
©Pangestu/Bal
“Innalillahi wa inna ilahi raji’un, telah berpulang ke hadapan Tuhan, hati nurani Prabowo-Gibran,” seru Jack, salah satu orator aksi di Bundaran Universitas Gadjah Mada (UGM), Minggu sore (07-06). Saat itu, massa aksi yang terdiri atas sejumlah mahasiswa UGM menggelar aksi simbolis berupa penggantungan dan kremasi jasad pemimpin negara, Prabowo-Gibran. Aksi yang diinisiasi oleh Aliansi Mahasiswa UGM tersebut dipicu kemarahan atas kondisi negara selama pemerintah Prabowo-Gibran.
Aksi dimulai dengan orasi, dilanjut penggantungan dua boneka pocong dengan kepala bertempelkan foto Prabowo dan Gibran di tiang bendera bundaran UGM. Setelah boneka digantung, Jack menyerukan bahwa penggantungan dilakukan sebagai simbol nasib masyarakat yang digantungkan pada hilangnya nurani Prabowo-Gibran. “Secara simbolik, kita gantung nuraninya di atas sana agar [Prabowo dan Gibran-red] merasakan penderitaan yang dirasakan oleh rakyat Indonesia sekarang,” serunya.

Penggantungan boneka Prabowo-Gibran di tiang bendera bundaran UGM. ©Pangestu/Bal
Tak hanya Jack, silih-berganti massa aksi turut berorasi dalam aksi yang berlangsung selama lebih dari satu jam tersebut. Mesa, salah satu peserta aksi, menyampaikan bahwa fokus utama para demonstran adalah masalah ekonomi nasional berupa anjloknya Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) serta melemahnya nilai tukar rupiah. Sejalan dengan Mesa, peserta aksi lain bernama Pay menegaskan, “Kondisi ekonomi kita sedang tidak baik-baik saja, justru sangat menuju kehancuran.” Ia lantas berpendapat bahwa kondisi yang terjadi sekarang kian diperparah oleh absennya langkah korektif terhadap regulasi yang ada. Dalam penilaian Mesa, hal tersebut menjadi semakin runyam karena tidak ada oposisi di dalam pemerintahan saat ini.
Kondisi ini diamini peserta aksi bernama Hadit yang mengaku turut tertindas oleh rezim Prabowo-Gibran. Dalam orasinya, ia menganggap sistem ekonomi sekarang telah salah urus sehingga memaksa rakyat kecil berutang hanya untuk makan. “Seharusnya ibu kita di rumah itu tidak menangisi utang yang semakin menunggak dan ayah kalian badannya tidak rusak karena hari-hari membanting tulangnya demi membayar utang yang tidak terbayarkan,” ujar Hadit.
Selain menyoroti masalah ekonomi, massa juga melayangkan kritik terhadap kebijakan prioritas pemerintah, khususnya program Makan Bergizi Gratis (MBG). Marko, salah satu peserta aksi, menilai bahwa Program MBG tidak memberikan dampak signifikan dan justru rawan diselewengkan. “Program-program prioritas banyak yang digunakan untuk menjadi ladang korupsi,” ungkap Jack. Kritik tersebut dibarengi aksi teatrikal yang menggunakan ompreng MBG sebagai batu nisan untuk jasad Prabowo-Gibran”.

Aksi teatrikal pembakaran jasad Prabowo-Gibran. ©Pangestu/Bal
Menanggapi semua keterpurukan tersebut, Mesa menilai akar permasalahannya berasal dari inkompetensi rezim saat ini. Menurutnya, rendahnya kompetensi pemimpin telah berdampak pada memburuknya berbagai persoalan di Indonesia yang memprihatinkan. Ia menilai, kondisi tersebut mencerminkan kapasitas dan moralitas pemerintah yang tidak layak untuk memimpin negara. “Indonesia saat ini sedang tenggelam, tenggelam oleh bobroknya rezim,” ujar Mesa.
Di balik permasalahan nasional itu, Pay sebagai mahasiswa menyayangkan keberpihakan UGM. Menurutnya, sikap UGM justru tidak mencerminkan gelar kerakyatan yang disandangnya. Ia mengatakan bahwa selama ini belum ada langkah konkret dari UGM terhadap tuntutan mahasiswa atas masalah nasional. Menurutnya, ada sikap awas yang membuat UGM tak berani menyuarakan hak-hak rakyat. “Saya sangat menyayangkan dan kecewa bahwasanya UGM sebagai salah satu pilar bangsa ini tidak pernah ada statement yang berpihak kepada masyarakat,” tambah Pay.
Aksi simbolik tersebut ditutup doa bersama dengan harapan keresahan yang telah disuarakan terdengar oleh para pemangku kekuasaan. Pay mengharapkan adanya solidaritas dan kesadaran seluruh elemen masyarakat untuk mengawal keresahan atas kondisi negara yang semakin memburuk. “Kami berharap Indonesia lekas pulih, kami berharap pemerintahan berganti, kami berharap ada perubahan yang mengakar, kami berharap yang terbaik untuk masyarakat,” pungkas Mesa.
Penulis: Chuzaima B. dan Dicky Dharma Putra
Penyunting: Falinkha Varally
Fotografer: Pangestu Ibnu
Kurator: Adhitia Sutanto