Prof. Drs. Abdul Hamid Bambang Setiaji, M.Sc., Ph.D.: Pengabdian untuk Sebuah Perubahan
Keprihatinan yang diwujudkan Bambang dalam aksi nyata berhasil meningkatkan taraf hidup petani kelapa
“Indonesia memiliki lahan kelapa terbesar di dunia, 96% di antaranya merupakan lahan milik rakyat,” ujar Prof. Drs. Abdul Hamid Bambang Setiaji, M.Sc., Ph.D. Namun kondisi tersebut tidak lantas menjadikan kelapa sebagai komoditas utama Indonesia untuk diekspor ke luar negeri. Kebijakan ini, lanjut Bambang, terkait provokasi negara maju yang menyatakan bahwa kelapa merupakan sumber berbagai penyakit. Penyakit tersebut di antaranya meningkatkan kandungan kolesterol dan lemak di dalam tubuh.
“Teori yang mengatakan bahwa minyak kelapa mengandung kolesterol tinggi itu belum terbukti hingga saat ini, apalagi untuk minyak kelapa murni,” ungkap Bambang. Guru Besar Kimia Fakultas Matematika dan Ilmu Pengetahuan Alam Universitas Gadjah Mada ini khawatir anggapan buruk tentang kelapa akan menjatuhkan harga kelapa di pasaran. Selain itu, asumsi tersebut juga berpotensi mempersulit petani kelapa dalam menjual hasil panennya. Alasan inilah yang menarik minat Bambang melakukan penelitian untuk menemukan hasil olahan kelapa yang berkualitas.
Melalui penelitian selama hampir tiga puluh tahun, Bambang berhasil menemukan metode pengolahan kelapa menjadi beberapa macam produk. Produk itu di antaranya minyak kelapa murni atau Virgin Coconut Oil (VCO), belondo (salah satu bahan pembuat gudeg), nata de coco, pupuk organik, sabun, dan asap cair. Bambang menerapkan metode pengolahan tersebut dengan membina para petani kelapa. Pembinaan yang diadakan bertujuan untuk melatih para petani agar dapat mengolah kelapanya secara mandiri.
Berdasarkan hasil penelitiannya, Bambang membina para petani kelapa untuk mengolah satu butir kelapa menjadi enam produk berbeda. Hal ini tentu bukan pekerjaan mudah baginya. Bambang harus menjelaskan penerapan ilmu kimia yang dikuasainya menjadi sederhana dan mudah diterapkan oleh para petani kelapa. Usaha nyata Bambang terwujud dalam pendirian home industry di setiap rumah petani kelapa agar mereka dapat menerapkan pengolahan kelapa tersebut secara langsung.
Produk hasil olahan itu kemudian ditampung Bambang untuk dipasarkan. “Enam produk yang disetor oleh para petani akan dihargai sekitar Rp 2.600,00. Harga ini jauh lebih tinggi jika dibandingkan dengan harga kelapa butiran tanpa diolah yang hanya dihargai sekitar Rp 700,00,” terang pria berusia enam puluh tahun ini lebih lanjut.
Pembinaan pengelolaan kelapa yang digagas pria berkacamata ini berhasil membekali petani kelapa dengan keterampilan mengolah hasil panennya. Keterampilan ini terbukti memberikan dampak positif pada penjualan yang lebih tinggi di pasaran. “Melalui pembinaan ini, saya berharap para petani kelapa akan lebih serius dalam menggarap lahannya dan memiliki taraf hidup yang lebih baik,” cetusnya. [Bellisa]












Post new comment