Skip navigation.
Home
Badan Penerbitan Pers Mahasiswa Balairung

Kala Pendidikan Dikritik Lewat Pameran

Send to friendPrinter-friendly version

Pembelokan tujuan pendidikan memunculkan kritik dari jalanan hingga pameran.

Demonstrasi seringkali diidentikkan dengan turun ke jalan, membentuk barisan, dan berteriak-teriak menuntut keadilan. Tapi demonstrasi tidak melulu harus dengan cara seperti itu. Seni mulai dilirik sebagai jalan baru dalam melakukan kritik sehingga penyalurannya lebih menarik. Cara itu sebenarnya sudah banyak dilakukan para demonstran. Mereka menggunakan tubuh untuk melakukan aksi teatrikal dalam demonya. Aksi tersebut dikhawatirkan Agung Kurniawan, kritikus seni yang juga Direktur Artistik Kedai Kebun Forum. Menurutnya, penggunaan tubuh untuk media seni di jalanan hanyalah megaphone aktivisme tanpa perenungan.

Pepatah mengatakan, banyak jalan menuju Roma. Masih banyak bentuk seni lain yang bisa digunakan, seperti pameran dalam ruangan. Jalanan dan ruang adalah dua tempat yang berbeda sehingga seni yang ditampilkan pun memberi efek berbeda. Dengan gambar dan warna, empati para pengunjung jadi lebih tergali. Pesan yang disampaikan pun lebih mudah diingat dan dimengerti.

Anang Saptoto, salah satu penggerak Ruang MES 56 melakukan hal serupa. Ia membuat sebuah pameran tunggal bertajuk Ping Pong Education System berisi kritiknya terhadap kebijakan pendidikan. Pameran ini berlangsung mulai 28 Desember 2009 sampai 11 Januari 2010. Diselenggarakan di basis Ruang MES 56—Nagan Lor 17, Patehan, Kraton, Yogyakarta. Empat tahun silam, ruang pameran tersebut adalah sebuah ruang tamu biasa. Tapi berkat kekreatifan para seniman, ruang itu disulap menjadi galeri yang ciamik.

Anang mengibaratkan sistem pendidikan sebagai penjara formal bagi siswa melalui pamerannya. Ia menghadirkannya dalam bentuk foto siswa SD, SMP, dan SMA serta video. Terpampang foto siswa dengan kepala dililit buku paket yang menggambarkan kebutaan tingkat ekonomi. Hal itu menunjukkan ketimpangan sistem pendidikan. Dimana siswa diwajibkan membeli buku paket tanpa peduli mereka mampu membelinya atau tidak.

Tampak foto siswa dengan kursi kayu yang menutupi kepala di samping foto tadi. Kursi itu diibaratkan sebagai jeruji yang mengekang murid. Sistem pendidikan yang ada menciptakan belenggu bertingkat. Selesai satu jenjang, ada jenjang baru yang harus dilalui. Mereka harus melewati Ujian Nasional (UN) untuk mengakhiri tiap jenjangnya. Standardisasi UN ditetapkan tanpa melihat asal dan fasilitas belajar mereka. Sehingga UN pun memakan banyak korban, seperti tidak lulus, frustasi, sampai nekat bunuh diri.

Selain itu, terdapat meja ping pong yang hanya setengah. Selebihnya berupa tembok dengan proyeksi kompilasi foto buku paket yang dihasilkan proyektor di langit-langit galeri. Buku paket tersebut mencitrakan sistem pendidikan yang terpaku pada buku. Setuju atau tidak, pengunjung bisa menyalurkannya dengan memukul bola kearah proyeksi tersebut.

Uniknya, di antara foto dan video tersebut, berderet beberapa buku kecil di atas papan putih. Dalamnya dituliskan profil para menteri pendidikan Indonesia yang mengusung sistem pendidikan berbeda-beda. Menteri berganti, sistem pun berganti. “Setiap kepala memang memiliki pemikiran masing-masing. Tapi sebagai pembuat kebijakan, pemikiran yang menyangkut hajat hidup rakyat juga harus diperhatikan,” ujar Anang.

Demo pendidikan di jalanan berbeda dengan pameran, baik cara maupun hasil yang didapatkan. Tetapi harapan yang digaungkan memiliki satu tujuan. Sebuah perbaikan sistem pendidikan. [Fitria]

Post new comment

The content of this field is kept private and will not be shown publicly.
  • Web page addresses and e-mail addresses turn into links automatically.
  • Allowed HTML tags: <a> <em> <strong> <cite> <code> <ul> <ol> <li> <dl> <dt> <dd>
  • Lines and paragraphs break automatically.

More information about formatting options

CAPTCHA
This question is for testing whether you are a human visitor and to prevent automated spam submissions.
11 + 2 =
Solve this simple math problem and enter the result. E.g. for 1+3, enter 4.