Tanggung Jawab Bersama Keamanan Kampus

afnan. bal

afnan. bal

afnan. bal

Perampokan disertai penusukan belum lama ini terjadi di lingkungan rektorat. Peristiwa ini membuat SKKK dituduh lalai menjalankan tugas, padahal keamanan merupakan tanggung jawab seluruh entitas kampus, tak terkecuali mahasiswa.

Qori Indra tidak pernah menyangka bahwa Rabu (19/4) lalu adalah malam naas baginya. Mahasiswa Ilmu Komunikasi 2011 ini menjadi korban perampokan pada kali pertama ia menggunakan wifi di halaman sisi utara rektorat. Ketika sedang sibuk mengakses internet, tiga orang bersenjata tajam mendatangi dan merampas laptop dan barang berharga miliknya. “Saya tidak menyadari kehadiran pelaku sampai salah satu dari mereka mengalungkan celurit ke leher saya,” tuturnya.

Pelaku yang berjumlah tiga orang tersebut juga sempat merogoh saku celana Qori untuk mengambil uang beserta kunci sepeda motor miliknya.  “Mereka sudah sempat menyalakan motor saya, tapi belum sempat diambil,” tambahnya.

Qori juga mengisahkan tentang korban lainnya, Khoiri Wardi. Ketika mengetahui Qori diancam menggunakan celurit, Mahasiswa S2 Psikologi itu mencoba menyelamatkan diri. Ia berlari sambil  membawa laptopnya ke arah Jalan Kaliurang. Namun, pelaku menyadari tindakan tersebut dan langsung menyerang Khoiri yang saat itu sempat terjatuh. “Dia mendapat luka bacok di bagian perut karena kejadian tersebut,” tutur Qori.

Salah satu penyebab perampokan yang terjadi di depan Gedung Rektorat UGM itu, menurut Kompol Bashori, adalah kelalaian dari SKKK. Kapolsek Bulaksumur itu mengatakan bahwa SKKK yang sedang berjaga seharusnya dapat melihat gelagat mencurigakan dari pelaku. Terlebih, pelaku tetap menggunakan penutup mulut dan helm saat mulai mendekati korbannya. “Satpam yang melihat itu seharusnya langsung bertindak,” ujarnya.

Dalam penyidikan kasus ini, Bashori juga menilai bahwa SKKK masih kurang kooperatif. Hal ini membuat pihak kepolisian agak kesulitan saat ingin meminta keterangan saksi dan mengadakan rekonstruksi kejadian. “Seakan-akan penyidikan kasus diserahkan sepenuhnya pada polisi, padahal kan ada tanggung jawab juga sebagai pihak keamanan,” ungkapnya.

Sebagai bentuk tanggung jawab, Bashori berpendapat bahwa petugas SKKK dapat menegur mahasiswa yang menggunakan wifi hingga larut malam. Hal ini dilakukan untuk menghindari kejadian serupa terulang. “SKKK punya wewenang untuk menegur mahasiswa,” tambahnya.

Meskipun enam pelaku pembacokan dan perampokan telah tertangkap pada Senin (30/4) lalu, permasalahan keamanan kampus tak bisa dianggap selesai. Pasalnya, kejadian yang menimpa Qory dan Khoiri tersebut bukan yang pertama kali terjadi di lingkungan UGM. Pada tahun 2010 lalu, warga UGM sempat dikejutkan dengan perampasan sepeda motor dengan senjata tajam yang menimpa Bara Ekiyama, Mahasiswa Hubungan Internasional 2010. Tidak hanya itu, Mei 2011 lalu dua motor milik mahasiswa MIPA hilang di kampus Fakultas MIPA bagian utara. Sementara itu, tiga motor lainnya mengalami kerusakan di bagian kunci lubang kontak.

Sementara itu, Noor Hadi memberikan konfirmasi di tempat terpisah. Kepala SKKK itu membantah pihaknya lambat dalam menjaga keamanan di UGM. Terkait peristiwa pembacokan di rektorat, ia mengaku pihaknya telah cukup responsif. “Anggota kami langsung datang ke lokasi setelah kejadian terjadi, jika anggota kami tidak merespon dengan cepat, mungkin bisa berakibat fatal bagi korban,” ujarnya. Tudingan Kapolsek Bulaksumur yang menilai pihaknya kurang kooperatif dengan pihak kepolisian juga dibantahnya dengan tegas. “Kami telah melakukan laporan sesuai prosedur yang berlaku, justru pihak kepolisian yang hingga kini belum menghubungi kami lagi. Bahkan police line di TKP juga belum dilepas,” tegasnya saat diwawancarai pada (27/4) lalu.

Terkait pengamanan kendaraan bermotor, Noor Hadi mengatakan bahwa pihaknya sudah mengingatkan agar mahasiswa tidak memarkir kendaraannya di luar pagar sisi barat. “Kami sudah berulangkali mengingatkan agar tidak parkir disitu, namun kenyataannya masih banyak yang tidak mematuhi,” lanjutnya.

Ia menambahkan sebenarnya ada 140 orang personil SKKK  yang melakukan pengamanan. Mereka dibagi rata dalam 3 sif setiap harinya. Daerah rektorat sendiri dijaga oleh 8 orang tiap malamnya, termasuk pada malam ketika pembacokan terjadi “Saat itu ada dua orang yang berjaga di pos, yang lainnya patroli,” ujarnya.

Menurut Noor Hadi, pihak SKKK juga tidak mungkin dapat memantau satu per satu pengunjung rektorat yang berasal dari berbagai kalangan. Ia menerangkan bahwa pihaknya pernah berinisiatif untuk membuat form bagi pengunjung rektorat pada malam hari. Penggunaan form bertujuan agar pihaknya dapat mengidentifikasi setiap pengunjung yang datang ke rektorat. “Tapi banyak pihak yang memprotes kebijakan tersebut, padahal itu untuk kepentingan para pengunjung,” ujarnya.

Menyadari penggunaan form kurang berhasil, anggota SKKK berusaha menegur mahasiswa yang berada di rektorat hingga larut malam. Sukron M, salah satu anggota SKKK menerangkan, pihaknya beberapa kali berusaha mengingatkan mahasiswa, tapi terkadang mahasiswa sendiri tidak begitu memperhatikan teguran tersebut. “Mahasiswa sendiri terkadang yang tidak menggubris teguran, bahkan ada yang tidak khawatir kejadian yang sama terulang,” tuturnya.

Salah satu pengguna wifi di halaman rektorat adalah Andriani. Mahasiswa Teknik Geodesi 2010 ini mengaku bahwa ia terkadang kesal mendengar teguran dari SKKK. “Kadang sebel juga kalau diingatkan, sebab kami butuh untuk mengerjakan tugas, jadi ya dilanjutkan saja,” terangnya. Hal serupa juga dialami oleh Salman, mahasiswa Kehutanan 2009.  Ia mengaku beberapa kali ditegur oleh SKKK saat menggunakan wifi di gedung Rektorat. “Kalau ditegur ya saya pergi, tapi setelah petugas pergi, saya kembali ke sini (rektorat-red),” ujarnya.

Setelah kejadian perampokan disertai pembacokan tersebut, pintu yang menghubungkan Jalan Kaliurang dengan Rektorat mulai ditutup pukul 21.00. Untuk mengantisipasi mahasiswa yang masih nekat mengakses internet, mulai pukul 21.00 pihaknya akan memutus koneksi internet di wilayah rektorat. “Ini merupakan langkah antisipasi agar peristiwa serupa tidak terulang,” ujarnya.

Noor Hadi juga telah meminta staffnya untuk lebih waspada dan merutinkan patroli. Ia mengakui bahwa saat ini pihaknya memang masih memiliki kekurangan. “Jumlah personil yang ada kurang ideal untuk mengcover seluruh area UGM,” jelasnya

Meskipun begitu, Noor Hadi berpendapat bahwa semua warga UGM seharusnya dapat saling bekerjasama dalam menjaga keamanan kampus. Kekurangan itu bisa diatasi jika civitas academica sepakat dan  kompak dalam menaati peraturan yang berlaku. “Mematuhi aturan merupakan langkah awal untuk mengamankan diri,” pungkasnya. [Dimas Yulian, Shiane Anita Syarif, Yuliana Ratnasari]

 

 

Tulisan Terkait:

Leave a Reply

Your email address will not be published.


6 + = 10

You may use these HTML tags and attributes: <a href="" title=""> <abbr title=""> <acronym title=""> <b> <blockquote cite=""> <cite> <code> <del datetime=""> <em> <i> <q cite=""> <strike> <strong>