tentang Balairung
PROFIL BPPM BALAIRUNG UGM
Sejarah Balairung:
Dari Madjalah Gadjah Mada, Koran Kampus Gelora Mahasiswa, Majalah Majalah mahasiswa Sampai Ke Jurnal balairung (mencari benang merah Perjuangan pers mahasiwa di UGM)
Ketika universitas ini, Uiversitas Gadjah Mada, berdiri 19 Desember 1949, muncul tuntutan dan keinginan dari mahasiswanya untuk bergulat dengan jurnalisme, maka ikut didirikanlah majalah Gadjah Mada. Sebagaimana ditulis redaksi majalah GAMA pada edisi ulang tahun yang ke-7 nampak jelas maksud didirikannya majalah GAMA
Bumi berputar, masa berlalu, dengan tak terasa madjalah GAMA telah memasuki umur ke-8 dari penerbitannya.
Selama 7 tahun, banjak djasa2jang dapat dikemukakan dari kegiatan madjalah GAMA.
GAMA lahir dalam tahun-tahun pertama dari kehidupan Universitas Gadjah mada dan hari-hari pertama dari pembinaan Negara Republik Indonesia. Lahir sebagai sumbangan almamater dan terhadap masjarakat dan merupakan penghubung antara mahasiswa dengan mahasiswa, mahasiwa dengan dewan mahasiswa, mahasiswa dengan mahaguru dan pegawai, serta mahasiswa dengan masjarakat.
Di dalam menunaikan tugasnja GAMA berhasil menjalurkan sumbangan2 konstruktif mahasiswa unrtuk masalah2 universitas dan kemasjarakatan, melukiskan perkembangan2 didalam universitas Gadjah Mada chususnja dan dunia mahasiswa umumnja, memberikan dorongan serta mengabdikan kerja2 sastrawan mahasiswa, serta menjadjikan batjaan2 serta karikatur 2 jang segar menarik.
Untuk ara mahasiswa, dan bahkan para alumni, GAMA tetap akan merupakan sahabatsetia untuk mengikuti perkembangan-perkembangan didalam lingkungan universitas GADJAH MADA.
Didalam dunia pers mahasiswa indodensia jang masih muda usianja, Madjalah GAMA memberikan sumbangan jang besar. jaitu sebagai pendukung inisiatif kerana kerdjasama jang lebih erat antara sesama pers mahasiswa hingga mewujudkan komperensi Per Mahasiswa I tgl 6-10 Agustus 1955 di kaliurang, jang melahirkan S. P. M. I (Serikat Pers mahasiwa Indonesia) dan I. W. M. I (Ikatan wartawan mahasiswa Indonesia). Didalam Komperensi Pers mahasiwa Indonesia II tg 16-19 Djuli 1958, I. W. M. I dan S. P. M. I meleburkan diri menjadi I. P. M. I. (Ikatan Pers Mahasiwea Indonesia), juga didalam I. P. M. I. madjalah GAMA merupakan Unsur penegak utama, baik didalam pengurus pusat maupun pengurus tjabang Jogjakarta.
Harapan kami, didalam tahun ke 8 ini dan tahun-tahun berikutnya madjalah GAMA dapat lebih banjak lagi memberikan sumbangan2 untuk kepentingan Universitas GADJAH MADA chususnja, dunia mahasiswa umumnja –termasuk kalangan pers mahasiswa-, untuk pembangunan masjarakat Indonesia.
Jogjakarta 1 Desember 1958 (Madjalah GAMA 1/VIII Desember 1958)
Kutipan ini diambil dari dokumentansi majalah GAMA koleksi milik Bapak Rudjito SK, salah seorang anggota dewan redaksi GAMA yang kemudian menjadi staf redaksi majalah KARTINI Jakarta. Dokumentasi ini dipinjam pengurus balairung tahun 1988)
Kemudian tercatat nama-nama MaschunSofwan, Mashfar Djamin, Zakaria Idris, Lexy T. Pattipeilohy, M. Toha, pernah duduk di dewan pimpinan. Sedang Budi Darmo, Amir Prawiro, Roedjito masuk dalam jajaran dewan redaksi. Ilustrasi pernah diisi oleh hari Sukarto dan Sabdo Walujo. Di jajaran tata usaha ada nama Atjep Suwartono, Ahmad Djari, Setyaningsih Roestamadji.
Pada awal perkembangannya tercatat nama Prof. Dr. T. Jacob (guru besar antropologi Ragawi FK UGM) dan Prof. Dr. Koesnadi Hardjasumantri, SH. (guru besar ilmu hukum lingkungan). Pernah menjadi pengelola media ini. Dan keduanya pernah memimpin IPMI. Kemudian dalam perjalanan waktu pers mahasiwa tidak jelas nasibnya.
Hingga kemudian Mei 1974 terbit koran kampus UGM Gelora mahasiswa. Berbeda dengan madjalah gama yang diterbitkan oleh gama press maka GEMA diterbitkan oleh dewan Mahasiswa. GEMA tampak lebih kental dengan geakan mahasiswa yang marak tahun 1970-an. Seperti yeng tertulis dalam editorial edisi perdana:
Bandung, Jakarta dan, Yogya adalah tiga kota mahasiswa paling bergolak dibanding dengan kota-kota lainnya, begitu kesan seorang asing yang singgah di Yogja beberapa waktu yang lalu. Mungkin saja itu benar, komentar seorang rekan, tetapi ada perbedaan besar dalam kegiatan resmi kemahasiswaan. Kalau didua kota terdahulu posisi-posisi penting dalam hierarki mahasiswa dipegang oleh tokoh-tokoh yang boleh deh lewat kompetisi yang sengit, maka di Jogja konk kabarnya eksponen-eksponen yang mampu dan berbakat biasanya suka bersembunyi dan acuh tak acuh.
Sebuah kancah telah terbuka, itulan gelora mahasiwa. Kancah kompetisi, kancah beradu ide, kancah bertanding prestasi. (GEMA edisi perdana, Juli 1974)
Kemudian Juli 1979 nama Saur Hutabarat, mantan Pemimpin Redaksi majalah editor, yang ini malih rupa menjadi TIRAS, naik ke jabatan pemimpin umum. Saur tampaknya membawa perubahan orientasi media ini, yang konon, saking dia juga GEMA membuat headline besar-besaran: Gantung Sukadji! (Sukadji Ranuwiharjo, rektor UGM kala itu).
Entah disengaja atau tidak, berbarengan dengan itu, NKK/BKK telah membuat iklim kemahasiswaan di Indonesia jadi kian Beku. Dan sejak itu pula GEMA, koran kampus UGM itu dibreidel oleh rektornya sendiri. Sejak itu dunia pers mahasiswa ditingkat universitas mengalami kevakuman. Iklim dunia mahasiwa Indonesia tahun 80-an terimbas oleh normalisasi kehidupan kampus. Badan koordinasi kegiatan tersebut. Berbagai saluran aktivitas dan kreativitas kemahasiswaan yang dibuarkan rupanya mampu menumbuhkan apatisme, serta menumpulkan kepedulian sosial mahasiswa.
Berawal dari seminar pers mahasiwa yang diselenggarkan oleh majalah Clapeyron, majalah mahasiswa jurusan teknik Sipil Fakultas Teknik UGM tanggal 29 Oktober 1985, sekelompok aktivis mendirikan malajah Balairung, majalah tingkat universitas. Dimotori oleh Abdul Hamid Dipopramono, pers tingkat universitas ini terbentuk. Dan ini medapat dukungan penuh Prof. Dr. T. Jacob, rektor waktu itu. tapi singkatnya begini:
Pasca pelaksanaan seminar pers mahasiswa, sekelompok kaum muda yang berbekal semangat melakukan pembicaraan yang berlangsung dari 09 sampai dengan 19.00 dan kemudian dilakukan acara keakraban sampai dengan 20.30. mereka menghasilkan satu rumusan yang lebih mirip dengan petisi. Mereka menginginkan agar di tingkat universitas diterbitkan bentuk majalah, dengan disertai ketentuan ara pengurusnya. Pernyataan ini memang merupakan inti perumusan. Selain itu evaluasi jujur juga dilakukan terhadap kondisi yang melingkupi pers mahasiswa, terutama kebanyakan mengeluh tentang tiadanya dana yang mendukung dan kurangnya mahasiswa yang mempunyai dedikasi. Kesulitan umum dimana-mana. Tim perumus yang mewakili para peserta mengabstraksikan hasil seminar itu: Abdul Hamid Dipopramono (ketua/anggota), Agus Aman Santoso (anggota), Ana Nadya Abrar (anggota), M. Thoriq (anggota), Mohamad Alfaris (anggota), Laksono T. Sulaiman (anggota), Agus Ibar Santosa (anggota), Bambang Suhadjanto (anggota), Anwar Muhadi (anggota), Hendro Saptono (anggota). Tim perumus kemudian menugaskan panitia seminar (Clapeyron) untuk memproses lebih lanjut hasil rumusan itu.
Disipkanlah pasukan komando panitia dengan ketua Aried Wicaksono dan sakretaris umum Ateng Tohari. Berangkatlah utusan tim perumus dan panitia, dengan membawa hasil perumusan, tanggal 2 November 1985. Sekalipun harus dengan “gertakan” dulu, rektor langsung bisa menerima rumusan. Bahkan kemudian menantang:”rumusan ini harus kalian realisasikan” Maksudnya profesor T. jacob jua sangat mendukung di UGM didirikan penerbitan mahasiswa tingkat universitas. Dengan disaksikan Purek III, bahkan rektor menginginkan agar bisa berdiri pada tanggal 19 Desember 1985 saat UGM merayakan ulang tahun ke-36. Majalah harus terbit 25 Desember 1985!.
Konsep dan Penamaan Balairung
Sedang penggunaan nama balairung untuk majalah UGM dimaksudkan sebagai arena berinteraksi, berdiskusi, menguji pemikiran, berkomunikasi antar mahasiswa. Dari sini diharapkan muncul pemikiran-pemikiran alternatif, juga penyadaran eksisitensial atas nama kehadirannya.
Seminar sudah bubar. Tidak mungkin mengumpulkan peserta kembali untuk mengkonsepsikan majalah UGM. Bahkan mengumpulkan tim perumus dalam waktu singkat sangat sulit, meskipun satu fakultas. Hanya terkumpul beberapa orang saja untuk merumuskannya kembali. Dan setelah dua hari dua malam, terkonseplah rencana majalah mahasiswa Universitas Gadjah Mada dengan nama BALAIRUNG. Konsep awal memang cukup sederhana. Direncanakan isi majalah 60 halaman dengan 13 rubrik.
Nama balairung untuk mengabadikan ruangan utama gedung pusat UGM. Lebih dari itu balairung sendiri mempunyai makna kebesaran, sebuah ruangan utama tempat berkomunikasi sivitas akademika dari berbagai fakultas di UGM. Bagi mahasiswa mempunyai makna khusus kareba ruangan ini menjadi tempat diskusi dari pagi hingga malam hari. Ditempat itulah dipakai untuk upacara-upacara kebesaran. Makna sesungguhnya adalah tempat berinteraksi kualitatif dan kuantitatif semua warga
Nama balairung merupakan usulan dari Abdul Hamid Dipopramono, juga logo dan semboyannya “Nafas Intelektual Mahasiswa”. []
VISI DAN MISI
Membuat Burung Berkicau
Seuntai Visi Balairung
Bagaimana jika seekor burung tidak bisa berkicau?
Nobunaga menjawab: “Bunuh burung itu,”
Hideyoshi menjawab: “Buat burung itu ingin berkicau,”
Ieyasu menjawab: “Tunggu.”
Percakapan diatas adalah bagian dari sajak yang dihafal oleh setiap anak yang sekolah di Jepang. Menceritakan tentang perbedaan mencolok dari falsafah yang dianut oleh tiga tokoh besar Jepang menjelang pertengahan abad ke-16, ketika Keshounan Ashikaga ambruk. Seperti jawaban Hideyosi, itulah yang diinginkan balairung. Membuat burung yang tidak mau berkicau menjadi penyuara yang indah dan berani. Menyegarkan, juga merangsang dinamika kehidupan mahasiswa kearah yang lebih demokratis, dinamis, ilmiah dan juga kental dengan kepedulian sosial.
Kita tidak ingin menjadi seperti Ieyosu yang hanya bisa menunggu. Juga bukan Nobunaga yang dengan kejam membunuh apa yang tidak diinginkan. Tetapi menjadi seperti Hideyoshi, membuat burung itu ingin berkicau. Membuat sejarah perubahan. Meski tidak mudah membuatnya tetapi itulah tantangannya. Idealis, bekerja keras menghasilkan perubahan. Bukan pemalas, dan tidak sabar.
Balairung saat ini
di usia yang ke-24, Balairung telah memantapkan posisinya dalam menyikapi tuntutan pers mahasiswa pasca 98. pertama, menghidupi kampus dengan community press (pers komunitas). Kedua, makin serius seagai press of discourse (pers wacana). Bukti nyata kami berani bermain dalam dua ranah itu adalah terbitnya dua produk utama balairung, yakni media mahasiswa diwmingguan BALKON) dan jurnal mahasiswa BALAIRUNG.
Disamping menelurkan balkon dan jurnal Mahasiswa, Balairung juga aktif menerbitkan Kumpulan cerpen terpilih Balairung (KCTB), Antologi Puisi, BALAIRUNGPRESS.COM, serta melanjutkan Proyek Pusat Informasi Pers Mahasiswa (PIPMI)
Semua pilihan dan kerja keras itu mengantarkan Balairung sebagai satu-satunya pers mahasiswa yang meraih juara I peberbitan Alternatif ISAI tiga kali berturut-turut (1998,1999 dan 2000). Sampai saat ini balairung masih dipercaya sebagai tolak ukur pers mahasiswa nasional.
Produk-produk BPPM BALAIRUNG
Sejarah Singkat balkon
Tanggal 2 September 1998, Badan Penerbitan Pers Mahasiswa (BPPM) BALAIRUNG Universitas Gadjah Mada (UGM) mengadakan Sarasehan Persma Se-Jawa-Bali. Reposisi Persma pasca-’98 diperbincangkan. Lahirlah dua tawaran: menjadi media komunitas atau media wacana, BALAIRUNG memilih keduanya.
Konsekuensi pilihan tersebut, BALAIRUNG menerbitkan dua produk utama, Balairung Koran dan Jurnal Balairung. Sejak April 1999, Balairung Koran terbit berbentuk koran dinding seukuran A2 dengan nama Balairung Koran. Setelah 13 edisi, dilakukan evaluasi, November 2000 berganti nama balkon. Formatnya bukan koran dinding, melainkan newsletter mingguan berukuran B4.
Format ini bertahan dua periode kepengurusan. Paruh akhir tahun kedua, ada penambahan halaman insidental, 12-16, dengan sisipan rubrik ‘lebih dekat’ yang berupaya melihat persoalan dari pelbagai angle. Jadi semacam IsoJ (Integrated System of Journalism/jurnalisme Terpadu).
Kemudian, perubahan ketiga terjadi, keputusan pada Musyawarah Kerja BALAIRUNG (Kaliurang, 18 Juli 2002). Balkon diamanatkan terbit dwimingguan dengan penambahan halaman menjadi 16. Alasannya, menyediakan cukup waktu bagi pegiat balkon include dalam keseluruhan kerja BALAIRUNG. Mengingat masa itu merebak keluhan awak baru terlalu sibuk dengan Balkon hingga kurang terlibat di BALAIRUNG. Sekaligus diharapkan pula dapat balkon dapat melakukan pemberitaan lebih mendalam, mencari kutipan kesana-kemari dan membenturkannya.
Perubahan keempat dialami sesudah edisi 77 (16 Mei 2005), merespons tanggapan buruknya tampilan Balkon. Diadakan pertemuan “REVOLUSI”, membahas perbaikan baik tampilan maupun isi. Langkah besar diambil Divisi Perusahaan meningkatkan kualitas cetak dari paper plate menjadi film. Pembiayaan dua kali lipat balkon sebelumnya.
Maka selanjutnya terjadi pengurangan empat halaman. Seluruh divisi mengimbangi dengan peningkatan kualitas kerja. Redaksi dan Riset mulai menggunakan bahasa-bahasa yang renyah, jurnalisme sastrawi. Produksi memiliki angin segar dengan tata letak dan cover lebih “cling”.
Mulai edisi 91, dengan kebutuhan permberdayaan awak, balkon berubah lagi. Format 16 halaman dikembalikan dengan ukuran lebih kecil (C4), pengorbanan dilakukan semua divisi. Redaksi dan Riset memadatkan tulisan, Perusahaan mencari uang lebih, Produksi mengefisiensi biaya produksi.
Begitu pun dengan segala perubahan, kehadiran balkon bagi BALAIRUNG tetap bermakna sebagai jalan media komunitas kembali ke kampus. Selain juga media pembelajaran awak-awaknya.


