Skip navigation.
Home
Badan Penerbitan Pers Mahasiswa Balairung

”Make Health”, Stop Merokok

Send to friendPrinter-friendly version

A. Eka Purnama Putri
Mahasiswa Farmasi 2006

Kesehatan merupakan aset utama manusia untuk menjadi manusia produktif. Seseorang tidak akan mampu melakukan suatu kegiatan dengan baik dan optimal jika dalam keadaan sakit. Kesehatan manusia dapat dibedakan menjadi empat aspek, yaitu sehat jasmani, sehat rohani, sehat sosial, dan sehat ekonomi.

Sehat jasmani merupakan manifestasi dari tubuh dan pikiran yang sehat. Sehat rohani yaitu memiliki hubungan yang baik secara spiritual dengan Sang Pencipta, contohnya mampu melakukan segala perintah sang pencipta dan menjauhi segala larangannya. Hasilnya ditandai oleh adanya ketenangan batin dalam setiap aktivitas. Sehat sosial yaitu mampu bergaul, menempatkan diri, dan bermanfaat bagi lingkungan dan orang-orang di sekitarnya. Sedangkan sehat ekonomi yaitu mampu memenuhi kebutuhan hidup dirinya dan tanggung jawabnya seperti kebutuhan sandang, pangan, dan papan anak-istri. Keempat aspek tersebut saling berkaitan dan jika salah satunya terganggu maka kesehatan yang dirasakan tidaklah seimbang. Keempat aspek kesehatan tersebut merupakan modal agar hidup dapat bahagia dan tentram.

Pada zaman sekarang, kondisi masyarakat Indonesia jauh dari hal tersebut. Kemiskinan, biaya kesehatan yang mahal, dan hedonisme adalah beberapa faktor penyebabnya. Padahal setiap manusia berhak untuk merasakan kesehatan dan wajib menjaga kesehatannya sebagai bentuk rasa syukur kepada Sang Pencipta. Untuk itu, diperlukan tekad dan usaha agar hal tersebut dapat ditanggulangi. Mungkin kita tidak perlu melakukan hal yang besar, kita bisa memulainya dari diri kita sendiri, dari hal-hal yang kecil. Salah satunya dengan cara menghindari rokok atau stop merokok. Mengapa rokok? Lets check it out!

Sejak dulu, rokok telah diklaim oleh ahli kesehatan sebagai perusak tubuh manusia. Hal ini tidak terlepas dari zat-zat beracun yang terkandung di dalamnya dan kerugian moril maupun materil yang diciptakannya. Dengan kata lain, seorang perokok jauh dari kondisi sehat. Kita bisa melihat dari keempat aspek kesehatan.

Pertama, sehat jasmani. Seorang perokok tidak hanya merugikan tubuhnya sendiri tetapi juga merugikan orang-orang sekitarnya yang turut menghisap rokok atau lebih dikenal dengan perokok pasif. Baik perokok aktif maupun perokok pasif, keduanya memiliki resiko menderita penyakit ringan sampai ganas. Merokok dapat berbahaya bagi setiap organ tubuh manusia. Beberapa penyakit yang dapat timbul akibat merokok yaitu abdominal aortic aneurysm, acute myeloid leukemia, cataract, cervical cancer, kidney cancer, pancreatic cancer, pneumonia, stomach cancer, bladder, esophageal, laryngeal, lung dan oral cancers, chronic lung diseases, coronary heart and cardiovascular diseases, as well as reproductive effects dan sudden infant death syndrome.

Selain itu, rokok mengandung lebih dari 4000 senyawa kimia dan sekurang-kurangnya 400 senyawa toksik. Senyawa-senyawa toksik utama dari rokok yaitu tar (karsinogen), nikotin (zat addiktif dan meningkatkan level kolesterol pada tubuh), serta karbon monoksida yang mampu mereduksi oksigen pada tubuh karena berikatan dengan hemoglobin. Walaupun dari penampakan luar seorang perokok kelihatan sehat bugar, tapi dia tidak meyadari telah melakukan penumpukan racun dalam tubuhnya sendiri. Sungguh sangat mengerikan bukan? Seorang perokok dapat menjadi langganan penyakit berbahaya. Selain itu, bayi yang lahir dari seorang ibu merokok selama kehamilan sebanyak dua kali layaknya lahir secara prematur dan dengan bobot tubuh yang lebih rendah. Anak-anak yang tumbuh di rumah di mana salah satu atau kedua orang tuanya merokok memiliki dua kali resiko: asma dan asma bronkitis.

Kedua, sehat rohani. Rokok mengandung nikotin yang bersifat adiktif atau membuat ketagihan. Setiap agama tentu saja mengajak pada kebaikan. Beberapa wujud dari sehat rohani adalah mampu melakukan ibadah dengan khusyuk, memenuhi perintah Tuhannya, tidak merampas hak orang orang lain dan dirinya sendiri. Sehat secara rohani tidak dapat tercapai jika seseorang masih merokok. Mana mungkin ibadah akan khusyuk jika sedang melakukan ibadah terdapat asap rokok, pikiran pun tidak fokus akibat membayangkan kenikmatan dari rokok dan ingin segera menghisapnya. Selain itu, asap rokok dapat menganggu aktivitas pernapasan orang lain, bukankah itu sama halnya dengan mengambil hak orang lain?

Ketiga, sehat sosial. Rokok perlu dihentikan karena berakibat buruk bagi kesehatan perokok itu sendiri juga dapat menimpa orang-orang di sekitar kita. Saat ini, bukan hanya orang dewasa, anak-anak usia sekolah pun sudah banyak yang merokok. Hal tersebut dapat terjadi karena pengaruh orang-orang yang merokok di sekitarnya, serbuan media, dan iklan rokok baik melalui media cetak maupun media elektronik. Anak usia sekolah merupakan aset dan generasi penerus bangsa. Apa jadinya jika kesempatan mereka untuk menimba ilmu, mengasah kreativitas, terganggu oleh penyakit-penyakit ganas yang menimpa mereka di usia muda? Bangsa Indonesia juga yang akan merasa rugi. Selain itu, dengan menghindari rokok maka kita tidak menyebarkan polusi udara.

Keempat, sehat ekonomi. Di Indonesia, harga rokok berkisar diantara Rp 5000-Rp 10.000 per bungkus. Coba kita prediksikan, jika dalam seminggu seseorang menghabiskan satu bungkus rokok, maka dalam sebulan pengeluarannya berkisar antara Rp 20.000-Rp 40.000, setahun dapat mencapai Rp 240.000-Rp 480.000 hanya untuk rokok. Apalagi untuk pecandu rokok kelas berat pengeluarannya bisa lebih besar dari pada itu. Padahal, dana tersebut dapat menjadi modal untuk kebutuhan hidup yang lebih menguntungkan, misalnya biaya sekolah anak, berwirausaha, atau mencukupi kebutuhan hidup baik primer maupun sekunder.

Selain itu, jika seseorang sakit akibat efek buruk rokok seperti menderita asma atau bahkan kanker, maka biaya yang ditanggung akan lebih besar. Mungkin hal tersebut tidak menjadi masalah yang berarti bagi orang kaya, tapi bagaimana dengan orang miskin? Untuk biaya hidup saja sudah sangat berat, apalagi ditambah biaya kesehatan. Hal ini dapat memicu seseorang untuk melakukan tindakan kriminal karena beban hidup yang semakin berat.

Melihat efek buruk bagi kesehatan dari rokok, seyogyanya kita berusaha untuk menghindarinya. Apalagi, sebagai sivitas akademika dalam bidang kesehatan, kita seharusnya memberi contoh bagi masyarakat mengenai pola hidup sehat dan turut andil dalam mewujudkannya. Untuk itu, mari menjaga kesehatan, membuat dunia lebih aman dan tentram dengan stop merokok.[]

Comment viewing options

Select your preferred way to display the comments and click "Save settings" to activate your changes.

Terima kasih, opininya.

membaca opini ini, saya ingin bilang dulu terima kasih pada penulisnya, Putri. Apa yang anda tulis itu bagaimanapun adalah nasihat yang baik, disampaikan dengan baik, dan untuk tujuan yang juga baik.

Tapi ada baiknya juga melihat rokok dalam lingkup yang lebih luas. Saya masih sulit menanggapi positif ajakan stop merokok kalau tidak dibarengi dengan upaya mencari jalan keluar bagi ratusan ribu orang yang sekarang ini nasib ekonominya ada di sekitar produksi rokok. You may say stop, but which one direction we go forward? Dengan ajakan berhenti merokok bukan berarti itu harus menghentikan juga perputaran ekonomi yang ada.

Saya seorang perokok dan aktif. Sudah berkali-kali saya dibilangin untuk berhenti merokok, oleh mereka yang memang benci rokok, atau memang benci saya. hehe. Dan berhenti merokok sebenarnya mudah sekali dilakukan. Saya sudah melakukannya ribuan kali.

Ofa
kom 07

Post new comment

The content of this field is kept private and will not be shown publicly.
  • Web page addresses and e-mail addresses turn into links automatically.
  • Allowed HTML tags: <a> <em> <strong> <cite> <code> <ul> <ol> <li> <dl> <dt> <dd>
  • Lines and paragraphs break automatically.

More information about formatting options

CAPTCHA
This question is for testing whether you are a human visitor and to prevent automated spam submissions.
6 + 0 =
Solve this simple math problem and enter the result. E.g. for 1+3, enter 4.