Balairungpress
  • REDAKSI
    • KILAS
    • ALMAMATER
    • LAPORAN UTAMA
    • APRESIASI
    • INSAN WAWASAN
  • NALAR
    • WAWASAN
    • KAJIAN
  • REHAT
    • ARSIP
    • BUKU
    • FILM
    • OPINI
    • SASTRA
  • BINGKAI
    • ANALEKTA
    • INFOGRAFIS
    • KOMIK
    • PERISTIWA
    • SKETSA
  • PIPMI
    • Direktori
    • Suplemen
    • PUBLIKASI
  • ENEN
  • IDID
Newest post
Pesantren Bumi Cendekia Bagikan Upaya Pencegahan Kekerasan Seksual...
Diskusi Buku “Pembangunan Untuk Siapa? Kisah Perempuan di...
LPM Himmah UII Ungkap Ketimpangan Pendidikan Dasar di...
Diskusi Perempuan Adat Kritik Jerat Paksaan Industri Ekstraktif
Muat Candaan Seksis, Buku Gadjah Mada Bercanda Karya...
Tilik Relasi Kolonial di Papua dalam Diskusi Papua...
Diskusi Pendidikan dan Demokrasi, Ungkap Gagalnya Pendidikan dalam...
Kota Batik yang Tenggelam
Titah AW: Jurnalisme Bisa Jadi Kanal Pengetahuan Lokal
Membumikan Ilmu Bumi

Balairungpress

  • REDAKSI
    • KILAS
    • ALMAMATER
    • LAPORAN UTAMA
    • APRESIASI
    • INSAN WAWASAN
  • NALAR
    • WAWASAN
    • KAJIAN
  • REHAT
    • ARSIP
    • BUKU
    • FILM
    • OPINI
    • SASTRA
  • BINGKAI
    • ANALEKTA
    • INFOGRAFIS
    • KOMIK
    • PERISTIWA
    • SKETSA
  • PIPMI
    • Direktori
    • Suplemen
    • PUBLIKASI
  • ENEN
  • IDID
KILAS

Kesendirian, Warisan, dan Pribadi Peter Kasenda

September 18, 2018

©Norman/Bal

“Peter melihat kesendirian bukan sebagai sebuah tragedi, melainkan kewajaran. Ia bahkan menganggapnya sebagai berkah,” ungkap JJ Rizal dalam diskusi bertajuk Mengenang Hidup & Warisan Peter Kasenda. Acara ini diselenggarakan oleh Social Movement Institute (SMI) dan Togamas Affandi pada Sabtu (15-09). Acara yang diselenggarakan Togamas Gejayan ini dihadiri oleh tiga pembicara,  yaitu JJ Rizal dari Komunitas Bambu, Wildan Sena Utama sebagai akademisi dari UGM, dan Eko Prasetyo dari SMI.

Lebih lanjut, Rizal mengatakan bahwa hidup Peter Kasenda cukup lengkap dengan keberadaan keponakannya. Peter juga sudah merasa lengkap dengan kinerjanya dalam melakukan penjernihan terhadap desukarnoisasi yang merupakan proses penghilangan pengaruh Soekarno. Peter sendiri merupakan seorang sejarawan yang produktif menulis buku. Beberapa bukunya mengulas secara mendalam tentang Soekarno, seperti Hari-hari Terakhir Sukarno, Soekarno di Bawah bendera Jepang dan sebagainya.

Menurut JJ Rizal, dalam hidupnya, Peter Kasenda berusaha untuk melawan satu hantu, yaitu hantu desukarnoisasi. Hal senada disampaikan pula oleh Wildan Sena Utama. Ia mengatakan bahwa Peter menulis tentang Soekarno untuk menghindari desukarnoisasi. “Dengan menulis tentang Soekarno, kita bisa memahami Indonesia. Membaca pemikiran Bung Karno berarti membaca pendirian Indonesia,” ucap Wildan.

Buku-buku Peter Kasenda, menurut Wildan, memiliki kekuatan dalam mentransformasikan gagasan rumit menjadi lebih mudah dipahami. Peter juga mampu menyajikan teori-teori berat dengan cara yang ‘renyah’. “Mengapa PKI bisa bangkit, regionalisasi marxisme, atau teori pro-nasionalnya Aidit misalnya di tahun 50-an awal, itu semua dibahas secara lebih mudah, jernih  dan mengalir di tangan Peter,” ungkap Wildan Sena Utama.

Di kesempatan berikutnya, Eko Prasetyo dari SMI, bercerita mengenai sosok Peter Kasenda secara personal. Ia mengatakan bahwa Peter adalah sosok yang mudah diajak berdiskusi. Ia tak pernah memikirkan masalah honor, transportasi, dan sejenisnya, sebagaimana pembicara pada umumnya. Uniknya lagi, di mata Eko, Peter adalah sosok pembicara yang selalu datang sebelum pesertanya. Eko menambahkan bahwa Peter adalah sosok yang sederhana. “Permintaan Peter hanya satu, harus ada warung yang ada jeruk nipis hangatnya. Itu pesanan yang sangat digemari Peter,” tutur Eko.

Sejalan dengan pemikiran Eko, sosok Peter Kasenda di mata Wildan adalah sosok yang tidak mengejar kekayaan materi. Dalam pandangannya, Peter menulis dengan hati dan didasari oleh gairah intelektual. Hal ini, menurut Wildan, mampu melampaui materi itu sendiri. “Karya-karya Peter tidak akan dicatat oleh kampus, tetapi akan abadi dicatat oleh peradaban,” pungkasnya.

Penulis: Norman Arief G
Penyunting: Litalia Putri

peter kasendasejarawansoekarno
3
Facebook Twitter Google + Pinterest

Artikel Lainnya

Pesantren Bumi Cendekia Bagikan Upaya Pencegahan Kekerasan Seksual...

Diskusi Buku “Pembangunan Untuk Siapa? Kisah Perempuan di...

LPM Himmah UII Ungkap Ketimpangan Pendidikan Dasar di...

Diskusi Perempuan Adat Kritik Jerat Paksaan Industri Ekstraktif

Muat Candaan Seksis, Buku Gadjah Mada Bercanda Karya...

Tilik Relasi Kolonial di Papua dalam Diskusi Papua...

Berikan Komentar Batal Membalas

Situs ini menggunakan Akismet untuk mengurangi spam. Pelajari bagaimana data komentar Anda diproses.

Pos Terbaru

  • Pesantren Bumi Cendekia Bagikan Upaya Pencegahan Kekerasan Seksual di Pesantren Lewat Diskusi “Memutus Mata Rantai Kekerasan Seksual di Pesantren”

    Januari 28, 2026
  • Diskusi Buku “Pembangunan Untuk Siapa? Kisah Perempuan di Kampung Kami” Soroti Dampak Pembangunan Bagi Ruang Hidup Perempuan

    Desember 25, 2025
  • LPM Himmah UII Ungkap Ketimpangan Pendidikan Dasar di DIY melalui Pameran “Melihat Sekolahku”

    Desember 18, 2025
  • Diskusi Perempuan Adat Kritik Jerat Paksaan Industri Ekstraktif

    Desember 10, 2025
  • Muat Candaan Seksis, Buku Gadjah Mada Bercanda Karya Heri Santoso Tuai Kritik Mahasiswa

    Desember 5, 2025

Jurnal Balairung Vol. 2 No. 2 (2020)

Infografis

Moral Tanpa Tuhan

Sampah Kota Ditopang Swadaya Warga

Berebut Gunungkidul

Yu Par, Legenda Kantin bonbin

Menyambut Coming Out Age dengan Berubah Menjadi Panda

Hubungi Kami

Facebook Twitter Instagram Pinterest

Ads

Footer Logo
  • TENTANG KAMI
  • PEDOMAN MEDIA SIBER
  • AWAK
  • KONTAK
  • KONTRIBUSI

©2022 BPPM BALAIRUNG UGM