Panggung Bebas, Seni dalam Komunitas Berbeda

Jumat (4/5), Keluarga Rapat Sebuah Theater (KRST) Fakultas Psikologi menggelar panggung bebas. Acara yang diselenggarakan di kantin Psikologi ini berlangsung sejak pukul 17.00 sampai 22.00. Panggung bebas tidak hanya diperuntukkan bagi anggota KRST, seluruh mahasiswa yang beminat diperbolehkan tampil. Mahasiswa dari Institut Seni Indonesia (ISI) dan pegiat Deaf Art Community (DAC) turut unjuk gigi di atas panggung ini. “Semua orang dari fakultas manapun boleh ikut, bahkan kalau mau tampil dadakan juga bisa,” ujar Rifky Prasetya, Kepala Keluarga KRST.

Menurut Rifky, panggung bebas diselenggarakan untuk menyegarkan kembali pikiran mahasiswa di sela rutinitas kuliah mereka. Persiapan yang dilakukan untuk acara ini sangat minim. “Kegiatan ini tidak ada di program kerja, tapi apa salahnya kita buat acara yang bisa memfasilitasi teman-teman menunjukkan bakat mereka,” tambahnya.

Panggung bebas dibuka dengan pertunjukan sinden dari KRST. Selanjutnya, beberapa kelompok mahasiswa dari Fakultas Psikologi juga turut meramaikan panggung dengan pertunjukkan musik. Selain itu, beberapa anggota KRST juga menyanyikan lagu My Valentine dari Paul Mc Cartney yang diiringi dengan gerakan dalam bahasa isyarat.

Setelah jeda Maghrib, sekitar pukul 18.30, acara dilanjutkan dengan penampilan dari Deaf Art Community (DAC). Kesembilan remaja tuna rungu memulai pertunjukkan mereka dengan puisi isyarat yang diiringi musik. Gerakan isyarat tersebut menggambarkan kehidupan mereka terlahir sebagai seorang tuna rungu yang selalu dianggap tidak sempurna. Meskipun begitu, mereka yakin bahwa kemampuan yang dimiliki tidak kalah dengan orang lain.

Selain puisi isyarat, DAC juga menampilkan dance hiphop dan break dance. Tarian tersebut diiringi musik yang keras dari beatbox. Dentuman musik sengaja dibuat keras agar penari dapat merasakan irama musik dengan debaran jantungnya. Penonton mengangkat kedua tangan mereka sebagai ganti tepuk tangan, hal ini merupakan bentuk apresiasi yang dapat dipahami oleh teman-teman tuna rungu. “Rangkaian puisi isyarat dan dance yang ditampilkan DAC merupakan hasil karya mereka sendiri,” terang Broto Wijayanto, Pembina DAC.

Acara dilanjutkan dengan pembacaan puisi berjudul Bersatulah Pelacur-Pelacur Kota Jakartakarya WS Rendra oleh dua orang mahasiswa Psikologi. Anggota KRST juga berkolaborasi dengan mahasiswa Psikologi lainnya untuk menampilkan pertunjukkan drama. Tidak ingin kalah dengan juniornya, alumnus KRST juga turut tampil untuk membaca puisi dan bermain musik. Panggung bebas juga diramaikan oleh tamu dari ISI yang menyanyikan beberapa lagu ciptaan mereka sendiri sambil bertelanjang dada.

Azizah Suli, salah seorang penonton, berpendapat bahwa penampilan dari DAC adalah penampilan paling berkesan yang ada di panggung bebas malam itu. “Acara ini sangat menarik, sebab panggung bebas memberi kebebasan pada mahasiswa untuk berekspresi. Saya sangat mengapresiasinya,” ujar Mahasiswa Psikologi itu.

Rifky berharap panggung bebas dapat menjadi pemicu kreativitas bagi mahasiswa, terutama anggota KRST. Acara ini rencananya akan diagendakan menjadi acara rutin KRST. “Akan saya usahakan panggung bebas ada setiap dua bulan sekali,” pungkasnya. [Hamzah Zhafiri Dicky, Shiane Anita Syarif]

 

 

 

 

 

 

 

 

Tulisan Terkait:

Leave a Reply

Your email address will not be published.

You may use these HTML tags and attributes: <a href="" title=""> <abbr title=""> <acronym title=""> <b> <blockquote cite=""> <cite> <code> <del datetime=""> <em> <i> <q cite=""> <strike> <strong>