Balairungpress
  • REDAKSI
    • KILAS
    • ALMAMATER
    • LAPORAN UTAMA
    • APRESIASI
    • INSAN WAWASAN
  • NALAR
    • WAWASAN
    • KAJIAN
  • REHAT
    • ARSIP
    • BUKU
    • FILM
    • OPINI
    • SASTRA
  • BINGKAI
    • ANALEKTA
    • INFOGRAFIS
    • KOMIK
    • PERISTIWA
    • SKETSA
  • PIPMI
    • Direktori
    • Suplemen
    • PUBLIKASI
  • ENEN
  • IDID
Newest post
Pesantren Bumi Cendekia Bagikan Upaya Pencegahan Kekerasan Seksual...
Diskusi Buku “Pembangunan Untuk Siapa? Kisah Perempuan di...
LPM Himmah UII Ungkap Ketimpangan Pendidikan Dasar di...
Diskusi Perempuan Adat Kritik Jerat Paksaan Industri Ekstraktif
Muat Candaan Seksis, Buku Gadjah Mada Bercanda Karya...
Tilik Relasi Kolonial di Papua dalam Diskusi Papua...
Diskusi Pendidikan dan Demokrasi, Ungkap Gagalnya Pendidikan dalam...
Kota Batik yang Tenggelam
Titah AW: Jurnalisme Bisa Jadi Kanal Pengetahuan Lokal
Membumikan Ilmu Bumi

Balairungpress

  • REDAKSI
    • KILAS
    • ALMAMATER
    • LAPORAN UTAMA
    • APRESIASI
    • INSAN WAWASAN
  • NALAR
    • WAWASAN
    • KAJIAN
  • REHAT
    • ARSIP
    • BUKU
    • FILM
    • OPINI
    • SASTRA
  • BINGKAI
    • ANALEKTA
    • INFOGRAFIS
    • KOMIK
    • PERISTIWA
    • SKETSA
  • PIPMI
    • Direktori
    • Suplemen
    • PUBLIKASI
  • ENEN
  • IDID
DIALEKTIKA

Pancasila di Era Informasi, Masihkah Relevan?

Oktober 13, 2011

Rabu (12/10) panitia UGM Innovation Expo menggelar acaratalk show di Grha Saba Pramana. Menurut panitia, acara ini diadakan untuk menjawab kegundahan mahasiswa terkait dengan relevansi Pancasila di era sekarang. Seperti yang pernah dikemukakan Avin Toffler, masyarakat kini sudah mulai memasuki babak baru di mana ketersediaan informasi melimpah bak tsunami. Di dalam bukunya yang bertajuk  The Third Wave, keterbukaan informasi ini menghasilkan beragam konsekuensi. Salah satunya adalah “kegengsian” generasi C (Connected generation) dalam mengamalkan nilai-nilai luhur Pancasila. Mereka beranggapan nilai-nilai Pancasila sudah tak relevan lagi diterapkan dalam konteks kekinian. Akhirnya kekhawatiran ini terus berlanjut. Banyak pihak yang mencemaskan nilai-nilai Pancasila bisa tergerus akibat keterbukaan informasi yang demikian masif ini.

Kekhawatiran itu akhirnya ditepis oleh Anggito Abimanyu yang pada kesempatan ini didaulat sebagai pembicara. Menurut dosen Fakultas Ekonomi UGM ini, Pancasila hingga kapanpun tidak akan pernah usang dan kadaluarsa. Ia memaparkan, “Pancasila oleh founding fathersdisarikan dari nilai-nilai luhur bangsa Indonesia.” Oleh sebab itu, Pancasila yang menjadi representasi kepribadian bangsa ini tetap layak dijadikan pedoman hidup.

Alissa Wahid, praktisi dan akademisi dari Fakultas Psikologi UGM menambahkan, kekhawatiran tersebut sangat dimafhumkan. “Ini menjadi semacam conditio sine quanon bagi generasi informasi sekarang,” ujarnya. Bahwasanya di tengah gempuran badai teknologi informasi, pancasila menjadi anasir penting untuk menjaga keutuhan bangsa dan memelihara moral baik pemudanya. Karenanya, menurut Anggito, aplikasi nilai-nilai universal dalam Pancasila ini seyogyanya terus diberdayakan. Selain bisa digunakan sebagai tata moral, Pancasila juga bisa berperan sebagai pemersatu bangsa. “Dalam konteks dromologi informasi sekarang ini, nilai-nilai Pancasila bisa dijadikan alat ampuh untuk mendukung perjuangan mahasiswa,” tegasnya.

Ketika ditanya bagaimana caranya menanamkan nilai-nilai Pancasila, Alissa memberikan jawaban yang diplomatis. Menurutnya, internalisasi nilai Pancasila bukan hanya tanggung jawab akademisi dan institusi pendidikan, tapi menjadi amanah bagi setiap individu. “Memang penanaman nilai ini tidak bisa seketika, melainkan lewat proses yang terus-menerus,” ujarnya. Inilah yang kemudian disebut Alissa sebagai bagian dari proses nation building. “Amerika yang negara adidaya saja butuh waktu bertahun-tahun untuk bertransformasi menjadi bangsa ideal di medio 1960-an, bagaimana dengan Indonesia?” sahutnya. Proses ini sekaligus menjadi pembelajaran bagi Indonesia untuk mencapai keseimbangan yang diharapkan. Menurut Anggito, memaknai Pancasila tidak bisa dilakukan secara seremonial hanya dengan menghafal sila-silanya saja. “Yang harus dilakukan bangsa ini adalah menginternalisasikan nilai-nilai Pancasila, namun tidak menjadikannya sebagai doktrin,” pungkasnya. [Purnama Ayu Rizky.bal]

 

Alissa Wahidanggito abimayuPancasila di era reformasiUGM Innovation Expo
0
Facebook Twitter Google + Pinterest

Artikel Lainnya

Pemilihan Pengurus Baru KATGAMA 2015

Tokoh Nasional Ajak Lawan Korupsi

Tindak Kekerasan Berkedok Perbedaan

UUK Diprediksi Tidak Panjang Umur

Bahas Perubahan Iklim, Gandeng Masyarakat Dunia

Panggung Bebas, Seni dalam Komunitas Berbeda

Berikan Komentar Batal Membalas

Situs ini menggunakan Akismet untuk mengurangi spam. Pelajari bagaimana data komentar Anda diproses.

Pos Terbaru

  • Pesantren Bumi Cendekia Bagikan Upaya Pencegahan Kekerasan Seksual di Pesantren Lewat Diskusi “Memutus Mata Rantai Kekerasan Seksual di Pesantren”

    Januari 28, 2026
  • Diskusi Buku “Pembangunan Untuk Siapa? Kisah Perempuan di Kampung Kami” Soroti Dampak Pembangunan Bagi Ruang Hidup Perempuan

    Desember 25, 2025
  • LPM Himmah UII Ungkap Ketimpangan Pendidikan Dasar di DIY melalui Pameran “Melihat Sekolahku”

    Desember 18, 2025
  • Diskusi Perempuan Adat Kritik Jerat Paksaan Industri Ekstraktif

    Desember 10, 2025
  • Muat Candaan Seksis, Buku Gadjah Mada Bercanda Karya Heri Santoso Tuai Kritik Mahasiswa

    Desember 5, 2025

Jurnal Balairung Vol. 2 No. 2 (2020)

Infografis

Moral Tanpa Tuhan

Sampah Kota Ditopang Swadaya Warga

Berebut Gunungkidul

Yu Par, Legenda Kantin bonbin

Menyambut Coming Out Age dengan Berubah Menjadi Panda

Hubungi Kami

Facebook Twitter Instagram Pinterest

Ads

Footer Logo
  • TENTANG KAMI
  • PEDOMAN MEDIA SIBER
  • AWAK
  • KONTAK
  • KONTRIBUSI

©2022 BPPM BALAIRUNG UGM