Balairungpress
  • REDAKSI
    • KILAS
    • ALMAMATER
    • LAPORAN UTAMA
    • APRESIASI
    • WAWANCARA
  • NALAR
    • WAWASAN
    • KAJIAN
    • INSAN WAWASAN
  • REHAT
    • ARSIP
    • BUKU
    • FILM
    • OPINI
    • SASTRA
  • BINGKAI
    • ANALEKTA
    • INFOGRAFIS
    • KOMIK
    • PERISTIWA
    • SKETSA
  • PIPMI
    • Direktori
    • Suplemen
    • PUBLIKASI
  • ENEN
  • IDID
  • Menu Item
Latest post
Katrin Bandel: Konstruksi Gender dan Perempuan dalam Wacana...
Kiamat Kecil di Timbulsloko
Berat Sebelah Kuasa Poligami
Difabel
APATIS Soroti Lonjakan Biaya Pendidikan, Serukan Mahasiswa Terus...
Perempuan Tagih Janji Puan Sahkan RUU PPRT
Rajam Norma Hetero Melintang Zaman
balpress
balpress
Pesan Teror dan Intimidasi Menghiasi Aksi #KawalPutusanMK di...

Balairungpress

  • REDAKSI
    • KILAS
    • ALMAMATER
    • LAPORAN UTAMA
    • APRESIASI
    • WAWANCARA
  • NALAR
    • WAWASAN
    • KAJIAN
    • INSAN WAWASAN
  • REHAT
    • ARSIP
    • BUKU
    • FILM
    • OPINI
    • SASTRA
  • BINGKAI
    • ANALEKTA
    • INFOGRAFIS
    • KOMIK
    • PERISTIWA
    • SKETSA
  • PIPMI
    • Direktori
    • Suplemen
    • PUBLIKASI
  • ENEN
  • IDID
  • Menu Item
KILAS

Semarak Karnaval Pekan Budaya Tionghoa Yogyakarta 2016

Februari 25, 2016
©.bal

©yuni.bal

Minggu (21/02) keadaan tampak berbeda di sepanjang jalan Malioboro. Setiap sisi jalan dipadati oleh warga Yogyakarta yang menyaksikan “Karnaval Budaya dan Jogja Dragon Festival.” Karnaval yang menjadi puncak acara “Pekan Budaya Tionghoa Yogyakarta XI 2016” ini mengusung tema “Meningkatkan Budaya Kebersamaan.” Acara ini terselenggara atas kerja sama masyarakat etnis Tionghoa yang tergabung dalam Jogja Chinese Art and Culture Centre (JCACC).

Karnaval diikuti oleh 2017 peserta dari bebagai komunitas. “Ada komunitas Sepeda Hias Sidomuncul, Akademi Militer (AKMIL), komunitas Naga JCM, Koko Cici Pekan Budaya Tionghoa Yogyakarta (PBTY) dan berbagai komunitas lainnya dari berbagai daerah,” papar Dio, salah satu Liasion Officer (LO) dalam acara ini. Para peserta tersebut memperebutkan piala Hamengku Buwono X.

Karnaval dimulai dengan atraksi Liong dan tarian dari komunitas tari, lalu diikuti arak-arakan peserta. Arak-arakan dimulai dari Malioboro dan berakhir di alun-alun utara Yogyakarta. Selain atraksi Liong dan tarian, penampilan Marching Band dari Akademi Angkatan Udara (AAU), Akademi Militer (AKMIL) Magelang Canka Lokananta, Wushu juga memeriahkan karnaval ini.

Dio juga menambahkan, ada perbedaan acara tahun ini dengan tahun lalu. Seperti lokasi tampil perserta yang dulunya dipusatkan pada titik nol kilometer kini berpindah ke alun-alun utara kota Yogyakarta, hal ini dikarenakan tingginya antusias masyarakat pada pagelaran sebelumnya. Peningkatan juga terjadi pada aspek jumlah peserta karnaval, hal ini berdampak pada pembatasan jumlah Liong atau naga yang tampil “Karnaval ini dibatasi 15 Liong untuk megikuti acara ini” jelasnya.

Arak-arakan ditutup dengan 250 personil TNI AU yang membawa Liong bermotif batik pemecah Rekor Muri tahun lalu, dengan panjang sekitar 159,4 meter. Lalu karnaval ditutup dengan pesta kembang api. Tutik, salah satu pengunjung berharap acara ini rutin diadakan tiap tahun.“Semoga setiap tahun ada acara ini ya Mbak, karenakan bagus dan bisa jadi tontonan gratis buat masyarakat gitu,” ungkapnya. [Puri Dian Safitri , Rosalina Woro Subektie]

 

budayaimlekkarnavalliongmalioborotionghoayogyakarta
0
Facebook Twitter Google + Pinterest

Artikel Lainnya

SEJAGAD, Serikat Pekerja Kampus Pertama di Indonesia, Resmi Didirikan

IWD Jogja 2026 Soroti Penindasan Perempuan Kelas Pekerja...

Diskusi LSF Ungkap Kekerasan Aparat terhadap Perempuan dalam...

Aksi Solidaritas untuk Arianto Tawakal Dibalas Kekerasan Ormas...

Forum Kamisan Daring Perluas Jejaring Perlawanan Terhadap Pertambangan...

Pesantren Bumi Cendekia Bagikan Upaya Pencegahan Kekerasan Seksual...

Berikan Komentar Batal Membalas

Situs ini menggunakan Akismet untuk mengurangi spam. Pelajari bagaimana data komentar Anda diproses

Pos Terbaru

  • Katrin Bandel: Konstruksi Gender dan Perempuan dalam Wacana Pascakolonial

    Maret 12, 2026
  • Kiamat Kecil di Timbulsloko

    Maret 12, 2026
  • Berat Sebelah Kuasa Poligami

    Maret 12, 2026
  • Difabel

    Maret 12, 2026
  • APATIS Soroti Lonjakan Biaya Pendidikan, Serukan Mahasiswa Terus “Berisik”

    Maret 12, 2026

Jurnal Balairung Vol. 2 No. 2 (2020)

Infografis

Sepah Pemerintah Ditadah Bank Sampah

Sampah Kota Ditopang Swadaya Warga

Moral Tanpa Tuhan

Sampah Kota Ditopang Swadaya Warga

Berebut Gunungkidul

Hubungi Kami

Facebook Twitter Instagram Pinterest

Ads

Footer Logo
  • TENTANG KAMI
  • PEDOMAN MEDIA SIBER
  • AWAK
  • KONTAK
  • KONTRIBUSI

©2022 BPPM BALAIRUNG UGM