Balairungpress
  • REDAKSI
    • KILAS
    • ALMAMATER
    • LAPORAN UTAMA
    • APRESIASI
    • WAWANCARA
  • NALAR
    • WAWASAN
    • KAJIAN
    • INSAN WAWASAN
  • REHAT
    • ARSIP
    • BUKU
    • FILM
    • OPINI
    • SASTRA
  • BINGKAI
    • ANALEKTA
    • INFOGRAFIS
    • KOMIK
    • PERISTIWA
    • SKETSA
  • PIPMI
    • Direktori
    • Suplemen
    • PUBLIKASI
  • ENEN
  • IDID
  • Menu Item
Latest post
Katrin Bandel: Konstruksi Gender dan Perempuan dalam Wacana...
Kiamat Kecil di Timbulsloko
Berat Sebelah Kuasa Poligami
Difabel
APATIS Soroti Lonjakan Biaya Pendidikan, Serukan Mahasiswa Terus...
Perempuan Tagih Janji Puan Sahkan RUU PPRT
Rajam Norma Hetero Melintang Zaman
balpress
balpress
Pesan Teror dan Intimidasi Menghiasi Aksi #KawalPutusanMK di...

Balairungpress

  • REDAKSI
    • KILAS
    • ALMAMATER
    • LAPORAN UTAMA
    • APRESIASI
    • WAWANCARA
  • NALAR
    • WAWASAN
    • KAJIAN
    • INSAN WAWASAN
  • REHAT
    • ARSIP
    • BUKU
    • FILM
    • OPINI
    • SASTRA
  • BINGKAI
    • ANALEKTA
    • INFOGRAFIS
    • KOMIK
    • PERISTIWA
    • SKETSA
  • PIPMI
    • Direktori
    • Suplemen
    • PUBLIKASI
  • ENEN
  • IDID
  • Menu Item
KILAS

Eksploitasi Hutan Penyebab Kabut Asap

November 14, 2015
©dokumentasi panitia

©dokumentasi panitia

Selasa (10/11) petang, Selasar Timur Fakultas Ilmu Sosial dan Ilmu Politik UGM tampak ramai oleh sekumpulan orang. Mereka sedang mengikuti sebuah diskusi bertajuk “Menolak Asap, Menolak Diam” yang diadakan secara kolektif oleh mahasiswa, dosen, hingga aktivis LSM. Penyelenggaraan diskusi ini bertujuan untuk mengawal isu asap yang sedang terjadi di Sumatra dan Kalimantan. Sebagai pemantik, sebuah film tentang pembakaran hutan di Sumatra pun ditayangkan. Selanjutnya, moderator membuka diskusi dengan mengenalkan tiga pembicara. Mereka adalah Dr. Maharani Hapsari, MA., dosen Hubungan Internasional UGM, Agus Sutomo, aktivis Lingkar Borneo, dan Ichsan, aktivis Earth Hour Indonesia.

Maharani memulai diskusi dengan pemaparan bahwa isu asap hanyalah dampak dari permasalahan yang lebih besar. Permasalahan tersebut adalah adanya eksploitasi hutan untuk pembukaan lahan kelapa sawit oleh beberapa perusahaan di Sumatra. Kelapa sawit menjadi salah satu komoditas yang strategis, lantaran merupakan bahan baku dari sebagian besar kebutuhan manusia. Oleh karena itu, perusahaan-perusahaan tersebut melakukan pembakaran hutan demi memperoleh keuntungan yang besar. Menurut Maharani, pembakaran lahan dilakukan oleh masyarakat lokal atas permintaan perusahaan. “Parahnya, masyarakatlah yang justru disalahkan,” ujar dosen yang disertasinya membahas tentang perkebunan kelapa sawit di Indonesia ini.

Menyambung pemaparan Maharani, Agus Sutomo menjelaskan eksploitasi hutan untuk pembukaan lahan kelapa sawit juga terjadi di Kalimantan, khususnya Kalimantan Barat (Kalbar). Aktivis yang akrab dipanggil Tomo ini menunjukkan peta persebaran perkebunan kelapa sawit di Kalbar. Dalam peta tersebut, ia menjelaskan bahwa hampir seluruh wilayah di Kalbar dijadikan perkebunan kelapa sawit. Hal ini menyebabkan masyarakat tidak dapat memanfaatkan tanah yang sudah sejak dulu mereka jaga. “Tindakan perusahaan-perusahaan ini menunjukkan terjadinya monopoli sumber daya alam,” paparnya.

Tomo menerangkan bahwa beberapa LSM yang peduli pada kasus ini, termasuk Lingkar Borneo, terus mengawal isu tersebut. Mereka berupaya untuk membawa kasus ini ke jalur hukum. Namun sayangnya, dari 597 perusahaan yang dilaporkan melakukan eksploitasi perkebunan kelapa sawit, hanya tujuh belas perusahaan yang ditetapkan bersalah.

Upaya untuk menanggulangi kasus ini juga disampaikan oleh Ichsan, aktivis yang tergabung dalam Earth Hour Indonesia. Upaya tersebut salah satunya melalui kampanye #beliyangbaik yang diinisiasi oleh World Wildlife Fund (WWF) Indonesia. Ichsan menerangkan, tujuh miliar penduduk di bumi adalah konsumen. “Melalui kampanye inilah, masyarakat diajak untuk berhenti mengonsumsi produk dari perusahaan kelapa sawit yang memanfaatkan SDA secara tidak terpuji,” jelasnya. Sebagai gantinya, masyarakat dapat beralih ke produk yang terdapat label Forest Stewardship Council (FSC) dan Roundtable on Sustainable Palm Oil (RSPO). Dua label ini menunjukkan bahwa produk-produk tersebut dihasilkan dari hutan yang dikelola secara bertanggung jawab.

Menanggapi diskusi tersebut, Zulfi Apriyani, mahasiswa Jurusan Sosiologi ’14, berpendapat bahwa isu asap ini harus ditanggapi dengan serius. Ia berharap setelah diadakannya diskusi ini, aksi nyata dapat diwujudkan untuk menyelesaikan permasalahan. Tak hanya itu, ia juga berharap pemerintah juga dapat melakukan tindakan yang tegas. “Dengan begitu, masyarakat tidak terus-menerus dirugikan,” tukasnya. [Tri Utami Rosemawati]

 

 

 

 

asapHIhutankalimantankelapa sawitsumatera
0
Facebook Twitter Google + Pinterest

Artikel Lainnya

SEJAGAD, Serikat Pekerja Kampus Pertama di Indonesia, Resmi Didirikan

IWD Jogja 2026 Soroti Penindasan Perempuan Kelas Pekerja...

Diskusi LSF Ungkap Kekerasan Aparat terhadap Perempuan dalam...

Aksi Solidaritas untuk Arianto Tawakal Dibalas Kekerasan Ormas...

Forum Kamisan Daring Perluas Jejaring Perlawanan Terhadap Pertambangan...

Pesantren Bumi Cendekia Bagikan Upaya Pencegahan Kekerasan Seksual...

Berikan Komentar Batal Membalas

Situs ini menggunakan Akismet untuk mengurangi spam. Pelajari bagaimana data komentar Anda diproses

Pos Terbaru

  • Katrin Bandel: Konstruksi Gender dan Perempuan dalam Wacana Pascakolonial

    Maret 12, 2026
  • Kiamat Kecil di Timbulsloko

    Maret 12, 2026
  • Berat Sebelah Kuasa Poligami

    Maret 12, 2026
  • Difabel

    Maret 12, 2026
  • APATIS Soroti Lonjakan Biaya Pendidikan, Serukan Mahasiswa Terus “Berisik”

    Maret 12, 2026

Jurnal Balairung Vol. 2 No. 2 (2020)

Infografis

Sepah Pemerintah Ditadah Bank Sampah

Sampah Kota Ditopang Swadaya Warga

Moral Tanpa Tuhan

Sampah Kota Ditopang Swadaya Warga

Berebut Gunungkidul

Hubungi Kami

Facebook Twitter Instagram Pinterest

Ads

Footer Logo
  • TENTANG KAMI
  • PEDOMAN MEDIA SIBER
  • AWAK
  • KONTAK
  • KONTRIBUSI

©2022 BPPM BALAIRUNG UGM