyarakat ini diselenggarakan sebagai dukungan kepada Wakil Koordinator Komisi untuk Orang Hilang dan Korban Tindak Kekerasan (KontraS), Andrie Yunus. Sebelumnya, Andrie menjadi korban penyiraman air keras oleh orang tak dikenal setelah melakukan perekaman siniar di Kantor Yayasan Lembaga Bantuan Hukum (YLBHI), Jakarta, pada Jumat, (13-03) malam.
Federasi KontraS dan International Service for Human Rights (ISHR) dalam siaran persnya menyebutkan bahwa penyiraman air keras terhadap Andrie ini merupakan upaya intimidasi untuk membangun teror dan ketakutan pada masyarakat sipil. Selanjutnya, Suara Ibu Indonesia mengadakan aksi ini untuk menuntut Kepolisian Negara Kesatuan Republik Indonesia (POLRI) agar mengungkap pelaku teror kepada Andrie Yunus. Mereka berharap tuntutan itu dipenuhi dalam waktu selambat-lambatnya tujuh hari ke depan. Selain itu, aksi ini juga menuntut adanya transparansi kepada publik terkait identitas serta motif pelaku teror kepada aktivis-aktivis pro-demokrasi. Cilla, salah satu peserta aksi mengatakan, “Kita sama-sama berharap bahwa negara bisa memberikan jaminan, keamanan dan perlindungan kepada masyarakat sipil dan pejuang HAM.”
Di awal aksi, Kalis Mardiasih sebagai perwakilan Suara Ibu Indonesia mulai membacakan surat yang ditujukan kepada Andrie Yunus. Ia menceritakan isi surat yang berisi kronologi teror yang didapat Andrie. Sebelum penyiraman air keras, Andrie sempat mendapatkan teror dan ancaman lewat pesan dan panggilan telepon. Kalis menilai bahwa rentetan teror tersebut tidak mungkin dilakukan oleh masyarakat biasa. “Bukan, ini bukan peristiwa kriminal jalanan. Ini memang state terrorism atau teror yang dikirim oleh negara,” jelas Kalis dalam suratnya.
Surat yang dibacakan dengan semangat membara oleh Kalis menyoroti adanya dugaan keterlibatan pemerintah dalam rentetan aksi teror tersebut. Menurutnya, kehidupan warga sipil biasa dapat berakhir bukan hanya karena sakit keras, mengakhiri hidup, ataupun dibunuh oleh pelaku kriminal biasa. “Tapi oleh state terrorism atau kekerasan yang dilakukan oleh negara,” jelas Kalis. Ia juga menilai bahwa teror semacam ini tidak berdiri sendiri, melainkan dipicu oleh impunitas yang membuat kasus-kasus serupa terus berulang tanpa penyelesaian.
Merespons pola teror semacam ini, Kalis menilai posisi warga sipil menjadi timpang karena negara memiliki sumber daya dan kekuasaan yang jauh lebih besar. Menurutnya, negara memiliki akses lebih terhadap data, informasi, pendanaan, hingga instrumen kekerasan. “Kita cuma bisa teriak, kita cuma punya suara dan kehadiran,” tambah Kalis.
Inun, moderator aksi yang turut mendampingi Suara Ibu Indonesia, menyebut peristiwa penyiraman air keras terhadap Andrie Yunus bukanlah kejadian pertama. Ia menilai sudah banyak intimidasi yang dilakukan oleh pemerintah terhadap masyarakat sipil yang bersuara, mulai dari teror simbolik berupa pengiriman kepala babi hingga penangkapan sejumlah tahanan politik. Rentetan kasus-kasus ini telah memicu kemarahan masyarakat yang kemudian mencapai puncaknya dalam insiden terbaru yang mengorbankan Andrie Yunus. “Ini sudah terjadi sejak lama dan kita berdiri di sini untuk mengingatkan bahwa kita enggak takut,” jelas Inun.
Senada dengan Inun, Masitoh Nur Rohma, seorang peserta aksi dari UII, juga menyoroti terkait kekerasan yang dilakukan oleh negara belakangan ini. “Negara itu sebenarnya memiliki kewajiban untuk menciptakan keamanan bagi semua pihak yang ada dalam wilayah teritorinya, ketika state terrorism ini terjadi, maka fungsi pengamanan itu menjadi dipertanyakan,” jelas Masitoh. Ia menilai tindakan tersebut adalah pelanggaran keras yang dilakukan negara. Masitoh menyebutkan, semestinya masyarakat mempunyai hak mendasar untuk bersuara selama tidak melanggar hukum dan tidak merugikan orang lain.
Selain dari pembacaan pidato dan surat, di akhir aksi, massa turut melakukan doa bersama yang dipimpin oleh Masitoh, serta Risang Anggoro, pendeta Gereja Kristen Jawa (GKJ) Condongcatur dan Zaki, anggota Suara Ibu Indonesia. Melalui doa ini, mereka berharap agar Andrie Yunus dapat diberi kesembuhan dan kekuatan untuk terus berani dalam melawan pembungkaman. “Jangan biarkan percobaan pembunuhan, kekerasan, kezaliman terjadi kepada siapa pun, termasuk kepada mereka yang selalu bersuara lantang saat terjadi ketidakadilan,” ucap Zaki dalam doanya.
Penulis: Aditya Fernando dan Chuzaima B.
Penyunting: Lidwina Laras
Fotografer: Muhammad Al Kahfi
Kurator: Aiken Gimnastiar