Balairungpress
  • REDAKSI
    • KILAS
    • ALMAMATER
    • LAPORAN UTAMA
    • APRESIASI
    • WAWANCARA
  • NALAR
    • WAWASAN
    • KAJIAN
    • INSAN WAWASAN
  • REHAT
    • ARSIP
    • BUKU
    • FILM
    • OPINI
    • SASTRA
  • BINGKAI
    • ANALEKTA
    • INFOGRAFIS
    • KOMIK
    • PERISTIWA
    • SKETSA
  • PIPMI
    • Direktori
    • Suplemen
    • PUBLIKASI
  • Tentang Kami
    • KONTAK
    • Masthead
  • ENEN
  • IDID
Latest post
Pelindung atau Musuh dalam Selimut?
Mahasiswa UGM Gelar Aksi Simbolik Pemakaman Prabowo-Gibran
Darurat Kriminalisasi Aborsi
Diskusi Publik Ketenagakerjaan DIY Tuntut Prabowo Tepati Janji...
Aksi “Matikan Aplikasi” Pekerja Platform Tuntut Penghapusan Status...
Tertiban Pemimpin, Sakit
Pendidikan Penghayat Hadapi Tantangan Akibat Ketiadaan Aturan dalam...
Ilusi Keadilan dalam Pidana Mati
Putusan Sidang Tapol Diwarnai Kejanggalan, Massa Aksi Kepung...
Aksi Hari Buruh Yogyakarta Tuntut Pengesahan UU Ketenagakerjaan...

Balairungpress

  • REDAKSI
    • KILAS
    • ALMAMATER
    • LAPORAN UTAMA
    • APRESIASI
    • WAWANCARA
  • NALAR
    • WAWASAN
    • KAJIAN
    • INSAN WAWASAN
  • REHAT
    • ARSIP
    • BUKU
    • FILM
    • OPINI
    • SASTRA
  • BINGKAI
    • ANALEKTA
    • INFOGRAFIS
    • KOMIK
    • PERISTIWA
    • SKETSA
  • PIPMI
    • Direktori
    • Suplemen
    • PUBLIKASI
  • Tentang Kami
    • KONTAK
    • Masthead
  • ENEN
  • IDID
KONTRIBUSISASTRA

Puisi Bekasi

Oktober 20, 2018

©Rusmul/BAL

Gelagat Nyorog
Rantang menenteng gabus  pucung.
Mata puisi memandang gelap jiwa dalam kuah.

Tiga tumpuk mangkuk menyusun doa.
rempah menyentuh lidah puisi bersama
rasa pedas dan ingatan sedih.

Gabus memulihkan luka di tubuh puisi,
setelah menghapus dahaga seperti
menghabiskan ikan kecil di rawa-rawa.

Hati yang bungah memasuki bulan
yang gurih. Tangan puisi menyentuh
hangat, mengenakan diksi yang segar

Puisi melahap sayur bagai
menyantap siraman rohani.

Pamahan
kota tidak lebih dari kelontong 24 jam
setelah sorot lampu mobil membelah sawah
dan resto cepat saji melesatkan persinggahan.

kurelakan segala yang tidak bernilai
laron-laron mati di teras rumah penuh debu
kembang cinta layu di pekarangan belakang
nangka busuk jatuh dari pohon di kebun tetangga

pamahan melihat hidup dengan mata pancing
dalam keruh air, tidak jemu menunda nasib buruk.

Di Jati Asih
Di Jati Asih, Purnawarman bangkit
ditiup amarah, melempar 6000 tombak,
tersusun panjang. Bukan sungai yang
Membelah. Tangis petani sayur mengairi
Panen terakhir.

Di Jati Asih, Masa kecil menghilang dari
tubuhmu.Tergelincir di pematang
sawah dalam ingatan petani sayur.

Di Jati Asih, angkot merah sewarna darah
bersiap mengagkut dukamu, melalui jalan
bebas hambatan ke kota lain.

Di Jati Asih, tubuhmu lelah
Membajak petak-petak ingatan.

Catatan Kematian
Buni menulis kematian
di atas tembikar merah mesir
bersama gerabah india selatan.

Raja-raja tarum dilarung
dalam keheningan sungai.
Surga bersembunyi di balik
Pintu batu, di gembur tanah.

Bising deru kereta terdengar
bagai tarikan nafas terakhir.
Tentara jepang tak bernama

Sasak kapuk mengutuk prajurit sinkh
Inggris mengutus takdir  ke Ujung
Harapan untuk memutus nyawa.

Penyair mati dalam puisi
di antara celah kata-kata,
pembaca mencari makna
di antara mayat-mayat.

Dharmayawarman
Istirah putra rajadirajaguru dalam lindung cahaya bulan. Berpendar menari di atas biru sungai suci yang meliuk serupa sloka–aksara yang kehilangan dayanya. Di pusara paling rahasia, doa dilarung pada dewi Laksmi.  dari muara maha luas, selama  ibu bumi mengeja palawija niscaya air mengalir.

Selepas abdi, Lumah ri chandrabhaga abadi dalam hening tanah. Melalui gemercik parit, doa menjelma sayur, padi, dan nasib baik di subur sawah petani.

Pramodana

Lahir di Jakarta, 19 Maret 1999. Mahasiswa Fakultas Filsafat UGM. Bergiat di Komunitas Selepas Senja. Dapat dihubungi di twitter @ibnsetyadi

Redaksi

See author's posts

kontribusipramodanapuisi bekasi
2
Facebook Twitter Google + Pinterest

Artikel Lainnya

Ruang-Ruang Untuk Kami dan Puisi-Puisi Lainnya

Rumah Api

Jejak Tan dan Puisi-Puisi Lainnya

Kota Kata

Cita-Cita Karima

Surat Pengadilan

Berikan Komentar Batal Membalas

Situs ini menggunakan Akismet untuk mengurangi spam. Pelajari bagaimana data komentar Anda diproses

Pos Terbaru

  • Pelindung atau Musuh dalam Selimut?

    Juni 11, 2026
  • Mahasiswa UGM Gelar Aksi Simbolik Pemakaman Prabowo-Gibran

    Juni 10, 2026
  • Darurat Kriminalisasi Aborsi

    Juni 7, 2026
  • Diskusi Publik Ketenagakerjaan DIY Tuntut Prabowo Tepati Janji Hari Buruh

    Mei 29, 2026
  • Aksi “Matikan Aplikasi” Pekerja Platform Tuntut Penghapusan Status Mitra

    Mei 20, 2026

Jurnal Balairung Vol. 2 No. 2 (2020)

Infografis

Moral Tanpa Tuhan

Sampah Kota Ditopang Swadaya Warga

Berebut Gunungkidul

Yu Par, Legenda Kantin bonbin

Menyambut Coming Out Age dengan Berubah Menjadi Panda

Hubungi Kami

Facebook Twitter Instagram Pinterest

Ads

Footer Logo
  • TENTANG KAMI
  • PEDOMAN MEDIA SIBER
  • AWAK
  • KONTAK
  • KONTRIBUSI

©2022 BPPM BALAIRUNG UGM