Konser Perdana GMCO: dari Klasik ke Modern

Konser Gadjah Mada Chamber Orchestra (GMCO) yang bertajuk“A journey from classic to modern”. Konser berlangsung di gedung Pusat Kebudayaan Hardjo Soemantri, Minggu malam (27/2). “Konser ini bertujuan agar GMCO dapat lebih dikenal tidak hanya oleh civitas akademika UGM tetapi juga masyarakat luas” ungkap Pandu Sri Alam Wijayanto, Ketua panitia. Antusiasme masyarakat terlihat dari ludesnya tiket yang disediakan. Seharusnya konser diadakan bulan November 2010, namun erupsi Merapi membuat pelaksanaan konser diundur.

Konser dimulai dengan repertoar Divertimento no.2 in major karya Mozart. Musik bertempo cepat dengan nuansa ceria menjadi pembuka lagu-lagu selanjutnya yang dimainkan apik. Repertoar selanjutnya, GMCO memainkan musik latar Final Fantasy bertajuk Nubuo Umetsu. Setelah itu, repertoar Medley berbagai tembang dolanan berjudul Tanah Jawi dimainkan dengan rancak dan menarik. Sesuai dengan tema dari klasik menuju modern, GMCO menampilkan kemampuan menggarap repertoar klasik karya komposer besar sekelas Mozart, Bach dan Vivaldi. Dari era modern, GMCO menampilkan repertoar soundtrack ternama seperti August Rhapsody musik latar August Rush, Nubuo Uematsu musik latar Final Fantasy, dan Gabriel’s Oboe musik latar The Mission. GMCO juga menampilkan repertoar bernuansa lokal seperti Tanah Jawi dan Jali-Jali.

Seluruh penonton terdiam setiap kali repertoar sedang dimainkan. Alunan musik orkestra yang dimainkan GMCO seperti membius para penonton untuk tetap duduk. Setelah lagu selesai dinyanyikan, tepuk tangan membahana memenuhi ruangan. Total 11 repertoar dimainkan orkestra, sementara empat repertoar dimainkan oleh solois. Tampilan solois tersebut menunjukkan betapa GMCO memiliki personil yang handal.

Acara dibagi menjadi dua sesi dengan istirahat lima belas menit di antara sesi tersebut. Di sesi kedua, bintang tamu Anggito Abimanyu membuktikan kemampuan bermain flute. Bersama Koala Band membawakan 3 repertoar. Di sesi kedua pula, konduktor Singgih Sanjaya sekali lagi membuktikan tangan dinginnya mengatur jalannya repertoar. Konser yang membuat penikmatnya duduk terpana di kursi masing-masing diakhiri Farandole, repertoar yang menceritakan kegembiraan rakyat Prancis menyambut panen. Berakhirnya lagu penutup disambut dengan tepuk tangan membahana disertai standing applause.

“Berkesan sekali, bintang tamu Anggito Abimanyu mampu membuat suasana semakin hidup” kata Muhammad Luthfan Herdyanto, mahasiswa Hubungan Internasional UGM 2010. Penampilan GMCO yang menarik sayangnya tidak diimbangi sistem tata suara yang baik. “Secara keseluruhan sudah bagus, sayangnya tata suara kurang maksimal” ungkap Atria Sandhy Setyarez, mahasiswa Manajemen UGM 2007. [Ali]

Tulisan Terkait:

  • Tidak Ada Tulisan Terkait

Leave a Reply

Your email address will not be published.

You may use these HTML tags and attributes: <a href="" title=""> <abbr title=""> <acronym title=""> <b> <blockquote cite=""> <cite> <code> <del datetime=""> <em> <i> <q cite=""> <strike> <strong>