Bung Hatta dan Perjuangannya

hatta nurani

Judul                        : Mohammad Hatta: Hati Nurani  Bangsa
Penulis                     : Dr. Deliar Noer
Penerbit                  : Kompas
Waktu Terbit         : April 2012
Jumlah Halaman : xvii + 182

“Riwayat hidup seseorang adalah sesungguhnya kisah pergumulan dengan nasibnya.” (Taufik Abdullah)

Mohammad Hatta adalah sosok bapak negeri yang jujur, disiplin, ramah dan sederhana. Ia dikenal sebagai sosok yang religius dan sangat disiplin terhadap waktu. Sejak kecil ia dididik untuk berperilaku dan beribadah secara disiplin. Sosok bung Hatta ini diabadikan dalam buku yang ditulis oleh Dr. Deliar Noer, seorang pakar ilmu politik yang semasa hidupnya sangat akrab dengan Bung Hatta.  Buku ini merupakan edisi baru dari buku pertama yang diterbitkan KITLV  Leiden, Belanda pada 2002. Edisi pertama buku ini diterbitkan dalam bahasa Indonesia dan Inggris, namun sudah tidak beredar lagi.

Buku yang diterbitkan oleh Kompas ini menguraikan tentang perjalanan hidup Bung Hatta dalam berbagai arus peristiwa, dimulai dari masa kecil  hingga akhir hayatnya. Karya Deliar ini pun mengisahkan perjuangan dan pengalaman Hatta sewaktu menjabat sebagai wakil presiden yang pertama.

Deliar membawa pembaca masuk ke dalam tulisannya dengan menguraikan tiap peristiwa secara periodik dan sistematik. Walaupun terasa agak kaku, setiap peristiwa yang dikisahkan cukup mudah dipahami. Kesan tersebut mungkin karena tulisan dalam buku ini tetap dipertahankan seperti edisi perdananya. Namun hal ini tidak mengurangi makna yang ingin disampaikan.

Pada bab pertama, penulis menguraikan tentang masa kecil Hatta, riwayat pendidikan, dan latar belakang keluarganya. Hatta lahir di Bukittinggi pada 12 Agustus 1902 dari keluarga dengan latar belakang Islam yang kental. Mohammad Hatta lahir dengan nama kecil Mohammad Athar, biasa dipanggil Atta oleh keluarga dekatnya. Ayahnya, H. Muhamad Djamil, meninggal saat ia berusia 8 bulan.

Hatta menjalani pendidikan dasar di Bukittinggi. Ia melanjutkan kelas 5 di ELS (Europeesche Lagere School) Padang, yaitu sekolah dasar untuk kulit putih, hingga kelas 7. Kemudian ia melanjutkan pendidikan MULO (Meer Uitgebreid Lager Onderwijs)—sekarang SMP—di   Padang. Setelah lulus dari MULO, Hatta melanjutkan pendidikan di Prins Hendrik School, sebuah sekolah dagang menengah di Jakarta. Disamping belajar ilmu-ilmu umum, Hatta juga belajar ilmu Agama. Hal inilah yang membuat Hatta sangat disiplin dalam menjaga ibadah, akhlak, dan moralnya. Ia juga dikenal sangat tepat waktu dan sangat menjaga pergaulannya. Sifat yang jarang ditemukan pada sosok pemimpin jaman sekarang.

Sejak bersekolah di MULO Hatta telah banyak terlibat dalam pergerakan pemuda. Salah satunya adalah JBS (Jong Sumatranen Bond), sebuah perkumpulan pemuda Sumatera. Di sana ia menjabat sebagai bendahara di kepengurusan pusat. Dalam menjalankan tugasnya sebagai seorang bendahara, ia tidak pernah lalai dan sangat menghargai waktu. Baginya, membuang waktu sama saja dengan membuang kesempatan untuk berproduksi. Suatu ketika Hatta pernah menolak bertemu dengan teman yang datang terlambat, saat berjanji akan bertemu dengannya.  Karena hal ini, banyak koleganya yang menganggap dirinya sombong.
Hatta adalah seorang pribumi yang aktif menyuarakan kemerdekaan melalui pergerakan nasional. Sebagai ketua organisasi Perhimpunan Indonesia, Hatta  merealisasikan gagasannya untuk mengawal Indonesia menuju kemerdekaan. Bahkan, ia pernah berkata tidak akan menikah sebelum Indonesia merdeka. Bukti bahwa Hatta sangat mencintai bangsanya daripada dirinya sendiri. Hatta memandang kemerdekaan bukan hanya simbol kemegahan bangsa, tetapi juga untuk kemanusiaan dan peradaban.

Ia banyak memberi kritik terhadap pergerakan nasional di Indonesia yang dianggapnya tidak mencerminkan kepribadian bangsa. Hatta pernah mengkritik Soekarno karena dianggap tidak konsisten dalam menjalankan tuntutan nonkooperasi dengan  Belanda. Pada saat itu, Hatta marah besar karena Soekarno mengirimkan surat yang berisi penyesalannya kepada pemerintah Belanda. Soekarno menulis akan berhenti melakukan pergerakan politik yang menentang pemerintah. Ia juga menulis akan bekerja sama dengan pemerintah Belanda. Hatta mengecam tindakan Soekarno ini dengan menulis “Tragedie Soekarno” dalam Daulat Ra’jat edisi 30 November 1933.

Hatta sangat menekankan pergerakan nasional yang disertai kesadaran, bukan asal beramai-ramai mendendangkannya. Hatta selalu memikirkan solusi sebuah masalah secara mendalam. Baginya, setiap keputusan yang diambil harus melalui pertimbangan yang matang. Ia selalu memperhatikan berbagai aspek yang berpengaruh dalam masalah. Memang dalam hal ini, Hatta lebih rasional dibandingkan Soekarno yang dinilai emosional.

Saat menjabat sebagai wakil presiden mendampingi Soekarno, hubungan di antara keduanya terjalin sangat baik. Tidak ada yang tahu mengapa kedua tokoh ini menjadi begitu akrab dan mesra. Setiap keputusan selalu mereka tetapkan berdua. Sangat jarang terlihat perselisihan paham pada masa ini. Padahal, pada masa-masa pergerakan nasional Hatta sering berbeda pendapat dengan Soekarno. Bahkan, tidak jarang timbul konflik di antara keduannya. Hatta lebih berhati-hati dalam mengambil keputusan. Meskipun begitu Hatta selalu bersikap tegas dalam mempertahankan keputusannya. Ia tidak gegabah, tetapi berani dan konsisten.

Kisah tentang hubungan Hatta dengan Soekarno banyak ditulis dalam karya ini. Cerita-cerita tentang perselisihan pendapat dan kemesraan kedua proklamator tersebut membuat buku ini menjadi menarik untuk dibaca. Seperti yang ditulis dalam kata pengantar oleh Dr. Taufik Abdullah, “Buku persembahan ini memperlihatkan juga aspek yang lebih humoris dan manusiawi dari Hatta” (hlm. xii). Buku ini merangkum peristiwa-peristiwa yang melibatkan Hatta dari sisi nonformal. Walaupun saat membacanya terkesan seperti membaca buku pelajaran sejarah, kisah inspiratif yang disajikan penulis tetap layak dinikmati.
Karya  ini juga menyajikan kumpulan foto Bung Hatta dalam berbagai peristiwa. Mulai dari masa kecil bersama keluarga hingga masa-masa perjuangan bung Hatta bersama tokoh pergerakan nasional. Adanya kumpulan foto ini membuat alur cerita yang dikisahkan dapat tervisualisasi dengan baik oleh pembaca. [Annisa Lailatul Fitria]

Tulisan Terkait:

Leave a Reply

Your email address will not be published.

You may use these HTML tags and attributes: <a href="" title=""> <abbr title=""> <acronym title=""> <b> <blockquote cite=""> <cite> <code> <del datetime=""> <em> <i> <q cite=""> <strike> <strong>