Indonesia ‘Kecil’ di Gadjah Mada
Oleh: Gading Yonggar Ditya
Mahasiswa Diploma Fakultas Hukum 2008
Universitas Gadjah Mada (UGM) dapat dianggap sebagai “miniatur Indonesia” karena keanekaragaman mahasiswanya. Seiring dengan adanya kemajemukan ini, UGM dihadapkan pada peran optimal dalam mempersatukan para pelajar yang beranekaragam suku dan adat. Tujuannya, tak lain untuk menciptakan nuansa keindonesiaan mini dalam kampus.
Kemudahan dalam penyelenggaraan Ujian Masuk (UM) di berbagai kota dan kabupaten yang diberikan pihak rektorat, dijadikan peluang bagi mahasiswa daerah untuk melanjutkan studi di UGM. Sehingga, dengan kemudahan tersebut, kampus dapat dihuni mahasiswa dari berbagai etnis di Indonesia.
Adanya keanekaragaman mahasiswa menjadi sarana terciptanya komunikasi dan interaksi antarsivitas akademika yang berlainan kebiasaan. Hal tersebut berguna untuk menambah pengetahuan. Khususnya tentang kebudayaan-kebudayaan tiap daerah. Selain itu, dapat juga menjadi ajang pembelajaran terkait dengan nilai-nilai persatuan dan kesatuan antarmahasiswa.
Namun, kehadiran asrama-asrama yang disediakan pemerintah masing-masing daerah memunculkan indikasi adanya pengotak-ngotakan suku dan adat. Selain itu, hal tersebut mempersulit proses adaptasi mahasiswa, terutama bagi mereka yang berasal dari luar Pulau Jawa. Kehadiran asrama daerah juga menghambat terjalinnya interaksi budaya dan berpotensi memunculkan konflik antarmahasiswa.
Sebagai instansi pendidikan, UGM diharapkan tidak hanya memberikan pembekalan ilmu yang bersifat formal. Tetapi, secara tidak langsung memberikan wawasan keindonesiaan kepada para mahasiswa. Dengan demikian, pantaslah UGM disebut sebagai “miniatur Indonesia”. [ ]












Post new comment