Balairungpress
  • REDAKSI
    • KILAS
    • ALMAMATER
    • LAPORAN UTAMA
    • APRESIASI
    • WAWANCARA
  • NALAR
    • WAWASAN
    • KAJIAN
    • INSAN WAWASAN
  • REHAT
    • ARSIP
    • BUKU
    • FILM
    • OPINI
    • SASTRA
  • BINGKAI
    • ANALEKTA
    • INFOGRAFIS
    • KOMIK
    • PERISTIWA
    • SKETSA
  • PIPMI
    • Direktori
    • Suplemen
    • PUBLIKASI
  • Tentang Kami
    • KONTAK
    • Masthead
  • ENEN
  • IDID
Latest post
Ruang Redaksi Belum Aman, AJI Ungkap Kekerasan terhadap...
Aksi Solidaritas Suara Ibu Indonesia Soroti Kekerasan Negara...
Solidaritas Serikat Buruh Taru Martani Berujung Kemenangan dalam...
IWD Jogja 2026 Soroti Penindasan Perempuan Kelas Pekerja...
Napas Panjang Relokasi Imbas Ambisi Proyek Sumbu Filosofi
Diskusi LSF Ungkap Kekerasan Aparat terhadap Perempuan dalam...
Apakah ada Hari Esok untuk Aku Meminum Obat
Gaboleh Pilih-Pilih Makanan
Aksi Solidaritas untuk Arianto Tawakal Dibalas Kekerasan Ormas...
Forum Kamisan Daring Perluas Jejaring Perlawanan Terhadap Pertambangan...

Balairungpress

  • REDAKSI
    • KILAS
    • ALMAMATER
    • LAPORAN UTAMA
    • APRESIASI
    • WAWANCARA
  • NALAR
    • WAWASAN
    • KAJIAN
    • INSAN WAWASAN
  • REHAT
    • ARSIP
    • BUKU
    • FILM
    • OPINI
    • SASTRA
  • BINGKAI
    • ANALEKTA
    • INFOGRAFIS
    • KOMIK
    • PERISTIWA
    • SKETSA
  • PIPMI
    • Direktori
    • Suplemen
    • PUBLIKASI
  • Tentang Kami
    • KONTAK
    • Masthead
  • ENEN
  • IDID
KILAS

Mengupas Narasi Pembangunan dari Sisi Ekofeminisme

April 7, 2024

©Rama/Bal

Jurusan Sosiologi Fakultas Ilmu Sosial dan Politik (FISIP) Universitas Sriwijaya (UNSRI) melangsungkan bedah buku Tidak Ada Cerita Tunggal dalam diskusi bertajuk “Ekofeminisme, Mendobrak Narasi Tunggal Pembangunan.” Diskusi ini diadakan pada Rabu (03-04) dengan menghadirkan dua penulis buku, Vieronica Varbi Sununianti, dosen Sosiologi FISIP UNSRI dan Siti Maimunah, peneliti Sajogyo Institute dan pendiri Ruang Baca Puan. Melalui diskusi ini, mereka memaparkan argumen perlawanan ekofeminisme terhadap sistem patriarki dan kapitalisme pembangunan yang menargetkan perempuan dan alam untuk dieksploitasi.

Vieronica memulai sesi diskusi dengan membahas tema isu pembangunan dalam bukunya. Ia memaparkan bahwa dalam narasi pembangunan, pada umumnya bertujuan untuk mencapai pertumbuhan dan kemakmuran ekonomi. Namun, menurutnya relasi yang mengejar pertumbuhan pembangunan akan cenderung memisahkan hubungan antara manusia dengan manusia, manusia dengan alam, dan manusia dengan nonmanusia. Vieronica juga menambahkan, di balik pertumbuhan dan kemakmuran yang menjadi tujuan utama pembangunan, ada pihak-pihak lain yang terdiskriminasi. “Hal inilah [pihak-pihak yang didiskriminasi-red] yang diperjuangkan oleh ekofeminisme,” jelasnya.

Lebih lanjut, Vieronica menjelaskan persoalan narasi pembangunan yang melibatkan beberapa pihak yang berusaha mengeruk sumber daya ekonomi dan alam tanpa memikirkan dampaknya pada masyarakat. Baginya, narasi pembangunan hanya mendukung korporasi besar, contohnya dalam proyek food estate yang merugikan petani lokal dan lingkungan akibat pembukaan lahan besar-besaran. “Jadi, bisa dilihat kerangkanya bahwa kemiskinan itu sengaja diciptakan secara struktural,” tukas Vieronica.

Siti Maimunah yang akrab disapa Mai Jebing mendukung argumen Vieronica mengenai narasi pembangunan. Ia menjelaskan keadaan setelah Perang Dunia II, Amerika memosisikan narasi tunggal pembangunan sebagai alat kapitalisasi, seperti memproduksi pestisida dan senjata nuklir yang merusak alam. “Hal ini kemudian membangkitkan perlawanan dan gerakan wanita di era tersebut,” ucap Mai Jebing. 

Selanjutnya, Mai Jebing memaparkan dampak masifnya pembangunan yang terutama menargetkan kelompok wanita. “Contohnya, perempuan-perempuan di daerah perkebunan sawit yang kesulitan air dan tidak bisa memproduksi asi,” ucap Mai Jebing. Ia turut menyebutkan bahwa masifnya pembangunan yang telah terjadi sejak masa kolonial hingga sekarang mengakibatkan krisis iklim yang dirasakan dalam skala global.

Pada akhir diskusi, Mai kembali menegaskan jika ekofeminisme mengajak kita melihat hubungan tubuh dengan tanah air. Ia meyakini bahwa tubuh seseorang yang mengonsumsi sesuatu dari suatu wilayah tertentu akan terhubung dengan wilayah-wilayah yang sedang dirusak. “Oleh karena itu, kita mempunyai tanggung jawab secara politis untuk membuka arena-arena baru perjuangan dan solidaritas untuk kehidupan yang lebih baik,” tutup Mai.

Penulis: Nasywa Aulia Syah RJ dan Shalma Putri Adistin
Penyunting: Alfiana Rosyidah
Ilustrator: Faturrahman Al Ramadhani

0
Facebook Twitter Google + Pinterest

Artikel Lainnya

Ruang Redaksi Belum Aman, AJI Ungkap Kekerasan terhadap...

Aksi Solidaritas Suara Ibu Indonesia Soroti Kekerasan Negara...

Solidaritas Serikat Buruh Taru Martani Berujung Kemenangan dalam...

IWD Jogja 2026 Soroti Penindasan Perempuan Kelas Pekerja...

Diskusi LSF Ungkap Kekerasan Aparat terhadap Perempuan dalam...

Aksi Solidaritas untuk Arianto Tawakal Dibalas Kekerasan Ormas...

Berikan Komentar Batal Membalas

Situs ini menggunakan Akismet untuk mengurangi spam. Pelajari bagaimana data komentar Anda diproses

Pos Terbaru

  • Ruang Redaksi Belum Aman, AJI Ungkap Kekerasan terhadap Jurnalis Perempuan

    April 9, 2026
  • Aksi Solidaritas Suara Ibu Indonesia Soroti Kekerasan Negara dalam Penyiraman Air Keras terhadap Andrie Yunus

    Maret 17, 2026
  • Solidaritas Serikat Buruh Taru Martani Berujung Kemenangan dalam Aksi Mogok Kerja

    Maret 13, 2026
  • IWD Jogja 2026 Soroti Penindasan Perempuan Kelas Pekerja dan Kelompok Rentan

    Maret 11, 2026
  • Napas Panjang Relokasi Imbas Ambisi Proyek Sumbu Filosofi

    Maret 11, 2026

Jurnal Balairung Vol. 2 No. 2 (2020)

Infografis

Moral Tanpa Tuhan

Sampah Kota Ditopang Swadaya Warga

Berebut Gunungkidul

Yu Par, Legenda Kantin bonbin

Menyambut Coming Out Age dengan Berubah Menjadi Panda

Hubungi Kami

Facebook Twitter Instagram Pinterest

Ads

Footer Logo
  • TENTANG KAMI
  • PEDOMAN MEDIA SIBER
  • AWAK
  • KONTAK
  • KONTRIBUSI

©2022 BPPM BALAIRUNG UGM