Balairungpress
  • REDAKSI
    • KILAS
    • ALMAMATER
    • LAPORAN UTAMA
    • APRESIASI
    • WAWANCARA
  • NALAR
    • WAWASAN
    • KAJIAN
    • INSAN WAWASAN
  • REHAT
    • ARSIP
    • BUKU
    • FILM
    • OPINI
    • SASTRA
  • BINGKAI
    • ANALEKTA
    • INFOGRAFIS
    • KOMIK
    • PERISTIWA
    • SKETSA
  • PIPMI
    • Direktori
    • Suplemen
    • PUBLIKASI
  • Tentang Kami
    • KONTAK
    • Masthead
  • ENEN
  • IDID
Latest post
Buruh Pibee Group Menangkan Tuntutan Pelunasan Upah
Ruang Redaksi Belum Aman, AJI Ungkap Kekerasan terhadap...
Aksi Solidaritas Suara Ibu Indonesia Soroti Kekerasan Negara...
Solidaritas Serikat Buruh Taru Martani Berujung Kemenangan dalam...
IWD Jogja 2026 Soroti Penindasan Perempuan Kelas Pekerja...
Napas Panjang Relokasi Imbas Ambisi Proyek Sumbu Filosofi
Diskusi LSF Ungkap Kekerasan Aparat terhadap Perempuan dalam...
Apakah ada Hari Esok untuk Aku Meminum Obat
Gaboleh Pilih-Pilih Makanan
Aksi Solidaritas untuk Arianto Tawakal Dibalas Kekerasan Ormas...

Balairungpress

  • REDAKSI
    • KILAS
    • ALMAMATER
    • LAPORAN UTAMA
    • APRESIASI
    • WAWANCARA
  • NALAR
    • WAWASAN
    • KAJIAN
    • INSAN WAWASAN
  • REHAT
    • ARSIP
    • BUKU
    • FILM
    • OPINI
    • SASTRA
  • BINGKAI
    • ANALEKTA
    • INFOGRAFIS
    • KOMIK
    • PERISTIWA
    • SKETSA
  • PIPMI
    • Direktori
    • Suplemen
    • PUBLIKASI
  • Tentang Kami
    • KONTAK
    • Masthead
  • ENEN
  • IDID
KILASREDAKSI

Demokrasi Semu di Balik Pengawasan Badan Intelijen di Indonesia

Maret 6, 2021

©Winda/Bal

Selama tahun 2020, tercatat ada 55 permasalahan pengawasan intelijen di Indonesia. Permasalahan tersebut terbagi ke dalam enam kategori, yaitu masalah transparansi; kelemahan regulasi; kompleksitas ancaman; konflik kepentingan; kelemahan kapasitas aktor pengawas; dan intimidasi, kekerasan, dan kriminalisasi. Dampak dari permasalahan intelijen di Indonesia adalah penyelewengan nilai-nilai demokrasi. 

Temuan ini disampaikan Pusat Penelitian Politik Lembaga Ilmu Pengetahuan Indonesia (LIPI) melalui sebuah kertas kerja dalam diskusi daring bertajuk “Menguak Kabut Pengawasan Intelijen di Indonesia” pada Rabu (03-03). Diskusi tersebut dihadiri oleh empat narasumber, yaitu Busyro Muqoddas, Dosen Fakultas Hukum UII; Sandrayati Moniaga, Komisioner Komnas HAM; Diandra M. Mengko, Peneliti P2 Politik LIPI; dan Budi Setyarso, Pemimpin Redaksi Koran Tempo.

Memulai diskusi, Diandra membacakan kertas kerja yang menilik lebih jauh model pengawasan intelijen di Indonesia yang terdiri dari tujuh aktor pengawas. Aktor-aktor tersebut di antaranya presiden, DPR, publik, lembaga negara independen, internal intelijen, pengadilan negeri, dan aktor internasional. Dari ketujuh aktor tersebut, publik menempati posisi kedua dalam permasalahan pengawasan dengan sebelas permasalahan. Permasalahan tersebut di antaranya mencakup konflik kepentingan, intimidasi, kelemahan regulasi, dan kelemahan kapasitas aktor pengawas.

Diandra mengatakan bahwa keterbatasan publik dalam mengakses informasi intelijen dan ketidakpercayaan terhadap penegak hukum menjadi hambatan dalam melakukan pengawasan publik. Padahal, keterlibatan publik akan menunjukkan demokratisnya pengawasan intelijen. “Model pengawasan intelijen Indonesia saat ini belum dapat mendorong pengawasan yang profesional dan demokratis,” tuturnya.

Sejalan dengan Diandra, Muqoddas berpendapat bahwa demokratisasi lembaga intelijen merupakan istilah yang elitis dan tidak realistis. Ia kemudian mempertanyakan proses pengawasan intelijen yang berbasis kerakyatan. Menurut Muqoddas, ada perbedaan yang besar antara teori dan praktik dalam pengawasan intelijen. Kajian tentang problematika pengawasan intelijen seharusnya berbasis kajian akademis demokratis, tetapi pada realitanya selalu tertutup dari hak-hak rakyat. 

Ia menyampaikan bahwa ada ketidaksesuaian prinsip demokrasi dengan realita pengawasan intelijen di Indonesia. Hal ini terjadi pada kepala intelijen selaku aktor resmi pengawasan intelijen. Melihat sejarahnya, posisi Kepala Badan Intelijen Negara (BIN) selalu dipegang oleh tokoh militer. Padahal menurutnya, Kepala BIN sebaiknya memiliki rekam jejak sebagai aktivis demokrasi, bebas dari konflik kepentingan, dan tidak diangkat sepihak oleh presiden.

Muqoddas juga menyoroti pentingnya peran masyarakat sipil dalam memperjuangkan demokrasi badan intelijen. Peran tersebut meliputi keterlibatan dalam melakukan evaluasi terhadap badan intelijen, pembuatan naskah akademik, serta mendorong urgensi untuk merevisi UU Intelijen. “Perlu evaluasi elemen masyarakat sipil terhadap kinerja, paradigma, dan peraturan kelembagaan badan intelijen,” jelas Muqoddas.

Sandra selaku Komisioner Komnas HAM melihat fungsi lembaga negara independen sebagai aktor pengawas. Menurutnya, lembaga negara independen hingga saat ini memiliki model pengawasan yang hanya berupa masukan kepada presiden atau Komisi I DPR. Ia berpendapat bahwa model pengawasan tersebut dapat lebih didalami dengan melibatkan lembaga negara independen dalam menyelesaikan permasalahan pengawasan intelijen yang sudah teridentifikasi. 

Budi Setyarso lebih jauh lagi, menyoroti berbagai aturan intelijen yang bermasalah. Aturan ini menurutnya adalah sejumlah aturan-aturan tidak spesifik yang memberi kewenangan tak terbatas kepada lembaga intelijen. Dampaknya, aturan-aturan tersebut menjauhkan aktor intelijen dari prinsip tanggung jawab. Salah satunya aturan mengenai penyadapan yang tidak terbatas jenis ancamannya dan tidak ada pengawas yang mengontrol. “Pengawasan intelijen harus diperkuat agar masalah-masalah dapat diatasi dan menempatkan BIN di dalam kehidupan bernegara yang demokratis,” tutup Budi.

Penulis: Renova Zidane Aurelio, Abdul Azizul Hakim, dan Agnes Palupi,
Editor: Syifa Hazimah H.A.
Fotografer: Winda Hapsari Indrawati

BIN
2
Facebook Twitter Google + Pinterest

Artikel Lainnya

Buruh Pibee Group Menangkan Tuntutan Pelunasan Upah

Ruang Redaksi Belum Aman, AJI Ungkap Kekerasan terhadap...

Aksi Solidaritas Suara Ibu Indonesia Soroti Kekerasan Negara...

Solidaritas Serikat Buruh Taru Martani Berujung Kemenangan dalam...

IWD Jogja 2026 Soroti Penindasan Perempuan Kelas Pekerja...

Napas Panjang Relokasi Imbas Ambisi Proyek Sumbu Filosofi

Berikan Komentar Batal Membalas

Situs ini menggunakan Akismet untuk mengurangi spam. Pelajari bagaimana data komentar Anda diproses

Pos Terbaru

  • Buruh Pibee Group Menangkan Tuntutan Pelunasan Upah

    April 10, 2026
  • Ruang Redaksi Belum Aman, AJI Ungkap Kekerasan terhadap Jurnalis Perempuan

    April 9, 2026
  • Aksi Solidaritas Suara Ibu Indonesia Soroti Kekerasan Negara dalam Penyiraman Air Keras terhadap Andrie Yunus

    Maret 17, 2026
  • Solidaritas Serikat Buruh Taru Martani Berujung Kemenangan dalam Aksi Mogok Kerja

    Maret 13, 2026
  • IWD Jogja 2026 Soroti Penindasan Perempuan Kelas Pekerja dan Kelompok Rentan

    Maret 11, 2026

Jurnal Balairung Vol. 2 No. 2 (2020)

Infografis

Moral Tanpa Tuhan

Sampah Kota Ditopang Swadaya Warga

Berebut Gunungkidul

Yu Par, Legenda Kantin bonbin

Menyambut Coming Out Age dengan Berubah Menjadi Panda

Hubungi Kami

Facebook Twitter Instagram Pinterest

Ads

Footer Logo
  • TENTANG KAMI
  • PEDOMAN MEDIA SIBER
  • AWAK
  • KONTAK
  • KONTRIBUSI

©2022 BPPM BALAIRUNG UGM