Jumlah Pulau Terdepan Selisih Delapan
Meski jumlah pulau terdepan nyaris ditetapkan dengan PP, perbedaan perspektif penghitungan memicu selisih.

Perkembangan ilmu pengetahuan dan teknologi penginderaan jauh memang telah mampu mendukung inventarisasi pulau-pulau kecil terdepan beserta pemanfaatannya. Berdasarkan peta yang tersedia dan survei lapangan, ditetapkan 92 pulau terdepan di wilayah Negara Kesatuan Republik Indonesia (NKRI).
Hal itu disampaikan Profesor Riset Badan Koordinasi Survei dan Pemetaan Nasional (Bakosurtanal), Prof. Dr. Aris Poniman, M.Sc pada Seminar Nasional Manajemen Pulau-Pulau Terluar NKRI. Seminar itu diselenggarakan oleh Assosiation of Regional Development and Geographic Information Science Student, Sabtu (23/1) di Ruang I, Fakultas Geografi UGM.
Data dari Bakosurtanal yang disampaikan Aris itu ternyata berbeda dengan temuan Lembaga Penerbangan dan Antariksa Nasional (Lapan). Kepala Pusat Pengembangan Pemanfaatan dan Teknologi Peginderaan Jauh Lapan, Ir. Agus Hidayat, M.Sc., yang menjadi salah satu pemateri seminar mengungkapkan, melalui inventarisasi yang didukung data satelit penginderaan jauh dan informasi, Lapan memperoleh 100 pulau terdepan.
Padahal, menurut Aris, jumlah dan nama pulau terdepan versi Bakosurtanal telah melewati tahap verifikasi dan validasi. Bahkan, dalam waktu dekat akan dikeluarkan Peraturan Pemerintah tentang jumlah dan nama pulau tersebut. “Pulau-pulau itu telah menjadi prioritas pengembangan wilayah,” tambahnya.
Agus menjelaskan bahwa perbedaan perhitungan ini dimungkinkan karena pengaruh pasang-surut air laut. Ia mencontohkan Pulau Bras dan Pulau Fanildo. Kedua pulau ini bersama Pulau Mapia terletak pada satu atol (terumbu karang berbentuk cicin) di utara Papua. “Pada saat surut pulau-pulau seperti ini bisa bersatu, jadi bisa dihitung satu pulau.” [Lita, Foto: Aji]












Post new comment