Balairungpress
  • REDAKSI
    • KILAS
    • ALMAMATER
    • LAPORAN UTAMA
    • APRESIASI
    • INSAN WAWASAN
  • NALAR
    • WAWASAN
    • KAJIAN
  • REHAT
    • ARSIP
    • BUKU
    • FILM
    • OPINI
    • SASTRA
  • BINGKAI
    • ANALEKTA
    • INFOGRAFIS
    • KOMIK
    • PERISTIWA
    • SKETSA
  • PIPMI
    • Direktori
    • Suplemen
    • PUBLIKASI
  • ENEN
  • IDID
Newest post
Tilik Relasi Kolonial di Papua dalam Diskusi Papua...
Diskusi Pendidikan dan Demokrasi, Ungkap Gagalnya Pendidikan dalam...
Kota Batik yang Tenggelam
Titah AW: Jurnalisme Bisa Jadi Kanal Pengetahuan Lokal
Membumikan Ilmu Bumi
Kuasa Kolonial Atas Pangan Lokal
Anis Farikhatin: Guru Kesehatan Reproduksi Butuh Dukungan, Bukan...
Tangan Tak Terlihat di Balik Gerakan Rakyat
Tantangan Konservasi dan Pelestarian Lingkungan dalam Diskusi Ekspedisi...
LBH Yogyakarta Ungkap Intimidasi Aparat Pasca-Aksi Agustus di...

Balairungpress

  • REDAKSI
    • KILAS
    • ALMAMATER
    • LAPORAN UTAMA
    • APRESIASI
    • INSAN WAWASAN
  • NALAR
    • WAWASAN
    • KAJIAN
  • REHAT
    • ARSIP
    • BUKU
    • FILM
    • OPINI
    • SASTRA
  • BINGKAI
    • ANALEKTA
    • INFOGRAFIS
    • KOMIK
    • PERISTIWA
    • SKETSA
  • PIPMI
    • Direktori
    • Suplemen
    • PUBLIKASI
  • ENEN
  • IDID
ALMAMATERKILAS

Yogyakarta Defisit Air, Sumur Warga Kering

Agustus 17, 2016
©Faisal.bal

©Faisal.bal

Amrta Institute for Water Literacy merilis film dokumenter berjudul Jogja Darurat Air. Puluhan orang memadati ruang Bulaksumur, University Club- Universitas Gadjah Mada pada Senin siang (15/8). Acara pemutaran film ini merupakan pemantik awal diskusi tentang krisis air tanah yang terjadi di kota Yogyakarta dan Sleman akibat pembangunan hotel dan apartemen. “Ketergantungan warga Yogyakarta terhadap air tanah masih sangat tinggi dibandingkan dengan beberapa kota di Indonesia,” ucap Nila Ardhianie, salah satu pembicara sekaligus direktur Amrta Institute for Water Literacy.

Film dokumenter yang berdurasi sekitar 18 menit tersebut merangkum aktivitas pembangunan apartemen Uttara di kawasan Sleman yang membuat warga resah. Keresahan muncul ketika sumur warga mengalami kekeringan. Pompa air rusak, karena kedalaman sumber air bertambah. Hal serupa juga dialami oleh warga Miliran, Gowongan, dan Penumping akibat keberadaan Fave Hotel yang didokumentasikan oleh jurnalis video Watchdog dengan judul Di Belakang Hotel pada Oktober 2014.

Dalam sesi diskusi bertema “Kemerdekaan dan Air untuk Warga”, hadir pembicara dari kalangan akademisi dengan latar belakang keilmuan yang berbeda. Diantaranya adalah Hendro Sangkoyo, pendiri School of Democratic Economics. Ia  membandingkan kondisi lingkungan dan persediaan air tanah di Kuta, jalur pegunungan Mojokerto–Malang, dan Yogyakarta.  Dari data yang terkumpul,  kondisi kota Yogyakarta lah yang paling krisis persediaan air akibat pembangunan hotel dan apartemen yang masif.

Sedangkan dari sisi kajian hukum, perihal air yang mulanya dijadikan sebagai sumberdaya sosial menjadi komoditas ketika digunakan untuk memasok kebutuhan air dalam hotel. Padahal dalam putusan Mahkamah Konstitusi No. 85/PUU-XI/2013 Tentang Pengujian Undang-Undang no. 7 tahun 2014 Tentang Pemanfaatan Sumber Daya Alam, air digunakan untuk kepentingan warga negara. “Pemerintah harusnya membuat prioritas pembagian air sebagai hak yang dikonsumsi oleh rakyat, untuk kepentingan konservasi, serta untuk kelangsungan lingkungan hidup,” jelas Hermawanto.

Dari data yang telah dihimpun dari Badan Pusat Statistik (BPS) Yogyakarta, pembangunan hotel di kota Yogyakarta dan Sleman pada 2015 telah mencapai angka 85 unit, dengan total kenaikan 57,6% sejak 2010. Hal tersebut membuat pasokan air tanah terserap dengan skala besar tanpa ada lahan resapan karena tanah telah tertutup beton. Nila mencontohkan besarnya biaya untuk pasokan air sebuah hotel dengan jumlah kamar 473, mencapai angka 2 milyar per tahun. Tarif air di lapisan tanah atas  sebesar 2.000 rupiah per m3, sedangkan tarif air tanah dalam yang dikelola oleh Perusahaan Daerah Air Minum (PDAM) sebesar 16.500 rupiah per m3. Harga air di lapisan tanah atas cenderung lebih murah dibandingkan air tanah dalam, karena sumber airnya berasal dari resapan air hujan dan air sungai. “Sayangnya, pemerintah belum mengusahakan pengelolaan air lapisan tanah atas untuk kepentingan komersial, sehingga 52% masyarakat merasakan kekeringan akibat penyedotan air tanah yang berlebihan,” tambah Nila.

Berdekatan dengan perayaan kemerdekaan Indonesia yang ke-71, Amrta Institute for Water Literacy berharap pemerintah dan masyarakat sadar bahwa ketersediaan air di kota Yogyakarta telah defisit. “Hotel di kota Yogyakarta telah menjulang  diantara perumahan warga yang padat, sedangkan di beberapa wilayah di Sleman menggunakan lahan subur pertanian,” tutur Nila. Ia juga menambahkan perihal pengambilan kebijakan dan perizinan pembangunan harusnya lebih tegas agar pembangunan tidak berlangsung terus menerus.

Tanggapan positif perihal solusi yang ditawarkan dilontarkan oleh Iffah, mahasiswi Pascasarjana Ilmu Lingkungan UGM. Menurutnya, kesadaran untuk memiliki kepentingan terhadap air dapat dimulai dari diri sendiri. “Kita dapat memulai aksi nyata dengan menutup keran air dengan benar, atau dapat juga dengan membuat sumur resapan biopori di pekarangan rumah,” tukasnya.[Khumairoh]

airberita jogjakilasseminar
0
Facebook Twitter Google + Pinterest

Artikel Lainnya

Tilik Relasi Kolonial di Papua dalam Diskusi Papua...

Diskusi Pendidikan dan Demokrasi, Ungkap Gagalnya Pendidikan dalam...

Tantangan Konservasi dan Pelestarian Lingkungan dalam Diskusi Ekspedisi...

LBH Yogyakarta Ungkap Intimidasi Aparat Pasca-Aksi Agustus di...

Diskusi dan Perilisan Zine Maba Sangaji Basuara, Tilik...

Diskusi Buku dan Budaya, Soroti Peran Sastra Melawan...

Berikan Komentar Batal Membalas

Situs ini menggunakan Akismet untuk mengurangi spam. Pelajari bagaimana data komentar Anda diproses.

Pos Terbaru

  • Tilik Relasi Kolonial di Papua dalam Diskusi Papua Bukan Tanah Kosong

    November 24, 2025
  • Diskusi Pendidikan dan Demokrasi, Ungkap Gagalnya Pendidikan dalam Sikapi Diskriminasi

    November 24, 2025
  • Kota Batik yang Tenggelam

    November 21, 2025
  • Titah AW: Jurnalisme Bisa Jadi Kanal Pengetahuan Lokal

    November 21, 2025
  • Membumikan Ilmu Bumi

    November 21, 2025

Jurnal Balairung Vol. 2 No. 2 (2020)

Infografis

Moral Tanpa Tuhan

Sampah Kota Ditopang Swadaya Warga

Berebut Gunungkidul

Yu Par, Legenda Kantin bonbin

Menyambut Coming Out Age dengan Berubah Menjadi Panda

Hubungi Kami

Facebook Twitter Instagram Pinterest

Ads

Footer Logo
  • TENTANG KAMI
  • PEDOMAN MEDIA SIBER
  • AWAK
  • KONTAK
  • KONTRIBUSI

©2022 BPPM BALAIRUNG UGM