Balairungpress
  • REDAKSI
    • KILAS
    • ALMAMATER
    • LAPORAN UTAMA
    • APRESIASI
    • INSAN WAWASAN
  • NALAR
    • WAWASAN
    • KAJIAN
  • REHAT
    • ARSIP
    • BUKU
    • FILM
    • OPINI
    • SASTRA
  • BINGKAI
    • ANALEKTA
    • INFOGRAFIS
    • KOMIK
    • PERISTIWA
    • SKETSA
  • PIPMI
    • Direktori
    • Suplemen
    • PUBLIKASI
  • ENEN
  • IDID
Newest post
Pesantren Bumi Cendekia Bagikan Upaya Pencegahan Kekerasan Seksual...
Diskusi Buku “Pembangunan Untuk Siapa? Kisah Perempuan di...
LPM Himmah UII Ungkap Ketimpangan Pendidikan Dasar di...
Diskusi Perempuan Adat Kritik Jerat Paksaan Industri Ekstraktif
Muat Candaan Seksis, Buku Gadjah Mada Bercanda Karya...
Tilik Relasi Kolonial di Papua dalam Diskusi Papua...
Diskusi Pendidikan dan Demokrasi, Ungkap Gagalnya Pendidikan dalam...
Kota Batik yang Tenggelam
Titah AW: Jurnalisme Bisa Jadi Kanal Pengetahuan Lokal
Membumikan Ilmu Bumi

Balairungpress

  • REDAKSI
    • KILAS
    • ALMAMATER
    • LAPORAN UTAMA
    • APRESIASI
    • INSAN WAWASAN
  • NALAR
    • WAWASAN
    • KAJIAN
  • REHAT
    • ARSIP
    • BUKU
    • FILM
    • OPINI
    • SASTRA
  • BINGKAI
    • ANALEKTA
    • INFOGRAFIS
    • KOMIK
    • PERISTIWA
    • SKETSA
  • PIPMI
    • Direktori
    • Suplemen
    • PUBLIKASI
  • ENEN
  • IDID
KABARKILAS

Gemulai Tari di Balik Kompetisi

Juni 9, 2014
©Kevin.bal

©Kevin.bal

Rangkaian acara Pekan Seni Mahasiswa Daerah (PEKSIMIDA) secara resmi dibuka Jumat (6/6) malam lalu dengan diselenggarakannya perlombaan seni tari. Pagelaran tahunan yang diadakan oleh Badan Pembina Seni Mahasiswa Indonesia (BPSMI) ini sekaligus menjadi proses penyisihan bagi tim seni yang nantinya akan mewakili DIY di ajang Pekan Seni Mahasiswa Nasional (PEKSIMINAS). “PEKSIMINAS sendiri akan dilaksanakan di Palangkaraya 14-19 September mendatang,” jelas Cipto Budi Handoyo selaku sekretaris BPSMI. Sembilan tim tari dari berbagai universitas se-Yogyakarta mengikuti perlombaan yang diadakan di gedung C17 Fakultas Bahasa dan Seni Universitas Negeri Yogyakarta. Universitas yang turut meramaikan diantaranya Universitas Gajah Mada (UGM), Universitas Negeri Yogya (UNY), Universitas Ahmad Dahlan (UAD), Atma Jaya Yogyakarta, STIKES Bathesda dan Sanata Dharma. Masing-masing dari universitas mengeluarkan satu tim tari sebagai perwakilan, kecuali UNY dan UAD yang mengeluarkan dua perwakilan.

Acara malam itu dibuka dengan penampilan dari salah satu tim tari UNY. Sorak sorai penonton mulai pecah ketika tim tari pertama dari UNY mulai naik keatas panggung. Antusiame penonton terlihat malam itu, semua kursi penuh bahkan banyak penonton yang rela berdiri untuk mendukung tim favoritnya. Satu per satu para penari tampil dengan membawa ciri khas dan cerita masing-masing. Dian Kusuma, penari dari tim UGM menjelaskan cerita di balik tarian yang ia bawakan bersama timnya. “Tarian tadi berjudul Gawe Urup, ceritanya mengenai buruh pekerja yang tetap gembira walaupun bekerja keras dan sering dipandang sebelah mata oleh kalangan lain,” tutur Dian. Berbeda dengan UGM, tim tari Universitas Sanata Dharma membawakan cerita tentang pedagang burung emprit di Pasar Ngasem yang sekarang sudah tiada. “Kami ingin memberi gambaran mengenai keadaan sosio-ekonomi di Yogyakarta, Pasar Ngasem kita ambil sebagai contoh,” jelas Yessica, koreografer tim tari Universitas Sanata Dharma.

Hapsari Shinta Nirmala salah satu penonton menilai secara keseluruhan tarian yang dibawakan sudah bagus, namun ia tetap mengunggulkan tim tari Sanata Dharama akan keluar sebagai pemenang. Tidak hanya penonton, Titi selaku ketua pelaksana tangkas seni tari juga sudah memiliki beberapa tim tari yang ia jagokan meski tetap mengapresiasi semua tim yang telah tampil. “Tim tari dari UGM, UNY dan Sanata Dharma memang lebih menonjol dari tim tari lainnya,” jelas Titi yang juga menjadi juri dalam acara tersebut.

Kendati banyak dijagokan, Yessica mengaku tidak ambil pusing. “Tujuan utama aku sih, tetap untuk menghibur penonton dan menikmati panggung,” tutur Yessica yang telah berlatih sejak Januari lalu. Begitu juga Dian yang berharap tarian yang ia peragakan bisa menyampaikan pesan yang terkandung dan menjadi inspirasi bagi para penonton. Setelah kesembilan tim tari selesai tampil, tim tari Sanata Dharma didaulat sebagai pemenang dan sekaligus menutup acara malam itu. [Dimas Sybli Muhammad Haikal, Kevin Muhammad]

peksimida 2014peksiminas 2014sanata dharmasenitari ugm
0
Facebook Twitter Google + Pinterest

Artikel Lainnya

Pesantren Bumi Cendekia Bagikan Upaya Pencegahan Kekerasan Seksual...

Diskusi Buku “Pembangunan Untuk Siapa? Kisah Perempuan di...

LPM Himmah UII Ungkap Ketimpangan Pendidikan Dasar di...

Diskusi Perempuan Adat Kritik Jerat Paksaan Industri Ekstraktif

Muat Candaan Seksis, Buku Gadjah Mada Bercanda Karya...

Tilik Relasi Kolonial di Papua dalam Diskusi Papua...

Berikan Komentar Batal Membalas

Situs ini menggunakan Akismet untuk mengurangi spam. Pelajari bagaimana data komentar Anda diproses.

Pos Terbaru

  • Pesantren Bumi Cendekia Bagikan Upaya Pencegahan Kekerasan Seksual di Pesantren Lewat Diskusi “Memutus Mata Rantai Kekerasan Seksual di Pesantren”

    Januari 28, 2026
  • Diskusi Buku “Pembangunan Untuk Siapa? Kisah Perempuan di Kampung Kami” Soroti Dampak Pembangunan Bagi Ruang Hidup Perempuan

    Desember 25, 2025
  • LPM Himmah UII Ungkap Ketimpangan Pendidikan Dasar di DIY melalui Pameran “Melihat Sekolahku”

    Desember 18, 2025
  • Diskusi Perempuan Adat Kritik Jerat Paksaan Industri Ekstraktif

    Desember 10, 2025
  • Muat Candaan Seksis, Buku Gadjah Mada Bercanda Karya Heri Santoso Tuai Kritik Mahasiswa

    Desember 5, 2025

Jurnal Balairung Vol. 2 No. 2 (2020)

Infografis

Moral Tanpa Tuhan

Sampah Kota Ditopang Swadaya Warga

Berebut Gunungkidul

Yu Par, Legenda Kantin bonbin

Menyambut Coming Out Age dengan Berubah Menjadi Panda

Hubungi Kami

Facebook Twitter Instagram Pinterest

Ads

Footer Logo
  • TENTANG KAMI
  • PEDOMAN MEDIA SIBER
  • AWAK
  • KONTAK
  • KONTRIBUSI

©2022 BPPM BALAIRUNG UGM